BAB 5: Perawat Gigi yang Takut Gigi (Dilema Besar Dina Selvina)

BAB 5: Perawat Gigi yang Takut Gigi (Dilema Besar Dina Selvina)

Lev
0
Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.

Memasuki bulan ketiga di tahun 2013, sebuah ironi besar terungkap di Kamar Nomor 5. Dina Selvina, gadis Amuntai yang paling rapi dan rajin membersihkan rak sepatu, ternyata memiliki satu rahasia besar yang mengancam kelangsungan kuliahnya: Ia takut melihat darah dan merasa mual setiap kali melihat barisan gigi yang tidak rapi.

Sore itu, Dina pulang ke kos dengan wajah pucat pasi. Ia langsung merebahkan diri di lantai tanpa melepas sepatu ketsnya—sebuah pemandangan langka bagi seorang Dina yang sangat menjaga kebersihan.

"Kenapa, Din? Habis lihat hantu di kampus?" tanya Eva Putri Mylin yang sedang sibuk membersihkan debu di kipas angin kecilnya.

Dina hanya mengerang pelan. "Lebih buruk dari hantu, Va. Tadi praktikum pertama... kami disuruh memeriksa karang gigi manekin yang sudah dibuat semirip mungkin dengan manusia. Begitu aku buka mulutnya, aku langsung merasa duniaku berputar."

Rina Rufida yang baru saja pulang dari perpustakaan FKIP ikut duduk di samping Dina. "Lho, bukannya kamu memang ambil jurusan Perawat Gigi karena keinginan sendiri?"

Dina duduk dengan lemas. "Iya, dulu pikirku jadi perawat gigi itu keren, pakai baju putih bersih, kerja di klinik yang wangi. Aku tidak terpikir kalau tugas utamanya adalah berhadapan dengan liur dan darah orang lain setiap hari! Tadi saat dosen menjelaskan cara mencabut gigi bungsu, aku hampir pingsan."

Misi Penyelamatan Dina

Melihat sahabatnya terpuruk, Abdalia Ulfah—sang "Ibu Kos" bagi mereka berlima—menghentikan aktivitas memasaknya. Ia membawakan segelas teh manis hangat untuk Dina.

"Dina, dengerin aku," ujar Abdalia tenang. "Waktu aku pertama kali masuk PGSD, aku juga takut menghadapi anak kecil yang rewel. Tapi kuncinya adalah pembiasaan. Kamu cuma kaget."

"Tapi ini beda, Lia!" seru Dina. "Bagaimana kalau nanti aku harus menangani pasien sungguhan dan aku malah pingsan di atas badan pasiennya?"

Fatimah yang sedang membaca novel sastra di sudut ruangan tiba-tiba bersuara dengan nada puitis, "Ketakutan adalah bayang-bayang yang tercipta karena kita memunggungi cahaya. Kamu harus menghadapi 'gigi' itu sebagai jembatan menuju mimpimu membantu orang banyak, Din."

"Fatimah, ini urusan medis, bukan urusan sajak!" potong Eva sambil tertawa. "Tapi aku punya solusi teknologi. Sini, Din. Kita cari video edukasi di YouTube pakai modemku. Kita tonton pelan-pelan sampai kamu terbiasa melihat prosedur gigi."

Malam itu, terjadilah pemandangan unik di Kamar Nomor 5. Kelima mahasiswi itu berkumpul di depan laptop Eva yang layarnya hanya 14 inci. Mereka menonton video prosedur pembersihan karang gigi sebagai "terapi paparan" untuk Dina.
"Aduh! Itu apa yang disemprotkan?" jerit Dina sambil menutup mata dengan bantal.

"Itu cuma air, Din! Buka matamu!" seru Rina gemas.

Hikmah dari Sebuah Ketakutan

Setelah satu jam "terapi" paksa dari para sahabatnya, Dina mulai bisa melihat layar tanpa berteriak. Meskipun masih merasa mual, ia mulai menyadari sesuatu. Sahabat-sahabatnya bersedia meluangkan waktu—bahkan mengorbankan jatah kuota internet yang mahal di tahun 2013—hanya untuk menemaninya mengatasi rasa takut.

"Kalian kenapa sih mau repot-repot begini?" tanya Dina haru.
Rina menepuk bahu Dina. "Karena kalau kamu berhenti kuliah sekarang, siapa nanti yang bakal meriksa gigi kami gratis kalau kami sakit gigi karena kebanyakan makan cokelat?"

Tawa pecah di kamar itu. Dalam Islam, mereka teringat pesan bahwa “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari & Muslim).

Malam itu, Dina tidak lagi memimpikan gigi yang mengerikan. Ia bermimpi tentang sebuah klinik kecil di Amuntai, di mana ia bisa membantu warga desanya tersenyum lebar dengan gigi yang sehat. Rasa takut itu masih ada, tapi dukungan dari Rina, Eva, Abdalia, dan Fatimah membuatnya jauh lebih berani menghadapi hari esok.

Insight untuk Pembaca:

Kampus Kesehatan di Banjarmasin: Tahun 2013-2026, Poltekkes Kemenkes Banjarmasin tetap menjadi salah satu tujuan utama mahasiswa kesehatan di Kalsel.

Kehidupan Mahasiswa: Cerita ini mencerminkan fenomena "salah jurusan" atau ketakutan awal mahasiswa yang sering dialami oleh maba (mahasiswa baru).

Pesan Moral: Dukungan sosial (sahabat) adalah faktor kunci dalam keberhasilan akademik dan kesehatan mental mahasiswa rantau.

Lanjut ke Bab 6: Coding dan Air Mata (Tengah Malam Eva Putri di Depan Layar Biru)...

Apakah laptop Eva akan selamat dari serangan virus, atau justru ia yang stres menghadapi tugas algoritma? Jangan lewatkan bab selanjutnya!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default