Petualangan di Pulau Derawan Kaltim: Snorkeling Halal, Konservasi Penyu, dan Keindahan Bahari | Wisata Kalimantan
Empat sahabat kita menyeberang ke Kalimantan Timur untuk menjelajahi Pulau Derawan yang eksotis. Bab ini menyajikan pengalaman unik konservasi penyu, snorkeling di laut jernih, dan refleksi Islami tentang menjaga amanah alam.
Dari Maluku yang tenang, perjalanan empat sahabat berlanjut ke utara, menuju gugusan pulau indah di Kalimantan Timur: Kepulauan Derawan. Tujuan utama mereka adalah Pulau Derawan itu sendiri, yang terkenal dengan pasir putihnya yang lembut, air lautnya yang biru kristal, dan yang terpenting, konservasi penyu hijau.
Setibanya mereka di dermaga Pulau Derawan, suasana pantai langsung terasa hidup. Di sepanjang pantai, berjejer resort dan penginapan, beberapa di antaranya juga dibangun di atas air. Yang menarik perhatian mereka adalah lalu lalang penyu hijau raksasa yang berenang santai di bawah penginapan.
"Subhanallah, penyu sebesar ini berenang bebas di sini?" seru Aziz, cepat-cepat mengeluarkan kameranya.
Candra, sang ahli logistik, sudah mengecek jadwal pasang surut air laut dan kegiatan konservasi di pos penjagaan. "Kita bisa ikut patroli malam nanti untuk melihat penyu bertelur, Insya Allah," katanya antusias.
Bashir sudah tidak sabar untuk menceburkan diri ke air. "Aku mau snorkeling sama penyu! Mereka kelihatan ramah, kan?"
"Mereka satwa liar, Bashir. Jangan ganggu, cukup dilihat dari jauh," Dani mengingatkan.
Hari itu mereka habiskan dengan snorkeling di sekitar pantai. Keindahan bawah laut Derawan memang luar biasa. Ikan-ikan badut bersembunyi di anemon besar, barracuda berenang dalam formasi, dan tentu saja, penyu-penyu hijau besar melintas dengan anggun seolah tidak peduli dengan kehadiran manusia.
Candra yang awalnya penakut air, kini mulai mahir berenang dan snorkeling. Pengalaman di Raja Ampat membuatnya lebih berani. "Ternyata laut kita indah sekali kalau kita berani menyelaminya," ujarnya bangga.
Malam harinya, setelah salat Isya berjamaah di mushola kecil dekat pantai, mereka mengikuti kegiatan patroli konservasi penyu bersama petugas lokal. Di bawah cahaya rembulan yang redup, mereka menyusuri pantai yang sepi.
Sekitar pukul 11 malam, mereka menemukan seekor penyu hijau raksasa sedang menggali lubang dengan siripnya di area pantai yang aman. Petugas konservasi menjelaskan bahwa penyu betina akan kembali ke pantai tempat ia menetas untuk bertelur.
Mereka menyaksikan proses penyu bertelur dengan penuh kekaguman. Proses ini memakan waktu cukup lama. Setelah selesai, petugas konservasi dengan hati-hati memindahkan telur-telur tersebut ke tempat penetasan yang aman dari predator (baik hewan maupun manusia).
"Setiap telur yang kami selamatkan adalah harapan untuk masa depan," ujar Pak Rahman, petugas konservasi di sana. "Kami mengajarkan warga di sini bahwa penyu ini adalah amanah dari Allah yang harus dijaga."
Mendengar itu, Dani merenung. Ia teringat akan Surat Al-An'am ayat 38, yang menyebutkan bahwa hewan-hewan di bumi adalah umat (juga) seperti manusia.
"Kita sering lupa kalau bumi ini bukan cuma milik kita," kata Dani kepada teman-temannya saat kembali ke penginapan. "Penyu, ikan, karang, mereka semua adalah bagian dari ekosistem yang Allah ciptakan seimbang. Tugas kita, sebagai khalifah di bumi, adalah menjaganya, bukan merusaknya."
Aziz yang berhasil mengambil beberapa foto penyu bertelur tanpa menggunakan blitz (sesuai aturan konservasi), merasa terinspirasi. "Dokumentasi ini akan jadi pengingat buatku, kalau fotografi itu bukan cuma soal keindahan, tapi juga soal kepedulian."
Bashir, yang sepanjang malam menahan diri untuk tidak mengajak bicara penyu, akhirnya buka suara. "Tadi aku diam aja lho, respect sama ibunya penyu lagi kerja keras." Candaannya membuat suasana tegang karena haru menjadi lebih cair.
Keesokan harinya, mereka diajak mengunjungi pusat penetasan tukik (bayi penyu). Melihat ratusan tukik kecil merangkak lucu menuju laut lepas untuk memulai kehidupan mereka adalah momen yang mengharukan sekaligus penuh harapan.
Pulau Derawan memberikan mereka pelajaran tentang siklus kehidupan, pentingnya konservasi, dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Mereka meninggalkan Kalimantan Timur dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang arti menjaga amanah Allah di bumi ini. Petualangan berlanjut, masih banyak pantai yang menunggu untuk dijelajahi.
