Dari kemegahan batuan karang di Tanjung Dewa, perjalanan dilanjutkan menuju destinasi kelima: Pantai Muara Kintap. Lokasinya yang berada di perbatasan antara Kabupaten Tanah Laut dan area industri besar memberikan perspektif baru yang kontras bagi empat sahabat tersebut.
Saat mereka tiba, suasana pantai terasa berbeda. Muara Kintap adalah titik pertemuan air tawar dari sungai dengan air laut, menciptakan ekosistem unik hutan bakau. Namun, di kejauhan, cerobong asap pabrik dan kapal-kapal besar yang bersandar di pelabuhan mini terlihat jelas. Kontras antara alam yang asri dan denyut nadi industri modern terasa begitu nyata.
"Hmm, udaranya agak beda ya dari pantai-pantai sebelumnya," komentar Zahra, sedikit mengernyitkan hidungnya. "Tapi view-nya lumayan oke sih, ada perahu nelayan tradisional sama kapal raksasa."
Lev mengamati sekeliling dengan saksama. Ada beberapa sampah plastik tersangkut di akar pohon bakau. Hatinya sedikit terusik. "Indah sih, tapi sayang, ada sedikit noda di surga kecil ini."
Aisyah, yang memang punya kepedulian tinggi terhadap lingkungan, langsung bergerak. Dia mengeluarkan kantong plastik besar dari tasnya dan mulai memunguti sampah yang terlihat di sekitar area mereka berpijak.
"Aisyah, ngapain repot-repot mungut sampah orang?" tanya Faris, yang sedang sibuk mencari angle foto perahu nelayan.
Aisyah menoleh, wajahnya serius. "Ris, dalam Islam, kebersihan itu sebagian dari iman. Kita sebagai khalifah di bumi punya tanggung jawab besar untuk menjaga alam ini, bukan cuma menikmatinya. Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?"
Kata-kata Aisyah menampar Lev. Dia yang selama ini hanya mengeluh tentang kejenuhan hidup di kota, tersadar bahwa ada masalah yang lebih nyata di sekitarnya yang membutuhkan aksi nyata. "Aisyah benar. Kita cuma tamu di sini, sudah seharusnya kita tinggalkan tempat ini dalam keadaan lebih baik dari saat kita datang."
Lev, Faris, dan bahkan Zahra yang biasanya malas bersih-bersih, ikut tergerak. Mereka berempat bergotong royong membersihkan area muara dari sampah plastik. Interaksi mereka dengan beberapa warga lokal yang juga sedang membersihkan area pantai memperlihatkan adanya kesadaran kolektif di masyarakat sekitar.
Setelah area bersih, mereka duduk di pinggir muara, menikmati angin sore yang berhembus dari laut. Faris mendokumentasikan kontras pemandangan pabrik dan hutan bakau dalam foto-foto yang kuat dan penuh makna.
"Melihat ini, gue sadar," kata Lev, matanya menatap kapal raksasa di kejauhan, "perkembangan ekonomi itu penting, tapi nggak boleh mengorbankan lingkungan. Harus ada keseimbangan yang kita jaga."
Aisyah mengangguk. "Itu namanya pembangunan berkelanjutan, Lev. Islam mengajarkan kita untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Wal ardho madadnaha—dan bumi itu Kami hamparkan."
Zahra, dengan vlog-nya, berjanji akan membuat video edukasi khusus tentang bahaya sampah plastik dan pentingnya menjaga ekosistem bakau di vlognya nanti. "Intinya, guys, jalan-jalan itu seru, tapi jangan buang sampah sembarangan! Bawa tempat minum sendiri biar nggak pakai botol plastik!" serunya penuh semangat.
Pantai Muara Kintap memberikan perspektif baru bagi mereka tentang tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi. Mereka belajar bahwa iman tidak hanya soal ibadah ritual, tapi juga soal kepedulian nyata terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Sebelum sunset memudar, mereka meninggalkan Kintap dengan kesadaran baru tentang pentingnya keseimbangan antara kehidupan modern dan kelestarian alam ciptaan Tuhan.
