Hari berganti, dan itinerary Aisyah Humaira berlanjut. Sore ini, tujuannya adalah tempat nongkrong paling ikonik di Banjarmasin: Siring Sungai Martapura dan Menara Pandang. Lokasi ini adalah jantung kota, tempat warga lokal bersantai dan menikmati denyut kehidupan sungai.
Keluarga Ryley, kali ini lengkap dengan Aisha, berjalan santai menyusuri trotoar Siring yang ramai. Udara sore di Banjarmasin terasa lebih bersahabat, angin semilir dari sungai memberikan kesejukan alami. Di sepanjang jalan, pedagang kaki lima menjual berbagai camilan, dari pentol goreng hingga es kelapa muda.
Aisha Kim, dengan ootd hijab kasualnya, terlihat antusias. Matanya sibuk merekam setiap detail: perahu-perahu wisata kelotok yang menawarkan perjalanan singkat, anak-anak muda yang duduk santai di bangku taman, dan aktivitas di seberang sungai.
"Di Seoul, kami punya Sungai Han yang terkenal itu," ujar Aisha, berjalan di samping Anindya dan Lev. "Tapi suasananya sangat berbeda. Sungai Han lebih modern, dengan taman kota yang luas, tempat konser, dan gedung pencakar langit sebagai latar. Di sini, suasananya lebih alami, tradisional, dan terasa sekali interaksi manusianya dengan alam."
Lev Ryley, yang sudah pulih dari trauma tercebur sungai, langsung mengambil peran sebagai pemandu wisata lagi. "Di Siring ini juga ada festival lho, Aisha. Festival perahu naga, festival kuliner. Ramai sekali," jelas Lev bangga.
Mereka memutuskan naik ke Menara Pandang, sebuah bangunan tinggi yang menjadi landmark kota, untuk melihat pemandangan Banjarmasin dari ketinggian. Dari atas menara, pemandangan Kota Seribu Sungai terhampar luas. Jaringan sungai yang rumit membelah daratan, rumah-rumah panggung tradisional terlihat mungil, dan atap-atap bangunan modern kontras dengan hijaunya pepohonan.
Aisha terkesima. "Masya Allah, dari sini kelihatan jelas kenapa disebut Kota Seribu Sungai. Jaringannya seperti urat nadi kota," katanya, mengeluarkan kamera profesionalnya. Maryam, si seniman, segera mengeluarkan buku sketsa dan pensil arangnya, mulai menangkap lanskap unik itu.
Saat matahari mulai merendah, langit Banjarmasin berubah menjadi palet warna jingga, merah, dan ungu yang dramatis. Cahaya senja memantul di permukaan air sungai, menciptakan pemandangan yang magis. Anindya merekam momen itu untuk feeds Instagramnya, sementara Lev mencoba berfoto selfie dengan latar senja, yang sayangnya lebih banyak menangkap double chin-nya daripada pemandangan.
"Lev, angle-nya salah!" protes Anindya, tertawa.
Di tengah momen menikmati senja, Aisyah Humaira, si sulung yang organisatoris, mendekati Aisha. "Tante Aisha, tadi waktu di Siring, Aisyah lihat banyak lahan kosong di pinggir sungai yang bisa dipakai buat berkebun. Sayang kalau cuma ditumbuhi rumput liar," ujarnya, otaknya sudah berputar merencanakan proyek sosial.
Aisha tersenyum. "Ide bagus, Aisyah. Nanti kita lihat ya. Urban farming bisa jadi solusi untuk memanfaatkan lahan sempit di kota."
Setelah puas menikmati pemandangan dan senja yang indah, mereka turun dari menara. Ghina dan Rayyan merengek minta dibelikan pentol goreng, dan Lev dengan senang hati mentraktir mereka.
Mereka makan pentol goreng di tepi Siring, sambil menyaksikan kelotok wisata malam yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Suasana malam Banjarmasin mulai hidup, dengan lampu-lampu kota yang menyala di sepanjang sungai.
"Anindya, aku merasa sangat nyaman di sini," ujar Aisha di tengah kehangatan obrolan. "Di Seoul, hidup serba cepat, tekanan tinggi. Di sini, meskipun kotanya ramai, tapi ritmenya lebih manusiawi. Orang-orangnya ramah sekali."
Anindya menggenggam tangan Aisha. "Itulah indahnya Banjarmasin, Aisha. Kota ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan akar kita, untuk selalu terhubung dengan alam dan sesama manusia, di tengah modernitas."
Malam itu, mereka pulang ke rumah dengan hati yang penuh. Aisha tidak hanya membandingkan dua sungai di dua kota yang berbeda, tetapi juga dua gaya hidup yang kontras. Dan untuk sementara waktu, ia memilih ritme hidup Banjarmasin yang damai dan penuh keramahan.
