Perjalanan dari Manchester ke Swiss bukan perkara mudah. Setelah tiba di London Euston, keluarga Ryley harus berpindah stasiun ke London St Pancras International untuk mengejar kereta Eurostar menuju Paris atau Brussels, dan dari sana melanjutkan dengan kereta api ke Swiss. Ini adalah salah satu tantangan logistik terbesar yang dihadapi Lev.
"Alhamdulillah, kita berhasil pindah stasiun tanpa ada yang hilang, Yah!" seru Anindya lega, saat mereka duduk di dalam kereta Eurostar yang melaju kencang di bawah Channel Tunnel menuju Paris.
"Itu karena Aisyah yang pegang kendali timeline, Bu," puji Lev, sambil melirik Aisyah yang tampak kelelahan tapi puas.
Perjalanan kereta ini memberikan pengalaman baru bagi anak-anak. Kereta super cepat yang menembus terowongan bawah laut membuat Ghina dan Rayyan takjub sekaligus sedikit ngeri.
"Kita di dalam air ya, Yah?" tanya Rayyan polos.
"Iya, Nak. Hebat ya teknologi manusia. Semua atas izin Allah," jawab Lev.
Tiba di Paris Gare du Nord, mereka harus sprint kecil untuk mengejar kereta TGV Lyria tujuan Basel, Swiss. Kepanikan sempat melanda saat Anindya salah arah, tapi Lev berhasil mengkoordinasi semua anggota keluarga dan mereka berhasil naik kereta tepat waktu.
Begitu kereta meninggalkan Paris dan memasuki wilayah pedesaan Prancis, pemandangan di luar jendela mulai berubah drastis. Perbukitan hijau, kebun anggur, dan rumah-rumah pedesaan yang asri menghampar luas.
"Masya Allah, indah sekali alamnya," bisik Maryam, langsung membuka sketchbook-nya. Pemandangan ini jauh lebih indah dari sketsa pegunungan yang ia bayangkan di Banjarmasin.
Namun, drama perjalanan jauh kembali menghantam. Perut Rayyan mulai keroncongan, dan Ghina mulai bosan. Anindya, sang ibu siaga, langsung membuka ransel daruratnya.
"Tenang, anak-anak. Ibu punya perbekalan!" seru Anindya.
Dari ranselnya, Anindya mengeluarkan berbagai camilan khas Indonesia yang ia beli di toko kelontong di Manchester, dan bahkan beberapa bungkus kerupuk udang yang dibeli Lev.
"Mana bisa makan kerupuk di kereta sepi begini, Bu?" protes Lev, khawatir suara 'krek-krek' kerupuk akan mengganggu penumpang lain.
"Bisa dong, Yah. Pelan-pelan makannya," Anindya membagikan kerupuk ke anak-anak.
Suasana gerbong kereta yang tenang mendadak diisi oleh suara renyahan kerupuk udang. Beberapa penumpang Eropa melirik penasaran, tapi keluarga Ryley tak peduli. Perut anak-anak kenyang, suasana hati membaik, dan tawa kembali terdengar.
Perjalanan berlanjut. Setelah transit sebentar di Basel SBB (stasiun perbatasan Swiss), mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta Swiss Federal Railways (SBB) menuju Interlaken, gerbang menuju Pegunungan Alpen.
Pemandangan dari jendela kereta SBB jauh lebih menakjubkan. Danau-danau berwarna biru toska, gunung-gunung menjulang tinggi yang puncaknya mulai terlihat salju, dan padang rumput hijau dengan sapi-sapi yang memakai lonceng.
"Yah, sapinya pakai kalung bel!" seru Ghina takjub.
"Iya, itu khas Swiss, Nak," jawab Lev, yang juga terpana.
Matahari mulai condong ke barat saat kereta mereka tiba di Stasiun Interlaken Ost. Udara pegunungan yang sangat sejuk langsung menyambut mereka. Pemandangan gunung es raksasa Eiger, Mönch, dan Jungfrau di kejauhan terlihat megah, seolah menyambut kedatangan mereka.
"Masya Allah, tabarakallah," Anindya berbisik, terpesona oleh keagungan ciptaan Allah. Semua drama perjalanan panjang, drama koper, dan drama belanja terbayar lunas.
Mereka telah sampai di Interlaken. Babak baru petualangan di negeri dongeng Swiss siap dimulai. Anindya, dengan mantel barunya dari Trafford Centre, sudah siap untuk berpose estetik di depan gunung bersalju besok pagi.
