Bab 21: Pelukan Ibu

Bab 21: Pelukan Ibu

Lev
0

Hari-hari pertama Anindya di rumah terasa kaku. Ayah dan ibunya tetap dingin, seolah menjaga jarak. Obrolan hanya seputar hal-hal remeh, tidak pernah menyentuh topik sensitif. Anindya mencoba menunjukkan dirinya yang sekarang, dengan tutur kata yang lebih lembut dan sikap yang lebih sabar. Ia tetap salat lima waktu, meskipun terkadang harus sembunyi-sembunyi agar tidak memicu konflik.

Suatu sore, saat Anindya sedang duduk di taman belakang, ibunya datang menghampiri. Ibunya membawa dua cangkir teh hangat, salah satunya ia sodorkan kepada Anindya. Anindya menerimanya, terkejut dengan sikap ibunya yang berbeda.

"Kamu... sudah makan?" tanya ibunya, suaranya pelan.

"Sudah, Bu," jawab Anindya, merasa haru.

Mereka duduk berdua dalam keheningan, menikmati teh hangat dan keindahan taman. Anindya memberanikan diri untuk memulai percakapan.

"Bu, Anin tahu Ibu masih kecewa sama Anin," kata Anindya pelan. "Tapi Anin mohon, Bu, jangan biarkan kekecewaan itu menghalangi Ibu untuk melihat Anin yang sekarang."

Ibunya menoleh, menatap Anindya dengan mata berkaca-kaca. "Ibu tidak bisa, Karina. Ibu... Ibu rindu Karina yang dulu. Karina yang selalu cerita tentang pacarnya, tentang pesta, tentang teman-temannya. Ibu tidak kenal kamu yang sekarang."

"Anin juga rindu Ibu," kata Anindya, air matanya mulai menetes. "Anin juga rindu masa lalu. Tapi Anin tidak bisa kembali ke sana, Bu. Hati Anin sudah memilih jalan ini. Dan Anin bahagia, Bu. Anin menemukan ketenangan yang selama ini Anin cari."

"Ketenangan apa yang kamu dapat kalau kamu harus menyakiti Ibu begini?" tanya ibunya, suaranya sedikit meninggi.

"Ibu, Anin tidak pernah bermaksud menyakiti Ibu," jawab Anindya. "Justru karena Anin sayang sama Ibu, Anin mau Ibu lihat. Anin tidak dicuci otak. Anin tidak dipaksa. Ini adalah jalan yang Anin pilih sendiri, setelah Anin merenung panjang."

Ibunya kembali terdiam. Ia menatap wajah Anindya, mencari-cari jejak Karina yang lama. Namun, yang ia lihat hanyalah Anindya yang baru, yang memancarkan ketenangan dan kedamaian. Ia melihat mata putrinya yang dulu penuh ambisi, kini penuh dengan cahaya.

Tiba-tiba, ibunya meletakkan cangkir tehnya, lalu memeluk Anindya erat. Pelukan yang dulu kaku, kini terasa hangat dan tulus. Air mata ibunya membasahi kerudung Anindya.

"Ibu... Ibu tidak tahu harus bagaimana," bisik ibunya, suaranya bergetar. "Ibu hanya takut kamu salah jalan. Ibu hanya ingin kamu bahagia."

"Anin bahagia, Bu. Anin sangat bahagia," kata Anindya, membalas pelukan ibunya dengan erat. "Ini adalah kebahagiaan yang sejati, Bu."

Pelukan itu berlangsung lama, seolah ingin menebus semua jarak dan kesalahpahaman yang terjadi. Ibunya melepaskan pelukan, lalu mengusap air mata Anindya.

"Ibu tidak janji akan langsung mengerti," kata ibunya, tersenyum kecil. "Tapi Ibu akan mencoba. Ibu akan mencoba melihat Anindya yang baru ini."

Anindya tersenyum, senyum yang tulus, yang datang dari hati yang paling dalam. Ia tahu, ia telah berhasil menembus dinding yang selama ini memisahkan mereka. Ia tahu, perjalanannya masih panjang, tetapi dengan restu ibunya, ia merasa lebih kuat. Malam itu, di pelukan ibunya, Anindya merasa ia benar-benar telah pulang.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default