BAB 4: Pesona Api Abadi dan Konten "Membara" Ghina Qalbi

BAB 4: Pesona Api Abadi dan Konten "Membara" Ghina Qalbi

Lev
0
Ikuti petualangan seru nan haru keluarga Lev Ryley (Banjarmasin) & Muhammad Hifni (Tabalong) dari Mekah hingga ke Murung Pudak. Novel Slice of Life Islami tentang ukhuwah, komedi kucing, dan keindahan wisata Jaro.



Matahari sore di Tabalong mulai melunak, menyisakan warna jingga yang memantul di kaca jendela mobil Lev ℛyley. Sesuai rencana, rombongan besar ini bergerak menuju ikon kebanggaan masyarakat lokal: Tugu Obor Api Nan Saraba Kawa.

"Yah, itu kompor raksasa ya?" tanya Rayyan polos saat melihat lidah api asli yang menyembur dari puncak tugu setinggi puluhan meter itu.

Lev tertawa sambil memarkir mobil di area yang representatif untuk pengambilan foto. "Bukan kompor, jagoan. Itu api abadi. Tandanya semangat orang Tabalong nggak pernah padam, kayak semangat Ayah nyari sinyal buat Bunda."

Begitu turun, Anindya Putri langsung beraksi. Ia mengenakan kacamata hitam dan merapikan outer suteranya. "Aisyah, tolong ambil sudut low angle ya, biar Tugu Obornya kelihatan megah di belakang Bunda."

Namun, sang bintang utama sore itu bukanlah Anindya, melainkan Ghina Qalbi. Gadis bungsu yang ekspresif ini sudah menyiapkan mikrofon clip-on nirkabel yang ia tempel di kerudungnya.

"Halo warga internet! Update terbaru dari tim 'Invasi Tabalong'. Sekarang aku lagi di depan Tugu Obor Tanjung. Kalian tahu nggak? Api ini berasal dari gas alam asli, lho! Bukan pakai korek kayu apalagi pakai emosi netizen," celoteh Ghina ke arah kamera ponsel yang dipegang Maryam.

Pak Hifni yang berdiri di samping drg. Dina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelincahan bocah Banjarmasin itu. "Pak Lev, anak pian ini kalau besar nanti cocok jadi Humas Pemkab Tabalong. Promosinya lebih jago dari staf saya di kantor."

"Promosinya jalan, Pak Hifni. Tapi tagihan kuotanya juga jalan terus," balas Lev sambil terkekeh.

Di sisi lain, "Duo Salsabilla"—Salsa (Khalisah) dan Bella (Naura)—tampak sudah mulai akrab. Mereka berlarian di pelataran tugu yang bersih. Maryam Safiya, dengan ketenangannya yang khas, duduk di salah satu bangku taman. Ia membuka buku sketsanya, goresan pensilnya mulai membentuk siluet tugu yang ikonik itu dengan latar langit Murung Pudak yang mulai meredup.

"Bagus ya, Kak Maryam," puji Ibu Rina yang menghampirinya. "Tabalong itu tenang. Cocok buat melukis."

"Iya, Tante. Di sini suasananya beda. Kayak ada kedamaian yang sama waktu kita di pelataran Masjid Nabawi dulu," jawab Maryam lembut, membuat Ibu Rina tertegun haru.

Tiba-tiba, sebuah drama kecil terjadi. Rayyan, yang merasa "api" di atas tugu itu sangat keren, mencoba meniupnya dari kejauhan dengan sekuat tenaga. Wajahnya sampai merah padam.

"Rayyan, sayang, itu apinya jauh di atas. Nggak bakal mati cuma ditiup," ujar drg. Dina sambil menahan tawa.

"Tapi kata Guru Ngaji, kalau ada api harus baca doa biar nggak panas, Tante!" balas Rayyan dengan keyakinan penuh. Ia pun mulai komat-kamit membaca doa, membuat para orang tua terdiam sejenak, lalu tersenyum menyadari betapa polos dan murninya hati anak-anak.

Malam mulai turun. Cahaya dari Tugu Obor semakin terang, menjadi mercusuar di tengah kegelapan. Pak Hifni mengajak mereka semua bergeser ke arah pusat kota untuk mencicipi jajanan malam.

"Misi hari ini sukses, Pak Lev. Tapi besok ada tantangan lebih berat," bisik Pak Hifni penuh rahasia.

"Apa itu, Pak?"

"Besok kita ke pasar. Dan saya dengar, istri-istri kita sudah buat grup WhatsApp khusus untuk rencana 'borong' kerajinan rotan," jawab Pak Hifni pasrah.
Lev hanya bisa menatap langit, membayangkan bagasi mobilnya yang akan semakin menjerit saat pulang nanti.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default