Bab 7: Misi Rahasia di Timber: Antara Gerilya dan Ghibah

Bab 7: Misi Rahasia di Timber: Antara Gerilya dan Ghibah

Lev
0

Kota Timber, yang dulunya merupakan kota media yang semarak, kini terasa mencekam di bawah cengkeraman pasukan Galbadia. Tim Forest Owls, yang dipimpin oleh Rinoa Heartilly, menyambut kedatangan tim SeeD dari Balamb Garden. Suasana markas rahasia mereka di dalam stasiun kereta api tua terasa tegang.

"Misi kita adalah menyabotase siaran langsung Presiden Deling, yang akan berbicara dari stasiun TV Timber. Kita harus membuatnya terlihat konyol di mata publik," jelas Rinoa, memegang peta kota.

Lev, Squall, Quistis, dan Zell mendengarkan dengan saksama. Sementara Irvine sibuk mengedipkan mata pada setiap anggota Forest Owls wanita yang lewat.

"Ini misi gerilya," kata Lev. "Mirip perjuangan pahlawan zaman dulu melawan penjajah di Indonesia. Kita harus terorganisir dan diam-diam."

"Tepat sekali," sahut Rinoa. "Kita punya waktu sampai siaran dimulai."

Saat sedang merencanakan strategi, salah satu anggota Forest Owls yang bernama Zone mulai bergosip tentang Edea.

"Dengar-dengar, Edea itu dulunya orang baik, tapi jadi jahat karena dikutuk penyihir lain," ujar Zone dengan semangat. "Dan katanya dia punya hubungan rahasia sama Presiden Deling!"

Beberapa anggota lain mulai ikut menimpali, menambahkan bumbu-bumbu cerita yang belum tentu benar. Suasana perencanaan misi mendadak berubah menjadi sesi ghibah berjamaah.

Lev, yang baru saja hendak menyarankan rute penyusupan yang lebih aman, langsung menghentikan obrolan itu dengan suara tegas.

"Stop! Stop semua!" Lev berdiri tegak. "Ini kan ghibah namanya? Cerita yang belum jelas kebenarannya, apalagi menjelek-jelekkan orang lain. Itu dosa, teman-teman!"

Semua orang di ruangan itu terdiam, menatap Lev dengan mata terbelalak. Ruangan yang tadinya ramai gosip, kini senyap.

"Di agama saya, ghibah itu sama saja makan bangkai saudara sendiri. Mau kalian makan bangkai Edea?" tanya Lev, membuat beberapa orang bergidik ngeri.

Zone, yang paling banyak bicara, jadi salah tingkah. "Ya... kan Edea jahat, Lev. Nggak apa-apa dong jelekin penjahat?"

"Tetap nggak boleh. Kita fokus sama misi kita, bukan sama urusan pribadi atau aib orang lain. Kita harus jaga adab dan fokus sama tujuan yang benar," nasihat Lev, menanggalkan sejenak statusnya sebagai gamer dan kembali menjadi pemuda Banjarmasin yang taat.

Squall mendengus, tapi kali ini bukan karena malas, melainkan sedikit kagum dengan ketegasan Lev. "Dia benar. Fokus pada misi."

Rinoa tersenyum kecil. "Oke, maaf semuanya. Lev benar. Kita fokus. Rutenya adalah lewat saluran pembuangan di belakang stasiun TV."

Perencanaan misi pun dilanjutkan tanpa ghibah. Ada nuansa profesionalisme baru di udara, berkat intervensi Islami dari Lev.

Malam itu, mereka berhasil menyusup melalui saluran pembuangan yang bau dan kotor. Lev sempat mengeluh karena tempatnya kotor dan membuatnya harus berwudhu ulang berkali-kali.

Di dalam stasiun TV, ketegangan memuncak. Mereka berhasil mencapai ruang kontrol tepat saat siaran dimulai. Presiden Deling sedang berpidato dengan angkuh.

Misi berjalan lancar, mereka berhasil memotong siaran dan menampilkan cuplikan video konyol tentang Presiden Deling. Rakyat Galbadia tertawa, misi berhasil secara politis.

Namun, saat mereka hendak kabur, Edea muncul di layar TV. Wajahnya yang cantik tapi dingin menatap tajam ke kamera. Kekuatan sihirnya mulai terasa, mengacaukan sistem kelistrikan di stasiun TV.

"Kalian pikir bisa menghentikan takdir?" suara Edea menggema.

Lev, melihat wajah Edea yang penuh karisma gelap, merasakan ancaman spiritual yang lebih besar daripada sekadar ancaman fisik. "Ini dia biang keroknya. Nauzubillah," bisik Lev.

Mereka berhasil kabur dari stasiun TV yang kacau balau, kembali ke markas Forest Owls. Misi berhasil, tapi bayangan Edea menghantui pikiran Lev. Dia sadar, pertarungan melawan Edea bukan hanya soal menangkapnya, tapi juga melawan ideologi sihir yang dianutnya.

Kembali di Banjarmasin, di pengajian yang sama, Ustaz Syamsul sedang berbicara tentang pentingnya menjaga lisan dan menjauhi ghibah. "Kita tidak pernah tahu kalau orang yang kita ghibahi itu ternyata lebih baik di mata Allah..."

Hajjah Halimah mengangguk setuju, berharap anaknya, Lev, di mana pun ia berada, selalu menjaga adab dan lisannya, bahkan jika ia sedang melawan penyihir jahat di dunia lain.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default