Bab 6: Misi Rahasia di Kantor Dinas dan "Ujian" Surah Al-Fil

Bab 6: Misi Rahasia di Kantor Dinas dan "Ujian" Surah Al-Fil

Lev
0
Kisah inspiratif Khalisah Salsabilla di Barabai, Kalimantan Selatan. Belajar Bahasa Inggris dan menghafal Juz 30 ditemani kucing oren bernama Mochi. Cerita keluarga PNS yang penuh komedi dan nilai agama.


Senin pagi di Barabai dimulai dengan gerimis tipis yang membuat udara semakin dingin. Bagi Muhammad Hifni, Senin adalah hari yang penuh tekanan. Sebagai PNS di kantor pemerintahan, ia harus menghadapi tumpukan dokumen perencanaan daerah. Namun, di balik tas kerjanya yang penuh berkas, terselip sebuah misi rahasia: sebuah kotak kecil berisi kalung kucing berwarna emas dengan lonceng kecil.

"Ini hadiah kalau Khalisah lancar surah Al-Fil sore nanti," gumam Hifni sambil memarkir motornya di halaman kantor.

Sementara itu, di sekolah, Khalisah sedang mengalami "krisis" kecil. Ia sedang duduk bersama Husna di bawah pohon ketapang saat istirahat.

"Husna, kenapa ya surah Al-Fil itu susah? Banyak kata yang mirip-mirip," keluh Khalisah sambil membuka kamus kecil Bahasa Inggrisnya—ia memang terbiasa membawa kamus itu ke mana-mana.

Husna, putri Nurul Inayah yang tenang, memberikan saran dengan gaya bicaranya yang lembut. "Ibuku bilang, bayangkan saja gajah-gajah besar yang mau menyerang Ka'bah. Terus ada burung Ababil yang bawa batu api. Wuzzz... seperti pesawat tempur!"

Mata Khalisah berbinar. "Pesawat tempur? Oh, like an airplane with fire stones! Wah, itu keren banget!"

Nurul Inayah, yang sedang mengawasi dari jauh, tersenyum melihat interaksi dua sahabat itu. Ia mendekat dan ikut duduk di samping mereka. "Lagi bahas pasukan gajah ya? Ingat Khalisah, Allah itu Maha Kuat. Gajah sebesar apa pun tidak bisa mengalahkan kekuasaan Allah."

"Iya, Aunty Nurul. Khalisah mau hafal supaya bisa cerita ke Mochi. Mochi kalau lihat cicak saja takut, apalagi lihat gajah," celetuk Khalisah yang langsung disambut tawa oleh Nurul.

"Omong-omong, Khalisah," tanya Nurul, "Mama Rina bilang kamu sering belajar pakai lagu ya?"

"Iya! Mama sering ajak Khalisah nyanyi pakai English rhythm. Jadi hafalannya masuk terus ke otak!"

Nurul mengangguk. Inilah keunikan Khalisah. Didikan Rina yang berbasis bahasa dan musik membuat Khalisah memiliki daya ingat yang fleksibel. Sebagai sesama lulusan SMA 2013, Nurul sangat mengagumi cara Rina mendidik anak tanpa menghilangkan sisi kekinian.

Sore harinya, Hifni pulang dengan wajah yang sedikit lebih cerah meski lelah. Namun, sesampainya di rumah, ia tidak menemukan Khalisah di ruang tamu. Yang ada hanyalah Mochi yang sedang berusaha menangkap ekornya sendiri di atas kursi jati.

"Mana Khalisah, Rin?" tanya Hifni pada istrinya yang sedang sibuk mengoreksi lembar jawaban muridnya.

"Lagi di kamar, Bah. Katanya lagi 'konsultasi' sama Mochi buat setoran sore ini," jawab Rina sambil menahan tawa.

Hifni mengintip ke kamar. Ia melihat Khalisah sedang berdiri di depan Mochi yang duduk tegak (tumben sekali kucing itu kooperatif). Khalisah sedang memperagakan gerakan burung terbang.

"Tarmīhim bihijāratim min sijjīl... Mochi, kamu tahu nggak? Itu artinya burungnya lempar batu api! Fire stones! Boom!"

Mochi hanya berkedip, lalu mengeong sekali dengan nada berat, seolah mengerti betapa dahsyatnya peristiwa tersebut.

"Ehem!" Hifni berdehem. "Sudah siap setoran ke Abah? Atau mau setoran ke Mochi saja?"

Khalisah berbalik dan langsung memeluk kaki Abahnya. "Abah! Khalisah sudah siap! Mochi sudah jadi saksi kalau Khalisah nggak salah baca tadi!"

Hifni duduk di tepi tempat tidur, mengambil Juz Amma, dan mendengarkan dengan saksama. Kali ini, Khalisah membacanya dengan penuh penghayatan. Pelafalannya mulai seimbang; makhraj huruf hijaiahnya mulai tajam, meski tetap ada sisa-sisa aksen "bule" dari didikan ibunya.

Begitu ayat terakhir selesai, Hifni langsung mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. "Karena Khalisah hebat, dan karena Mochi sudah jadi asisten guru yang baik, ini hadiahnya!"
Hifni membuka kotak itu. Sebuah kalung kucing cantik dengan lonceng yang gemerincing. Khalisah memekik senang. Ia segera memasangkan kalung itu ke leher Mochi.

"Sekarang Mochi jadi kucing Islami!" seru Khalisah bangga.
Rina muncul di pintu kamar, tersenyum melihat kebahagiaan itu. "Bah, besok Nurul mengundang kita makan malam di rumahnya. Katanya sekalian mau merayakan Husna yang juga tambah hafalannya. Gimana?"

Hifni mengangguk. "Tentu. Sekalian kita reuni kecil-kecilan. Siapa sangka ya, dari zaman sekolah 2013 dulu cuma bahas tugas, sekarang bahas hafalan anak sambil bawa kucing."

Di luar, hujan Barabai kembali turun dengan ritme yang menenangkan. Di dalam rumah itu, kehangatan keluarga terasa begitu nyata—sebuah bukti bahwa pendidikan agama tidak harus kaku, dan hadiah kecil bisa menjadi jembatan menuju cinta yang besar pada Sang Pencipta.

Mau lanjut ke Bab 7? Di bab selanjutnya, Khalisah dan Husna akan menghadapi "Lomba Cerdas Cermat" di sekolah yang bikin heboh satu kelas karena Mochi ikut menyelinap lagi!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default