Bab 5: Kapur dan Papan Tulis – Khairi Kandangan, sang calon guru SD

Bab 5: Kapur dan Papan Tulis – Khairi Kandangan, sang calon guru SD

Lev
0
Simak kisah inspiratif 5 sahabat perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga kisah cinta Islami


Tahun 2013 – Kampus FKIP ULM

Jika Muhammad Hifni adalah suara perubahan dan Nazib adalah deru mesin digital, maka Khairi adalah personifikasi dari kesabaran yang tak bertepi. Pemuda asal Kandangan, Hulu Sungai Selatan, ini memiliki pembawaan yang sangat lembut, khas orang Dodol—begitu teman-temannya sering meledek karena Kandangan terkenal dengan penganan manisnya tersebut.

Khairi memilih jalan hidup yang mulia namun sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang: Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Di tahun 2013, saat teman-temannya sibuk berdebat soal birokrasi negara atau bahasa pemrograman tingkat tinggi, Khairi justru sibuk belajar cara menggambar apel yang sempurna di papan tulis dan mempraktikkan nyanyian anak-anak di depan cermin kamar kosnya.

"Satu-satu... aku sayang Ibu... dua-dua... juga sayang Ayah..."
Suara nyanyian Khairi yang mendayu-dayu seringkali tembus ke kamar sebelah, memancing tawa dari Nazib. "Khairi! Kamu itu mau jadi guru SD atau mau ikut audisi idola cilik? Suaramu itu bikin aku gagal fokus ngerjakan koding!" teriak Nazib dari kamarnya.

Khairi hanya menyembul dari balik pintu sambil nyengir, memegang penggaris kayu panjang. "Ini namanya metode edutainment, Zib. Kamu nggak akan paham. Anak-anak SD itu dunianya bermain, jadi gurunya harus bisa jadi badut sekaligus pahlawan."

Hidup Khairi di Banjarmasin adalah tentang kesederhanaan. Sebagai anak seorang pensiunan guru honorer di Kandangan, ia tahu betul arti menghemat uang kiriman. Di saat Hifni sesekali nongkrong di kafe untuk diskusi organisasi, Khairi lebih memilih tetap di kos, menyetrika baju kuliahnya sendiri sampai licin sempurna, atau membantu Amin menyiram tanaman di halaman.

Tantangan terbesar Khairi muncul saat mata kuliah "Keterampilan Tangan dan Kesenian". Ia harus membuat berbagai prakarya dari bahan bekas. Kamar Khairi seringkali berubah menjadi gudang kardus, botol plastik, dan guntingan kertas lipat.

"Kalian tahu tidak?" ujar Khairi suatu malam saat mereka sedang berkumpul. "Di Kandangan, banyak anak-anak pintar yang putus sekolah karena nggak punya motivasi. Aku ingin balik ke sana nanti, bukan cuma buat mengajar matematika, tapi buat meyakinkan mereka kalau sekolah itu menyenangkan."

Satu sisi yang paling lucu dari Khairi adalah ketertarikannya pada kerapian. Ia adalah satu-satunya anak kos yang rajin membersihkan kamar mandi tanpa harus disuruh. "Hati yang bersih dimulai dari tempat buang hajat yang bersih," begitu filosofi nyelenehnya yang selalu membuat Irvan Zidni mengangguk setuju sambil memuji nilai Islami di baliknya.

Pernah suatu kali, Khairi harus menjalani praktik mengajar perdana di sebuah SD negeri dekat pasar. Ia pulang dengan kemeja yang penuh coretan spidol dan wajah lelah, namun matanya berbinar. "Tadi ada murid yang panggil aku 'Pak Guru'. Rasanya... lebih bangga daripada dapat lotre, Hif," ceritanya pada Hifni dengan penuh haru.

Di antara lima sahabat itu, Khairi mungkin bukan yang paling menonjol secara intelektual, tapi dialah yang paling sering mendengarkan keluh kesah sahabat-sahabatnya. Ia adalah pendengar yang baik, pemberi saran yang tulus, dan calon pendidik yang sedang menempa mentalnya di kerasnya aspal Banjarmasin.

Bagi Khairi, kapur dan papan tulis bukan sekadar alat kerja. Itu adalah senjatanya untuk mengubah nasib anak-anak di Hulu Sungai Selatan. Sambil merapikan tumpukan kertas karton di pojok kamarnya, Khairi tersenyum, membayangkan suatu hari nanti ia akan berdiri di depan kelas yang sesungguhnya

Lanjut ke Bab 6: Tanah Martapura – Amin dan Mimpi Swasembada Pangan di Pertanian

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default