Bab 18: Perpisahan di Bandara dan Hati yang Penuh Tanda Tanya

Bab 18: Perpisahan di Bandara dan Hati yang Penuh Tanda Tanya

Lev
0
Kabar kepulangan Adam ke Indonesia karena ayahnya sakit, membuat hati Maimunah kembali terasa kosong. Ia merasa, ia baru saja menemukan keluarga, tetapi kini ia harus kehilangannya lagi. Malam itu, di apartemen Adam, mereka berempat, Maimunah, Yumi, Zainab, dan Adam, makan malam bersama. Suasana terasa sendu.

"Aku... aku minta maaf," kata Maimunah, suaranya bergetar.

"Untuk apa, Mun?" tanya Adam, tersenyum.

"Aku... aku belum bisa berterima kasih banyak," jawab Maimunah. "Kamu udah banyak bantu aku."

"Nggak apa-apa, Mun," kata Adam, "kamu udah jadi sahabat terbaikku."

Maimunah terharu. Ia merasa, Adam adalah sosok kakak yang bijaksana.

"Aku mau pulang, Dam," kata Maimunah, "aku mau jagain Ayah."

Adam mengangguk. "Itu pilihan yang tepat, Mun."

Yumi dan Zainab juga merasa sedih. Mereka merasa, mereka akan kehilangan Adam.

"Kita akan selalu kontak, kan?" tanya Yumi.

"Tentu saja," jawab Adam. "Aku akan selalu ingat kalian."

Keesokan harinya, mereka mengantar Adam ke bandara. Salju turun dengan lebat, membuat suasana terasa semakin melankolis. Maimunah memeluk Adam erat-erat.

"Dam, jaga diri baik-baik," kata Maimunah, air matanya tumpah.

"Kamu juga, Mun," kata Adam, "jangan lupa sholat. Jangan lupa hijrah."

Maimunah mengangguk.

Adam memeluk Zainab dan Yumi. "Kalian juga, ya. Jaga diri baik-baik."

Zainab dan Yumi mengangguk. Mereka merasa, mereka akan merindukan Adam.

Setelah Adam masuk ke dalam, Maimunah, Yumi, dan Zainab kembali ke asrama. Di perjalanan, mereka hanya terdiam. Mereka merasa, mereka telah kehilangan sebagian dari diri mereka.

Di asrama, mereka berempat duduk di ruang tamu. Maimunah menatap cangkir tehnya yang kosong. Ia merasa, hatinya juga kosong.

"Aku kangen Adam," gumam Maimunah.

"Aku juga, Mun," jawab Yumi.

"Aku juga," tambah Zainab.

Maimunah merasa, ia harus kuat. Ia harus melanjutkan hidup. Ia harus melanjutkan hijrahnya.

Namun, di tengah-tengah kesedihan itu, tiba-tiba Zainab mendapatkan telepon. Zainab mengangkatnya, dan ia terkejut.

"Adam... dia... dia kecelakaan," kata Zainab, suaranya bergetar.

Jantung Maimunah seakan berhenti berdetak. Ia menatap Zainab. Ia merasa, dunia seakan runtuh.

To be continued...

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default