Bab 2: Mantan Masa Lalu di Baris Kursi yang Sama

Bab 2: Mantan Masa Lalu di Baris Kursi yang Sama

Lev
0

Setelah melalui sesi diplomasi yang panjang—termasuk janji membelikan suvenir kucing terbesar di Amerika—Khalisah akhirnya luluh. Kini, keluarga kecil dari Tabalong itu sudah berada di Jakarta untuk mengurus berkah administrasi visa dan finalisasi tiket di kantor agen perjalanan yang ditunjuk sponsor.

Suasana kantor agen travel siang itu cukup ramai. Hifni duduk di sofa ruang tunggu sambil memegang nomor antrean, sementara Rina sibuk memberikan camilan kepada Khalisah agar anak itu tidak bosan.

"Nomor antrean 07, silakan menuju meja tiga," suara operator bergema.

Hifni bangkit berdiri, namun langkahnya terhenti ketika dari arah pintu masuk, muncul seorang wanita anggun berhijab instan modis yang sedang menggandeng anak perempuan bergaun merah. Wanita itu tampak sibuk memeriksa paspor di tangannya hingga hampir menabrak bahu Hifni.

"Eh, maaf, saya tidak lihat jalan..." kalimat wanita itu terputus saat ia mendongak dan menatap wajah Hifni.

Hifni terpaku. Waktu seolah berhenti berputar di dalam ruangan ber-AC tersebut. Kenangan masa-masa berseragam putih-abu-abu di SMA Negeri 1 Tanjung mendadak berputar seperti rol film tua di kepalanya. Wanita di depannya adalah Dina. Lebih tepatnya, drg. Dina Yulianti, dokter gigi yang cukup terkenal di Tanjung, sekaligus... mantan kekasih Hifni yang kisahnya kandas karena dinilai kurang direstui waktu zaman kuliah dulu.

"Hifni? Kamukah itu?" tanya drg. Dina, matanya membelalak tidak percaya.

"Dina? Astaga, apa kabar?" balas Hifni, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar gugup. Tangannya mendadak dingin.

Sebelum percakapan berlanjut, Rina mendekat dengan langkah anggun namun tatapannya langsung menangkap sinyal canggung di antara keduanya. Sebagai seorang istri dan guru yang peka, radar kecurigaannya langsung berdenting pelan.

"Siapa, Abahnya?" tanya Rina lembut, namun penuh penekanan.

"Oh, ini... Ibu, kenalkan. Ini Dina, dokter gigi yang kliniknya dekat lapangan bola itu. Teman SMA ulun dulu," jawab Hifni buru-buru, menyeka keringat di pelipisnya. "Dina, ini istriku, Rina."

Kedua wanita itu bersalaman. Senyum mereka mengembang, namun ada ketegangan tipis yang hanya bisa dirasakan oleh sesama wanita.

"Wah, kebetulan sekali ketemu di Jakarta. Dokter Dina ada urusan apa ke sini?" tanya Rina ramah, menyelidiki.

"Ini, Mbak Rina. Saya mau mengurus keberangkatan nonton Piala Dunia 2026. Kebetulan dapat paket promo dari persatuan dokter gigi," jawab Dina sambil tersenyum lebar. Ia lalu menarik anak perempuannya yang bersembunyi di balik gamisnya. "Ayo sayang, salim sama Om dan Tante. Ini anak saya, Naura Salsabilla."

Khalisah yang mendengar nama itu langsung mendongak dari tab-nya. "Nama kita sama! Aku Khalisah Salsabilla!" seru Khalisah riang.

Naura, yang juga berusia enam tahun, langsung tersenyum manis. "Iya! Namaku juga Salsabilla! Kita kembar!"

Melihat kedua anak itu langsung berpegangan tangan dan tertawa, Hifni hanya bisa menelan ludah. Saat agen travel memanggil mereka dan memeriksa manifes data, kejutan berikutnya runtuh: drg. Dina tidak hanya satu pesawat dengan mereka menuju Los Angeles, tetapi nomor kursi mereka di stadion pertandingan pembuka berada di baris yang sama, hanya terpisah dua nomor.

Hifni melirik istrinya. Rina masih tersenyum manis, sangat manis, bahkan terlalu manis untuk ukuran situasi normal. Di dalam hatinya, Hifni tahu bahwa perjalanan melintasi benua ini tidak akan hanya dipenuhi oleh taktik sepak bola, melainkan taktik bagaimana bertahan hidup di tengah kecurigaan domestik yang mulai membara.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default