Suasana di Warung Kopi Amang Iwan, salah satu kedai kopi tertua di sekitar Jalan Ahmad Yani, Palangkaraya, tampak riuh malam itu. Aroma kopi robusta yang diseduh secara tradisional bercampur dengan wangi pisang goreng hangat. Di pojokan yang paling remang, tiga pria duduk melingkar dengan wajah seserius anggota dewan yang sedang membahas anggaran negara.
Zaki, Fahri, dan Imran sengaja memilih meja paling belakang agar tidak ada "mata-mata" (alias teman arisan istri mereka) yang melihat.
"Saudara-saudara sekalian," Zaki membuka pembicaraan dengan nada rendah. "Status kita saat ini adalah: Waspada Satu. Istri saya, Siti Nurhaliza, baru saja memesan poster aktor Korea ukuran life-size untuk dipasang di ruang tamu. Saya hampir saja memberikan salam takzim kepadanya karena saya pikir itu adalah tamu sungguhan."
Fahri menggebrak meja pelan, wajahnya tampak lelah. "Itu belum seberapa, Zak. Krisdayanti baru saja mendaftarkan saya ikut kelas public speaking bahasa Inggris secara daring. Dia ingin saya bicara seperti pembaca nominasi Piala Oscar. Padahal, bicara bahasa Indonesia yang formal saja saya masih sering tercampur logat Banjar dan Dayak."
Imran hanya menghela napas, ia tampak yang paling menderita. "Hermione lebih parah. Dia sekarang mulai memasang kamera pengawas di rumah, bukan untuk maling, tapi katanya untuk merekam 'momen dramatis' kalau-kalau saya melakukan kesalahan kecil agar bisa dijadikan konten video ala sinetron reality show."
Ketiganya terdiam. Seorang pelayan datang mengantarkan kopi jahe dan kacang rebus. Setelah pelayan itu pergi, Zaki kembali memimpin "sidang".
Operasi "Kembalikan Remot"
"Kita tidak bisa begini terus," ujar Zaki. "Kita ini kepala rumah tangga. Kita harus punya strategi untuk menyeimbangkan pengaruh layar kaca di rumah kita. Saya menyebutnya: Operasi Khidmat."
"Apa itu?" tanya Fahri dan Imran serempak.
"Pertama," Zaki menjelaskan, "Setiap jam delapan malam, kita harus memulai 'Program Ngaji Bareng'. Mereka tidak akan berani menyalakan TV atau laptop kalau suaminya sudah membentangkan sajadah dan membuka Al-Qur'an dengan suara merdu. Ini adalah benteng paling syar'i untuk menghentikan drakor, hollywood, maupun sinetron."
Fahri manggut-manggut. "Brilian. Ibadah jalan, hobi istri terhenti sementara. Tapi bagaimana kalau mereka malah mengajak kita ngaji kilat supaya bisa lanjut nonton?"
"Itulah gunanya strategi kedua," lanjut Zaki. "Kita harus memperpanjang durasi kultum setelah shalat. Bahas topik yang berat-berat, seperti sejarah peradaban Islam di Andalusia atau tafsir mimpi Ibnu Sirin. Biasanya, setelah sepuluh menit ceramah, mereka akan mengantuk dan lupa pada Oppa atau aktor Hollywood mereka."
Imran mencatat di ponselnya. "Lalu bagaimana dengan Hermione? Dia suka sekali adegan hujan-hujanan. Kalau aku ajak ngaji, dia mungkin malah mau bikin video aesthetic 'Tadarus di Bawah Gerimis'."
Zaki memutar otak. "Untuk Hermione, kamu harus pakai taktik 'Plot Twist'. Setiap kali dia mulai berakting drama, kamu harus membalasnya dengan logika yang lebih aneh. Kalau dia menangis tanpa sebab, kamu harus ikut menangis lebih kencang sampai dia bingung dan akhirnya berhenti sendiri."
Kejutan di Akhir Rapat
Baru saja mereka hendak bersulang dengan gelas kopi masing-masing sebagai tanda sepakat, tiba-tiba ponsel mereka bergetar secara bersamaan. Ada notifikasi masuk dari grup WhatsApp keluarga masing-masing.
Zaki membuka pesannya: "Mas, besok malam ada pengajian akbar di Masjid Raya Darussalam. Kita bertiga (Siti, Krisdayanti, Hermione) sudah janjian mau berangkat bareng pakai seragam gamis yang sama. Mas Zaki, Mas Fahri, dan Mas Imran harus ikut jadi pengawal ya!"
Ketiga pria itu saling pandang. Ada kilat kelegaan di mata mereka.
"Alhamdulillah," ucap Imran tulus. "Ternyata meskipun mereka terobsesi dengan TV, kalau sudah urusan akhirat, mereka masih ingat jalan pulang."
"Tapi tunggu," Fahri membaca lanjutan pesan dari Krisdayanti. "P.S: Seragam kalian sudah aku siapkan. Mas Fahri pakai jas ala bodyguard Hollywood, Mas Zaki pakai baju koko gaya desainer Seoul, dan Mas Imran pakai baju yang mirip pemeran utama sinetron religi di Jakarta. We love you, husbands!"
Zaki menyandarkan punggungnya ke kursi rotan. "Rencana kita gagal sebelum dimulai, kawan-kawan. Kita tetap akan menjadi 'properti' dari hobi mereka, bahkan di masjid sekalipun."
Fahri tertawa getir sambil mengupas kacang rebus. "Ya sudahlah. Selama mereka bahagia dan tetap berada di jalan yang benar, biarlah kita jadi suami-suami takut istri yang paling fashionable di Palangkaraya."
Malam itu berakhir dengan tawa kecil mereka. Meski sering menjadi korban hobi unik istri-istri mereka, ketiganya sadar bahwa di balik semua drama itu, ada cinta yang besar yang membuat rumah tangga mereka tetap kokoh di tengah terpaan tren dunia.
Rekomendasi untuk Pembaca:
Bagaimana hebohnya pengajian akbar dengan 'pengawalan' tiga suami dengan kostum berbeda ini? Apakah mereka akan menjadi pusat perhatian di Masjid Raya Darussalam?
Baca Selanjutnya: Bab 6: Saat Siti Nurhaliza Memaksa Zaki Belajar Bahasa Korea untuk Keperluan Taaruf Ulang
Pesan Moral:
Keluarga yang bahagia bukan keluarga tanpa konflik, tapi keluarga yang bisa menertawakan perbedaan hobi dengan cara yang santun dan penuh kasih sayang.
