Bab 9: Ide Brilian di Tepian Sungai

Bab 9: Ide Brilian di Tepian Sungai

Lev
0

Pagi hari di Banjarmasin terasa lebih cerah. Malam yang dilewati Lev dengan tenang berkat lantunan ayat suci dari Cindy, membuat suasana rumah terasa sedikit lebih hidup. Lev keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih segar, tidak lagi sembap. Ia menyapa Cindy yang sedang duduk di ruang tamu, "Sudah sarapan?"

Cindy tersenyum melihat perubahan Lev. "Sudah, Tante Rosa masak nasi kuning lagi. Kamu mau?"

"Boleh," jawab Lev.

Mereka sarapan bersama di meja makan. Tante Rosa dan anggota keluarga lain yang melihat Lev kembali makan dengan normal, merasa sangat lega. "Lihat, 'Operasi Senyum' Cindy berhasil!" bisik Tante Rosa pada Pakde Harun.

Setelah sarapan, Cindy mengajak Lev keluar. "Kamu tahu, di Dresden, kami punya Sungai Elbe yang cantik. Di sini, kamu punya Sungai Martapura. Ayo kita jalan-jalan," ajak Cindy.
Lev terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku ganti baju dulu."

Ini adalah pertama kalinya Lev mau keluar rumah setelah sekian lama. Tante Rosa tampak terharu, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Cindy. Cindy hanya tersenyum.

Cindy dan Lev berjalan kaki menyusuri tepian sungai Martapura. Cuaca panas, tapi semilir angin dari sungai membuat suasana terasa sejuk. Mereka melihat perahu-perahu kecil berlalu lalang, dan orang-orang yang beraktivitas di sekitar sungai. Ini adalah pemandangan yang sama sekali baru bagi Cindy, namun terasa begitu akrab bagi Lev.

"Dulu, Vania suka mengajakku ke sini," kata Lev, suaranya pelan. "Dia suka melihat matahari terbit di atas sungai."

Cindy hanya mendengarkan. Ia tahu, Lev butuh ruang untuk bercerita, untuk membagikan kenangan indah yang ia miliki bersama Vania.

"Kami sering duduk di sini, hanya berdua. Dia selalu bilang, 'Lev, kita harus selalu bersyukur. Lihatlah, kita dikelilingi oleh keindahan.'"

Cindy menoleh ke arah Lev. Ia melihat mata Lev tidak lagi kosong. Mata itu kini dipenuhi dengan kenangan, namun kenangan yang indah.

"Dan dia selalu bilang, dia ingin ke Dresden. Dia suka arsitektur Baroque. Dia ingin melihat Gereja Frauenkirche."

Hati Cindy berdesir. Ia tahu, ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. "Kenapa kamu tidak pergi ke sana, Lev?" tanya Cindy.

"Pergi ke mana?"

"Ke Dresden. Vania ingin melihat Gereja Frauenkirche, bukan? Kamu bisa pergi ke sana dan menceritakan padanya betapa indahnya tempat itu," kata Cindy. "Aku akan menemanimu."

Lev terkejut. "Ke Dresden? Jauh sekali, Cindy. Aku tidak punya uang."

"Tidak perlu khawatir soal itu," kata Cindy. "Aku akan membayarnya. Anggap saja ini terapi dariku untukmu. Lagipula, aku juga akan pulang. Jadi kamu bisa menemaniku. Aku tidak mau pulang sendirian."

Lev terdiam, memikirkan tawaran Cindy. Pergi ke Dresden, tempat yang selalu diimpikan Vania. Ia membayangkan dirinya menceritakan keindahan kota itu pada Vania.

"Aku tidak yakin," kata Lev. "Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut... aku tidak bisa melanjutkan hidup."

Cindy tersenyum. "Justru itu. Kamu harus melanjutkan hidup, Lev. Kamu harus pergi ke tempat-tempat yang Vania impikan. Kamu harus melihat dunia ini dari sudut pandang yang baru. Kamu harus menemukan kebahagiaanmu lagi. Vania pasti akan sedih kalau melihat kamu terus-menerus terpuruk. Dia ingin kamu bahagia."

Lev menatap Cindy. Mata sepupunya itu penuh dengan ketulusan. Cindy tidak lagi bertingkah konyol, tidak lagi menggunakan boneka bebek atau kacamata hidung palsu. Ia serius.

"Pikirkanlah," kata Cindy. "Ini kesempatanmu untuk memulai lagi. Kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Kehilangan adalah awal dari sesuatu yang baru. Dan aku akan selalu ada untukmu."

Lev menatap sungai Martapura, lalu menatap Cindy. Ia melihat kehangatan dan ketulusan di mata Cindy. Ia tahu, ini bukan hanya tawaran liburan, tapi juga uluran tangan dari seorang sepupu yang peduli. "Aku akan pikirkan," kata Lev.

Cindy tersenyum. Ia tahu, Lev akan mengiyakan. Ia tahu, ide ini adalah kunci untuk membuka lembaran baru dalam hidup Lev. Dan ia siap menemaninya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default