Bab 10: Kenangan dalam Dongeng Anak

Bab 10: Kenangan dalam Dongeng Anak

Lev
0

Ruang baca anak di Perpustakaan Umum Stockholm dipenuhi warna-warni cerah, menciptakan suasana yang berbeda dari area perpustakaan lainnya. Poster bergambar binatang lucu dan ilustrasi fantasi menempel di dinding. Pagi itu, Lev dan Anatasya sedang menyiapkan acara mendongeng untuk anak-anak, sebuah ide dari Anatasya yang disetujui oleh Lev.

"Kita mulai dengan cerita yang ringan saja, Lev. Tentang seekor kelinci yang mencoba menemukan rumah baru," kata Anatasya sambil menunjuk sebuah buku bergambar. "Anak-anak pasti suka."

Lev mengangguk. Ia membolak-balik halaman buku itu. Ilustrasinya sederhana, namun penuh detail. Setiap gambar seolah memiliki cerita tersendiri.

"Kau bisa mulai dengan suara pelan dan lembut, lalu naikkan intonasinya saat ceritanya mulai seru," Anatasya memberikan arahan. "Anggap saja mereka adalah adik-adikmu di Banjarmasin."

Kata-kata Anatasya membuat Lev teringat. Vania. Vania adalah seorang guru taman kanak-kanak. Setiap kali ia bercerita untuk anak-anak, suaranya akan berubah menjadi merdu dan penuh ekspresi. Vania selalu bisa menarik perhatian anak-anak dengan cerita-ceritanya yang lucu dan penuh pesan moral.

Lev mengambil sebuah buku lain. Buku itu tentang seorang anak laki-laki yang berpetualang mencari harta karun. Saat Lev membuka buku itu, sebuah gambar kecil di halaman depan menarik perhatiannya. Gambar itu adalah ilustrasi seorang anak laki-laki yang memegang sebuah layang-layang berwarna-warni. Layang-layang itu mengingatkannya pada layang-layang yang sering ia dan Vania terbangkan di tepian Sungai Martapura.

Matanya berkaca-kaca. Ia melihat Anatasya yang sedang sibuk menata kursi-kursi kecil. Anatasya melihat ke arah Lev, dan ekspresinya berubah menjadi khawatir.

"Lev, ada apa?" tanya Anatasya mendekat. "Kamu tidak apa-apa?"

Lev menggeleng, mencoba menyembunyikan kesedihannya. "Tidak apa-apa, Anatasya. Hanya... teringat Vania."

Anatasya meletakkan tangannya di pundak Lev. "Kamu tidak perlu menyembunyikannya, Lev. Tidak apa-apa untuk bersedih. Vania pasti akan bangga melihatmu di sini, mendongeng untuk anak-anak."

Lev menghela napas. "Vania... dia sangat suka mendongeng. Anak-anak sangat mencintainya."

"Aku yakin Vania akan berada di sini, melihatmu," kata Anatasya, mencoba menenangkan.

Lev tersenyum kecil. Ia merasa terharu dengan kebaikan Anatasya. Anatasya tidak pernah menghakimi, dan selalu berusaha mengerti perasaannya.

"Kalau begitu, mari kita mulai," kata Anatasya, mencoba mengembalikan suasana ceria. "Aku akan mulai, lalu kamu lanjutkan."

Lev mengangguk. Ia mengambil buku yang tadi, dan duduk di sebuah kursi kecil di depan panggung. Anatasya duduk di sampingnya. Beberapa saat kemudian, anak-anak mulai berdatangan, duduk di depan mereka. Mata mereka berbinar, menanti cerita.

Anatasya memulai cerita dengan suara yang ceria. Ia berhasil menarik perhatian anak-anak. Lev melihat Anatasya, dan ia merasa kagum. Anatasya begitu natural dan menyenangkan.

Saat tiba giliran Lev, ia merasa gugup. Ia melihat wajah-wajah polos anak-anak, dan ia teringat wajah polos Vania. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita. Awalnya, suaranya sedikit bergetar. Tapi, saat ia mulai masuk ke dalam cerita, suaranya menjadi lebih stabil. Ia menirukan suara kelinci yang lucu, dan suara serigala yang garang. Anak-anak tertawa, dan Lev merasa senang.

Setelah selesai mendongeng, anak-anak bertepuk tangan. Anatasya menepuk pundak Lev. "Kerja bagus, Lev! Kamu berhasil!"

Lev tersenyum lebar. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ia tidak hanya mendongeng untuk anak-anak di Stockholm, tetapi juga untuk Vania, di Banjarmasin. Ia merasa bahwa ia telah membuat Vania bangga.

Di luar perpustakaan, Lev dan Anatasya berjalan beriringan. "Ternyata mendongeng itu menyenangkan," kata Lev.

"Tentu saja! Apalagi kalau melihat anak-anak tertawa," kata Anatasya.

Lev mengangguk. "Aku jadi ingat saat Vania mendongeng untuk anak-anak di taman kanak-kanak. Suaranya sangat merdu.

"Vania pasti akan senang melihatmu hari ini," kata Anatasya.
Lev tersenyum. "Terima kasih, Anatasya." 

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya," jawab Lev. "Kamu sudah membantuku melewati masa-masa sulit."

Anatasya tersenyum. "Kita adalah tim, Lev."

Mereka berjalan di bawah sinar matahari musim dingin, berbagi cerita dan tawa. Lev merasa bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia merasa bahwa ia memiliki Anatasya, sahabat barunya yang tidak hanya membantunya beradaptasi dengan kehidupan di Stockholm, tetapi juga membantunya menyembuhkan luka di hatinya. Ia merasa bahwa ia bisa bahagia lagi. Ia siap untuk melanjutkan hidup.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default