Bab 7: Tetangga Curiga, Quiche Beracun, dan Kesalahpahaman Budaya

Bab 7: Tetangga Curiga, Quiche Beracun, dan Kesalahpahaman Budaya

Lev
0

Kehidupan di Paris tidak hanya berinteraksi dengan komunitas Muslim. Keluarga Al-Fikri tinggal di sebuah gedung apartemen klasik Paris yang elegan, bertetangga dengan warga Prancis asli yang sebagian besar ramah, tetapi sering kali diliputi rasa ingin tahu yang lucu, atau terkadang, kecurigaan yang tidak beralasan, terhadap tetangga Muslim mereka yang dinamis.

Tetangga terdekat mereka di lantai yang sama adalah Madame Dubois, seorang janda tua berusia delapan puluhan yang hidup sendirian dengan kucing Persia sombong bernama Napoleon. Madame Dubois adalah tipikal Parisienne sejati: elegan, sedikit cerewet, dan sangat terikat pada rutinitasnya. Dia menyukai ketenangan dan ketertiban.

Keluarga Al-Fikri, dengan empat anak dan aktivitas yang padat, adalah antitesis dari ketenangan.

Suatu sore, Madame Dubois sedang menyiram tanaman di balkonnya ketika Layla dan Omar, si bungsu Al-Fikri, sedang bermain 'perburuan harta karun' di lorong apartemen. Harta karun itu adalah stiker karakter Disney (yang disukai Layla) dan gambar astronot (favorit Omar) yang disembunyikan Imran.

Permainan itu agak berisik.

"Di mana Elsa menyembunyikan peta bintangnya, Omar?" teriak Layla.

"Mungkin di balik pintu nomor 7!" balas Omar, menggedor pintu apartemen yang salah.

Madame Dubois melongok dari balik pintu apartemennya. "Anak-anak! Sedikit tenang, s'il vous plaît," tegurnya dengan aksen Prancis yang kental.

Imran, yang sedang keluar untuk mengambil surat, segera meminta maaf. "Maafkan mereka, Madame Dubois. Mereka sedang... ekspedisi."

Madame Dubois mendengus. "Selalu ekspedisi di sini."

Beberapa hari kemudian, sebuah kesalahpahaman yang lebih besar terjadi. Aisha mengadakan kelas memasak kecil di dapur apartemennya untuk beberapa teman komunitas, mengajarkan cara membuat Quiche Lorraine halal (mengganti daging babi asap dengan daging sapi asap halal) dan Madeleine Prancis klasik.

Aroma masakan yang luar biasa—campuran gurih dari keju, daging asap sapi, dan mentega—menyebar ke seluruh lorong apartemen melalui ventilasi.

Pada saat yang sama, Tariq dan Imran sedang melakukan rutinitas "Latihan The Rock" di ruang tamu. Mereka sedang berlatih push-up dan squat dengan musik nasyid bersemangat di latar belakang. Suasana berisik dan beraroma.

Madame Dubois, yang sedang mencoba tidur siang, terbangun oleh suara musik dan bau masakan yang menurutnya aneh—bau asap yang ia anggap mencurigakan. Dia melihat Imran dan Tariq berolahraga melalui celah pintu yang sedikit terbuka (Imran lupa menutupnya rapat).

Dalam benak Madame Dubois yang dipenuhi imajinasi berlebihan dari berita TV, "bau asap" + "aktivitas fisik intens" + "musik aneh" = sesuatu yang mencurigakan. Dia mulai berpikir bahwa keluarga Al-Fikri mungkin terlibat dalam kegiatan rahasia, atau setidaknya, sangat aneh. Dia bahkan curiga kalau quiche yang mereka buat mungkin adalah 'senjata biologis' kuliner.

Kecurigaan itu memuncak saat Aisha, yang murah hati, mengetuk pintu Madame Dubois sore harinya, membawa piring berisi quiche halal hangat dan beberapa madeleine segar.

"Halo, Madame Dubois," sapa Aisha ramah. "Kami membuat quiche dan kue berlebih. Ingin mencoba?"

Madame Dubois menatap piring itu dengan tatapan curiga. Dia melirik ke dalam apartemen Aisha, di mana Imran sedang duduk santai membaca Al-Qur'an dan anak-anak menonton TV.

"Oh... terima kasih, Aisha," katanya, mengambil piring itu dengan ujung jarinya. "Baunya... menarik."

Dia menutup pintu dengan cepat. Di dalam apartemennya, dia meletakkan quiche itu di atas meja, memanggil Napoleon si kucing. Dia memotong sepotong kecil quiche dan memberikannya kepada kucingnya. Jika kucingnya baik-baik saja, berarti aman.

Napoleon melahap quiche itu dalam sekejap dan mengeong gembira.

Madame Dubois, yang penasaran, akhirnya mencoba sepotong kecil. Matanya membulat. Rasanya luar biasa! Jauh lebih enak daripada quiche dingin yang biasa dibelinya di supermarket.

Malam itu, saat keluarga Al-Fikri makan malam, terdengar ketukan malu-malu di pintu mereka.

Imran membuka pintu. Di sana berdiri Madame Dubois, dengan piring kosong di tangan dan wajah sedikit memerah.

"Maaf mengganggu," katanya, menghindari kontak mata.
 "Kucing saya, Napoleon, menyukai quichenya. Dan saya juga. Apakah... apakah resepnya bisa dibagi? Atau mungkin... apakah besok kalian akan memasak sesuatu yang lain?"
Imran dan Aisha saling pandang, bingung tapi geli. Mereka mengundang Madame Dubois masuk.

Kesalahpahaman tentang 'quiche beracun' dan 'aktivitas mencurigakan' dihilangkan melalui secangkir teh panas dan beberapa kue madeleine lagi. Mereka menjelaskan rutinitas olahraga The Rock Imran dan kelas memasak Aisha.

Madame Dubois tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita itu. "Astaga, saya pikir kalian sedang mempersiapkan sesuatu yang aneh! Ternyata hanya olahraga dan memasak!"

Sejak hari itu, hubungan mereka berubah total. Madame Dubois tidak lagi curiga. Malah, dia sering datang untuk 'memeriksa' apakah ada makanan sisa dari kelas memasak Aisha.

Keluarga Al-Fikri belajar bahwa di Paris, terkadang jembatan budaya terbuat dari quiche halal, tawa, dan sedikit kesabaran dalam menghadapi kesalahpahaman yang lucu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default