Bab 2: Tamu dari Masa Lalu dan Gagal Keren di Simpang Empat

Bab 2: Tamu dari Masa Lalu dan Gagal Keren di Simpang Empat

Lev
0
Baca novel Islami 'Luka di Simpang Empat'. Kisah Lev ℛyley yang mengorbankan wanita tulus demi cinta sepihak, namun berakhir ngenes di Banjarbaru. Cerita slice of life sedih, komedi, dan penuh hikmah di Kalimantan Selatan. Baca 25 Bab Lengkap di sini!




Sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan di aspal Jalan Ahmad Yani. Lev ℛyley mengendarai motor matic-nya dengan kecepatan yang lebih lambat dari biasanya. Pikirannya masih tertinggal di layar ponsel yang menampilkan undangan pernikahan Alya. Ia merasa seperti desain grafis yang gagal total; semua elemen hidupnya berantakan, layout-nya hancur, dan warnanya memudar.

“Lev! Fokus, Lev! Merah itu!” teriak Fikri yang membonceng di belakang, hampir terjungkal saat Lev mengerem mendadak di Simpang Empat Banjarbaru.

Tepat di depan mereka, sebuah baliho besar menampilkan iklan perumahan syariah dengan gambar pasangan bahagia. Lev membuang muka. Bahkan papan iklan pun mengejekku, batinnya.

“Kita mau ke mana sih, Fik?” tanya Lev malas.

“Ke Hello Coffee. Kamu butuh asupan kafein dan suasana vintage buat menata ulang otakmu yang korslet itu,” jawab Fikri sembari menunjuk ke arah Loktabat.

Sesampainya di sana, Lev memilih meja di sudut, berharap tidak ada yang mengenalinya. Namun, takdir di Banjarbaru tampaknya sekecil biji kopi. Baru saja ia menyesap Manual Brew pesanannya, pintu kafe berdenting. Sosok wanita dengan jilbab anggun masuk.

Itu Sarah. Gadis yang tiga bulan lalu lamarannya ia tolak mentah-mentah demi “menjaga kesetiaan” pada Alya.

Lev mendadak tersedak. Ia mencoba menutupi wajahnya dengan menu, tapi terlambat. Sarah sudah melihatnya dan melangkah mendekat. Fikri, sang sahabat yang sangat membantu itu, justru mendadak pamit ke toilet, meninggalkan Lev dalam kecanggungan yang hakiki.

“Assalamu’alaikum, Kak Lev,” sapa Sarah tenang. Suaranya masih selembut dulu, tipe suara yang membuat orang ingin segera bertaubat.

“Wa... wa’alaikumussalam, Sarah. Apa kabar?” Lev berusaha terdengar keren, padahal ada bekas busa kopi di sudut bibirnya.

“Alhamdulillah, baik. Saya dengar... Alya akan menikah minggu depan?” tanya Sarah langsung. Tidak ada nada mengejek, hanya ketulusan yang justru membuat hati Lev makin teriris.

Lev mengangguk kaku. “Iya. Begitulah takdir.”

“Kak,” Sarah duduk di kursi depan Lev sejenak. “Dulu Kakak bilang menolak saya karena ingin menjaga hati untuk seseorang yang Kakak yakini adalah jodoh dari Allah. Sekarang, saat Allah menunjukkan bahwa dia bukan orangnya, apakah Kakak menyesal telah menutup pintu untuk orang lain?”

Pertanyaan itu menghantam Lev lebih keras daripada klakson truk di Liang Anggang. Ia teringat bagaimana ia menyia-nyiakan Sarah, lalu Dina, dan Maya. Ia merasa telah menjadi "penjaga gerbang" yang menjaga pintu untuk orang yang bahkan tidak berniat masuk.

“Aku... aku hanya mencoba istiqomah, Sar,” dalih Lev lemah.

Sarah tersenyum tipis, tipe senyum yang menyiratkan bahwa dia sudah move on sepenuhnya. “Istiqomah itu bagus, Kak. Tapi dalam Islam, kita diajarkan untuk bertawakal setelah usaha, bukan memaksakan kehendak kita kepada Allah. Semoga Kakak segera menemukan damai.”

Sarah pamit tak lama kemudian, meninggalkan Lev yang mematung. Di luar, cuaca Banjarbaru kembali terik. Lev sadar, ia tidak hanya kehilangan Alya, tapi ia juga telah kehilangan banyak waktu dan kesempatan untuk menghargai ketulusan yang pernah singgah.

“Gimana? Masih mau nunggu Alya di depan pelaminan sambil bawa spanduk 'Aku Masih Cinta'?” celetuk Fikri yang tiba-tiba muncul kembali dari toilet.

“Fik, aku mau ke Masjid Agung Al-Munawwarah,” ujar Lev tiba-tiba.

“Mau nikah siri sama siapa?”

“Mau sujud syukur, Fik. Syukur karena Allah masih mau negur aku lewat cara yang ngenes begini.”


Lanjut ke Bab 3? Lev akan mencoba memulai "misi pembersihan hati" di Hutan Pinus Mentaos, tapi malah bertemu dengan mantan lainnya dalam situasi yang sangat memalukan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default