BAB 3: Diplomasi Kebab dan Pria yang Menjemput Zahra

BAB 3: Diplomasi Kebab dan Pria yang Menjemput Zahra

Lev
0
"Sebuah Novel Islami bertema Slice of Life yang menguras air mata. Mengisahkan Hamzah, mahasiswa di Teheran, Iran, yang terpaksa melepaskan tunangannya karena merasa belum mampu membahagiakan dirinya sendiri. Ikuti perjalanan sad & komedi Hamzah menemukan arti self-love sebelum menjemput kembali cintanya.

Teheran tidak pernah peduli seberapa hancur hatimu; kota ini tetap akan memaksamu bangun dan mengejar bus Metro yang selalu penuh sesak. Pagi ini, Hamzah memutuskan untuk tidak lagi meratapi nasi gosongnya. Dengan sisa uang tabungan yang semakin menipis—akibat kurs Rial yang naik turun seperti roller coaster—ia memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan.

Tujuannya satu: Bazar Tajrish. Sebuah pasar legendaris di utara Teheran di mana wangi rempah-rempah, saffron, dan kacang-kacangan bercampur dengan teriakan para pedagang yang mencoba menarik perhatian turis maupun penduduk lokal.

Komedi Salah Paham di Metro

Perjalanan menuju Tajrish adalah ujian kesabaran. Di dalam kereta Metro jalur 1 yang padat, Hamzah berdiri terjepit di antara seorang kakek tua yang membawa bungkusan roti Barbari panas dan seorang pria berjas yang asyik berbicara cepat di telepon.

"Agha! (Tuan!)" tegur kakek itu pada Hamzah karena ransel Hamzah terus menyenggol rotinya.

Hamzah, yang pikirannya masih melayang pada kenangan bersama Zahra, menjawab dengan bahasa Parsi yang terpatah-patah. "Bakhshid (Maaf)... saya sedang... eh... kehilangan arah."

Si kakek justru menatapnya kasihan. "Kehilangan arah? Kamu mau ke Tajrish atau mau ke pelaminan? Wajahmu seperti orang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya!"

Beberapa penumpang di sekitar mereka tertawa kecil. Hamzah hanya bisa tersenyum kecut. Di Teheran, bahkan orang asing di kereta pun bisa menjadi kritikus kehidupan yang sangat jujur.

Bayangan Zahra di Antara Kerumunan

Sesampainya di Tajrish, Hamzah mencoba melamar menjadi asisten di sebuah toko karpet milik Haji Abbas, seorang kenalan lama dosennya.

"Kamu mahasiswa Indonesia? Bisa bahasa Inggris dan sedikit Parsi?" tanya Haji Abbas sambil mengelus jenggot putihnya yang rapi. "Bisa. Tapi masalahnya, wajahmu terlalu sedih untuk menjual karpet. Karpet Persia itu simbol kemewahan dan kegembiraan, Hamzah. Kalau kamu yang jual, orang akan mengira karpet ini ditenun dari air mata!"

Hamzah dipaksa duduk dan disuguhi teh—lagi-lagi teh—oleh Haji Abbas. Saat itulah, dari balik jendela toko yang menghadap ke arah pelataran Imamzadeh Saleh, Hamzah melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Di seberang jalan, di bawah naungan pohon-pohon yang meranggas, ia melihat Zahra. Gadis itu mengenakan chador hitam yang anggun, tampak sedang berbicara dengan seorang pria jangkung berpakaian rapi—seorang dokter muda lokal, jika dilihat dari stetoskop yang mengintip dari tas kerjanya.

Itu adalah pemandangan yang Hamzah bayangkan akan terjadi, namun tetap saja rasanya seperti disiram air es di tengah musim dingin.

Maaf, Aku Belum Bisa Membahagiakan Diriku
Hamzah memalingkan wajah. Ia teringat kembali pada alasan utamanya melepaskan Zahra.

Bagaimana aku bisa bersaing dengan dia yang sudah mapan? batin Hamzah. Aku bahkan belum bisa memaafkan diriku atas kegagalan-kegagalan kecil di masa lalu. Aku belum bisa mencintai hidupku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa menjaga hidup orang lain?

Ia merenung. Melepaskan Zahra adalah keputusannya yang paling berani, sekaligus paling pengecut. Berani karena ia mengutamakan masa depan Zahra, dan pengecut karena ia takut berjuang di tengah ketidakpastian dirinya.

"Haji," kata Hamzah tiba-tiba pada Haji Abbas. "Apakah karpet yang paling rusak sekalipun bisa diperbaiki?"

Haji Abbas mengangguk perlahan. "Bisa. Tapi butuh waktu, ketelitian, dan pengrajinnya harus sabar.
 Kalau pengrajinnya saja sudah menyerah sebelum mulai, karpet itu hanya akan jadi kain pel."

Hamzah terdiam. Ia menyadari bahwa dirinya adalah "karpet yang rusak" itu. Ia butuh waktu untuk menyulam kembali kepercayaan dirinya yang robek, memperbaiki benang-benang mentalnya yang kusut, sebelum ia layak dihargai lagi.

Tragedi di Kedai Kebab

Sore harinya, untuk merayakan "kegagalannya" mendapatkan pekerjaan, Hamzah nekat membeli satu porsi Joojeh Kebab (kebab ayam) di pinggir jalan. Saat hendak menggigit kebabnya, seekor kucing liar Teheran yang gemuk tiba-tiba melompat ke meja dan menyambar potongan daging terbesarnya.

"Hei! Itu makan malamku satu-satunya!" seru Hamzah panik.

Kucing itu hanya menatapnya dengan tatapan meremehkan, lalu lari menghilang di balik lorong pasar.

Hamzah terduduk lesu menatap sisa nasinya yang tawar. Ia tertawa pelan, tawa yang kali ini benar-benar tulus keluar dari sela-sela kesedihannya. "Bahkan kucing pun tahu aku adalah sasaran empuk untuk dirundung hari ini."

Ia mengambil ponsel, membuka draf pesan yang sudah ia tulis berkali-kali namun tak pernah terkirim untuk Zahra:

"Zahra, aku melihatmu tadi. Kamu terlihat bahagia. Maaf jika aku pengecut, tapi melihatmu bersama seseorang yang sudah 'selesai' dengan dunianya, membuatku sadar bahwa melepaskanmu adalah satu-satunya hal benar yang pernah kulakukan dalam hidupku yang berantakan ini."

Hamzah menghapus draf itu lagi. Ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan baru Zahra dengan sisa-sisa kesedihannya. Ia harus belajar bahagia sendiri dulu, meski harus dimulai dengan berbagi kebab dengan kucing jalanan.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default