Minggu pagi di kompleks perumahan dinas adalah waktu yang paling dinanti. Udara masih segar, dan aktivitas warga biasanya terfokus pada membersihkan halaman, berolahraga ringan, atau sekadar duduk santai di teras sambil menikmati teh hangat.
Hifni sedang sibuk memotong rumput liar di halaman depan rumahnya saat sebuah mobil pikap tua yang penuh muatan perabotan berhenti tepat di rumah kosong sebelah mereka. Rumah itu sudah lama tak berpenghuni sejak pensiunnya Pak RT lama.
"Assalamualaikum!" sapa Hifni ramah, menghentikan aktivitasnya dan mendekati mobil pikap tersebut.
Dari dalam mobil turun seorang pria paruh baya dengan kulit sawo matang khas lokal, mengenakan kaus oblong dan topi petani, wajahnya memancarkan keramahan yang tulus. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya yang tampak gesit ikut turun.
"Waalaikumsalam, Pak," balas pria itu sambil tersenyum lebar. "Kami tetangga baru Bapak. Nama saya Pak Rahman, ini istri saya, Bu Jannah."
"Muhammad Hifni, Pak. Panggil saja Hifni. Selamat datang di kompleks kami," sambut Hifni, menjabat tangan Pak Rahman hangat.
Toni, si Lurah muda yang rumahnya juga tak jauh dari situ, ikut mendekat. "Wah, Pak Rahman, akhirnya pindah juga ke sini! Kompleks kita jadi makin ramai."
Proses pindahan pun dimulai. Unsur komedi kehidupan bermasyarakat langsung terasa. Pak Rahman dan Bu Jannah ini ternyata pasangan yang unik dan sangat ekspresif. Mereka pindah dari desa di pedalaman yang aksesnya sulit, dan ini adalah kali pertama mereka tinggal di lingkungan "kota" Puruk Cahu.
Saat menurunkan lemari es, Bu Jannah berseru histeris, "Pak Rahman! Awas! Kakinya kejepit kulkas!" Padahal, kaki Pak Rahman jauh dari kulkas. Semua yang melihat—termasuk Hifni dan Toni—hanya bisa menahan tawa.
Rina keluar dari rumah, menggendong Khalisa yang penasaran. "Assalamualaikum, Bu Jannah, Pak Rahman. Saya Rina, istri Hifni," sapa Rina, tangannya membawa nampan berisi es sirup markisa segar.
"Waalaikumsalam, Bu Dosen cantik!" sambut Bu Jannah, matanya berbinar melihat Rina yang rapi. "Masya Allah, baik-baik sekali tetangga di sini. Di desa saya dulu, jarang ada yang langsung bawain minuman begini."
Interaksi berlanjut di sela-sela proses pindahan. Pak Rahman ternyata adalah seorang PNS fungsional di Dinas Pertanian, ahli dalam hal perkebunan sawit dan karet, sementara Bu Jannah adalah ibu rumah tangga biasa yang pandai sekali memasak.
Kehadiran keluarga Pak Rahman ini membawa angin segar sekaligus dinamika baru di kompleks tersebut. Mereka sangat lugu, jujur, dan ceplas-ceplos.
Sore harinya, setelah semua barang masuk, Hifni dan Rina berkunjung ke rumah Pak Rahman untuk silaturahmi yang lebih formal. Rumahnya sederhana, tapi sudah terlihat rapi dalam waktu singkat.
"Maaf ya, Pak Hifni, Bu Rina, rumah kami masih berantakan," ujar Bu Jannah, menyajikan pisang goreng panas dan teh kental manis.
"Wah, sudah rapi begini kok, Bu. Enak sekali pisang gorengnya," puji Rina tulus.
"Pak Rahman, jadi kerja di Dinas Pertanian, ya? Bidang apa, Pak?" tanya Hifni, memulai obrolan serius.
"Saya di bidang penyuluhan, Pak Hifni. Jujur saja, saya ini orang desa, agak kikuk kalau rapat di kantor kota. Bapak kan orang kantoran banget, pasti rapi sekali kerjanya," jawab Pak Rahman dengan logat khas pedalamannya.
Hifni tersenyum. Pak Rahman ini mengingatkannya pada sisi lain kehidupan di Kalimantan Tengah: kesederhanaan, keramahan, dan kejujuran pedesaan yang mulai luntur di perkotaan.
Pak Rahman dan Bu Jannah bercerita banyak tentang tantangan hidup mereka di desa, termasuk kesulitan akses pendidikan untuk anak-anak mereka sebelumnya, yang menjadi alasan utama mereka akhirnya mengajukan mutasi ke Puruk Cahu.
"Kami ingin Khalisa kecil ini dapat pendidikan yang layak, yang Islami. Di sini kelihatannya bagus sekolahnya," kata Bu Jannah sambil melirik Khalisa yang sedang asyik bermain dengan kucing baru milik Pak Rahman.
Rina menjelaskan tentang sekolah Khalisa dan suasana pendidikan di Puruk Cahu.
"Pokoknya, kalau ada apa-apa, jangan sungkan main ke rumah kami ya, Pak Hifni, Bu Rina. Kami orang baru, butuh banyak bimbingan," ujar Pak Rahman merendah.
"Sama-sama, Pak Rahman. Kita di sini kan satu keluarga besar PNS di perantauan. Saling bantu," jawab Hifni.
Malam itu, Hifni dan Rina pulang ke rumah dengan perasaan hangat. Kehadiran tetangga baru yang unik dan tulus ini mengingatkan mereka bahwa kehidupan bermasyarakat di Puruk Cahu adalah anugerah yang harus disyukuri. Di balik drama kantor dan rutinitas birokrasi, ada kehangatan hubungan antarmanusia yang membuat hidup di daerah ini terasa lengkap dan bermakna.
