Sofia Al-Fassi mungkin baru berusia sepuluh tahun, tetapi indra fashion-nya sudah lebih terasah daripada banyak editor majalah gaya hidup dewasa. Dia adalah anak bungsu, dimanja oleh cinta dan, tentu saja, barang-barang mewah. Kamarnya dipenuhi boneka Barbie yang mengenakan gaun mini Chanel dan Dior, dan lemari pakaiannya adalah surga bagi pakaian anak-anak high-end.
Suatu pagi, keluarga Al-Fassi berencana untuk kunjungan santai ke Corniche Casablanca, berjalan-jalan di tepi pantai dan makan siang di restoran seafood favorit mereka. Sebuah rencana yang sederhana, bukan? Tidak, jika Anda Sofia.
Laila masuk ke kamar Sofia untuk melihat putrinya sudah siap atau belum. Dia menemukan Sofia berdiri di depan cermin, tampak cemberut, dikelilingi oleh tumpukan pakaian yang sudah dicoba dan ditolak di lantai.
"Ada apa, sayang? Kenapa belum siap?" tanya Laila, melangkah hati-hati melewati gaun Dolce & Gabbana Kids dan celana pendek Burberry mini.
"Umi, aku nggak punya sepatu yang cocok!" rengek Sofia, menunjuk ke rak sepatu kecilnya yang penuh dengan sepatu balet Chloé dan sneakers Golden Goose Kids yang sudah terlihat keren sejak dibeli.
Laila bingung. "Itu banyak sekali sepatu, Sofia. Kamu bisa pakai sepatu putih Chloé itu, kan?"
"Nggak bisa, Umi! Hari ini aku mau pakai celana pendek denim dan kaos Kenzo harimau. Sepatu Chloé terlalu formal. Aku butuh sneakers yang warnanya pas dengan mata harimau di kaos ini," jelas Sofia dengan logikanya yang rumit.
"Bagaimana dengan sneakers Fendi yang warna kuning itu?" usul Laila, mencoba menjadi penata gaya.
"Itu kuning, Umi. Warna di kaos ini oranye. Beda tone-nya jauh!"
Laila menghela napas. Dia tahu ini akan menjadi pertarungan panjang. Sofia sangat spesifik. Dia bukan anak yang rewel, dia hanya memiliki standar estetika yang sangat tinggi, warisan genetik dari ibu dan kakaknya.
Di lantai bawah, Zayn, Amira, dan Tariq sudah menunggu di ruang tamu. Zayn mengenakan polo shirt Loro Piana dan celana pendek linen Brunello Cucinelli. Amira dengan gaun musim panas Zimmermann yang ringan, dan Tariq dengan kaos Palm Angels dan celana pendek kargo.
"Umi dan Sofia kok lama sekali?" keluh Tariq. "Mataharinya sudah mulai panas nih."
"Pasti krisis fashion Sofia," duga Amira sambil tertawa. "Anak sekecil itu, seleranya sudah Gucci."
Akhirnya, Laila berhasil membawa Sofia turun. Sofia mengenakan pakaian pilihannya, tetapi di kakinya, dia memakai sepasang sneakers Gucci Kids putih dengan detail garis hijau-merah yang dia rasa paling mendekati warna oranye di kaosnya.
"Maaf lama, Abi. Ada masalah logistik outfit," kata Laila.
Zayn hanya tersenyum. "Tidak masalah. Yang penting Sofia senang." Dia mencium pipi putrinya. "Anak Abi yang paling stylish."
Mereka berangkat dengan Mercedes-Benz Maybach S 680 hari itu, karena Zayn ingin perjalanan ke pantai terasa nyaman dan ber-AC penuh. Di dalam mobil, Sofia duduk di kursi belakang dengan tenang, mengamati seatbelt mobil yang terbuat dari bahan sutra lembut.
Saat mereka tiba di restoran pantai mewah, keluarga Al-Fassi segera menjadi pusat perhatian. Bukan karena mereka berisik, tetapi karena aura kemewahan yang tenang dan gaya berbusana mereka yang sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Seorang pelayan muda yang gugup mengantar mereka ke meja reservasi terbaik. Dia tidak sengaja menjatuhkan garpu dan membungkuk dengan panik untuk mengambilnya.
"Tidak apa-apa," kata Laila ramah.
Saat makan siang, Sofia memesan jus mangga. Dia melihat seorang anak kecil di meja sebelah yang mengenakan sepatu kets biasa dari merek toko serba ada. Sofia menatap sepatunya sendiri—Gucci Kids—lalu tersenyum puas.
Bagi Sofia, pakaian adalah perisai, identitas, dan cara merasakan kenyamanan. Dia tidak bermaksud sombong, dia hanya tidak tahu cara hidup yang lain. Di usianya yang masih muda, dia sudah yakin bahwa hidup ini terlalu singkat untuk memakai pakaian atau sepatu yang tidak bermerek dan tidak indah. Dalam dunia kecilnya yang penuh kemewahan, setiap detail penting, bahkan tone warna sneakers dengan mata harimau di kaosnya.
