Bab 6: Hifni, Kopi, dan Laporan Tahunan

Bab 6: Hifni, Kopi, dan Laporan Tahunan

Lev
0
Malam merayap perlahan di Puruk Cahu. Jam menunjukkan pukul 21.30 WITA. Di sebagian besar rumah kompleks perumahan dinas, lampu sudah padam. Namun, di rumah Hifni, cahaya dari ruang kerja kecil di sudut rumah masih menyala terang.

Hifni tidak bisa tidur. Drama laporan sore tadi di kantor memang sudah selesai dikirim, tetapi masalah baru sudah menanti di meja kerjanya: Laporan Tahunan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah tahun 2025 yang harus masuk meja Bupati lusa pagi.

Rina sudah tertidur pulas di kamar, lelah setelah seharian mengajar dan menghadiri arisan. Khalisa juga sudah terlelap sejak habis Isya. Hanya Hifni dan tumpukan kertas yang berteman malam itu.

Di meja kerjanya, laptop menyala, spreadsheet penuh angka dan grafik terbuka. Hifni menghela napas panjang. Menjadi PNS di Bappedalitbang berarti berhadapan dengan data, angka, dan target yang seringkali tidak masuk akal.

Dia beranjak ke dapur, menyalakan kompor gas kecil, dan merebus air. Dia butuh asupan kafein. Secangkir kopi hitam panas, tanpa gula, adalah teman setianya saat lembur. Aroma kopi robusta khas Kalimantan segera menyebar di dapur, menenangkan syarafnya yang tegang.

Kembali ke meja kerja, Hifni menyeruput kopinya pelan. Pikirannya melayang. Kadang, dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah keputusan untuk tetap bertahan di Puruk Cahu ini tepat? Gajinya sebagai PNS golongan III B pas-pasan, tunjangan daerah tidak seberapa jika dibandingkan kota besar, dan tekanan kerja di daerah berkembang seringkali lebih berat karena keterbatasan SDM.

Tapi kemudian, bayangan wajah Rina yang tersenyum tulus, tawa Khalisa di taman bermain, dan keramahan tetangga di arisan tadi siang melintas di benaknya. Kedamaian dan keberkahan hidup Islami yang mereka jalani di sini terasa lebih berharga daripada gemerlap kota besar yang penuh tipu daya materi.

"Astaghfirullah, istighfar Hif. Nikmat mana lagi yang kau dustakan," gumamnya pada diri sendiri, mengusir bisikan setan yang meragukan rezeki Allah.

Hifni kembali fokus pada laporannya. Dia harus memastikan setiap data akurat. Kejadian sore tadi membuatnya semakin sadar bahwa integritas adalah mata uang paling berharga di dunia birokrasi.

Pukul 23.00 WITA, pintu kamar terbuka pelan. Rina muncul, matanya sedikit bengkak karena baru bangun tidur. Dia membawa piring kecil berisi beberapa potong bingka kentang sisa arisan tadi siang.

"Masih lembur, Mas?" bisik Rina lembut, berjalan mendekat.

"Eh, Bunda. Maaf, Mas berisik ya di dapur tadi? Mas nggak bisa tidur, laporan tahunan ini urgent sekali," jawab Hifni, merasa bersalah mengganggu tidur istrinya.

Rina meletakkan piring bingka dan duduk di kursi kosong di sebelah Hifni. "Nggak apa-apa, Mas. Bunda tahu Mas pasti lembur kalau laporannya sudah numpuk begini. Ini, cemilan biar kuat."

Hifni tersenyum, menyentuh tangan Rina yang hangat. "Makasih, Bunda. Mas jadi nggak enak, Bunda pasti capek banget seharian tadi."

"Capeknya Bunda hilang kalau lihat Mas semangat begini. Gimana tadi drama kantornya, sudah selesai?" tanya Rina, mengambil posisi duduk yang nyaman, siap menemani suaminya.

Hifni mulai bercerita detail tentang perdebatan dengan Bu Kabid dan keputusannya untuk tetap memaksakan validasi data ulang. Rina mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan masukan cerdas dari sudut pandang akademisi dan pendidik.

"Keputusan Mas sudah benar. Biar lambat asal selamat, daripada cepat tapi bermasalah di kemudian hari. Apalagi ini menyangkut dana pembangunan yang besar. Pak Arifin pasti menghargai kejujuran Mas, meskipun Bu Kabid itu ngomel-ngomel," saran Rina.

Kehadiran Rina di ruang kerja yang sunyi itu bagai oase di padang pasir bagi Hifni. Secangkir kopi panas, bingka kentang buatan istri, dan dukungan moral yang tak pernah putus.

Pukul 01.00 WITA, Hifni akhirnya bisa bernapas lega. Data laporan sudah rapi, tabel sudah terstruktur, dan narasi sudah disempurnakan.

"Alhamdulillah, selesai juga, Bun," kata Hifni, menutup laptopnya.

"Alhamdulillah. Yuk, Mas, tidur. Besok pagi masih Subuh call," ajak Rina, membereskan gelas kopi Hifni.

Mereka berjalan menuju kamar tidur, Hifni merangkul pinggang istrinya. Di tengah keheningan malam Puruk Cahu, di antara tumpukan birokrasi dan laporan tahunan, Hifni menemukan kebahagiaan sejati. Bukan pada jabatan tertinggi, bukan pada aset miliaran, tapi pada kesederhanaan hidup bersama Rina dan Khalisa, menjalankan peran mereka sebagai hamba Allah dan abdi negara di "Bumi Peradaban" Kalimantan Tengah.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default