Bab 8 novel Islami Khalisah dan Rabiatun menjelajahi tebing kapur putih Étretat di Prancis. Saksikan pesona alam ikonik, momen lucu melawan angin, pelajaran sejarah, dan tips traveling ramah Muslimah di Normandia.
Bab 8: Sejarah dan Pesona Étretat, Prancis
Dari hangatnya Portugal selatan, Khalisah dan Rabiatun terbang ke Prancis utara, ke wilayah Normandia yang bersejarah. Destinasi mereka kali ini adalah Étretat, sebuah pantai yang terkenal bukan karena pasirnya yang luas, melainkan karena tebing kapur putih ikonik dan lengkungan alami (l'arche) yang telah menginspirasi banyak seniman, termasuk Monet.
Setibanya di sana, suasana langsung terasa berbeda. Udaranya lebih sejuk, angin laut bertiup kencang, dan pemandangan didominasi oleh warna putih kapur yang dramatis.
"Wow, kontras banget sama pantai-pantai di Mediterania kemarin," ujar Rabiatun, sambil mengeratkan syalnya. "Dingin-dingin sedap!"
Mereka menginap di sebuah gîte (penginapan khas Prancis) yang nyaman di desa Étretat. Setelah shalat Subuh, mereka langsung menuju pantai untuk menikmati pemandangan di pagi hari. Pantai di sini didominasi oleh kerikil besar, bukan pasir lembut.
Pemandangan tebing kapur yang menjulang tinggi, dengan tiga lengkungan alami (Porte d'Aval, Porte d'Amont, dan Manneporte) yang terlihat jelas dari pantai, sungguh menakjubkan. Bentuknya yang unik seperti belalai gajah memukau mata mereka.
"Masya Allah, arsitek alam terbaik memang Allah SWT," bisik Khalisah penuh kekaguman.
Mereka memutuskan untuk mendaki ke puncak tebing di sisi Porte d'Aval untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik. Jalurnya cukup menanjak, tapi sepadan dengan pemandangan yang ditawarkan. Saat di puncak, angin bertiup sangat kencang.
Momen komedi pun tak terelakkan. Angin yang kencang membuat jilbab instan Rabiatun jadi sedikit berantakan. Ia harus berkali-kali membetulkan posisinya, sementara Khalisah sibuk memegangi jilbabnya agar tetap rapi.
"Ya ampun, ini anginnya niat banget ya niupnya!" keluh Rabiatun sambil tertawa, mencoba berswafoto dengan latar belakang lengkungan batu, tapi yang didapat malah foto jilbabnya yang terbang ke segala arah.
Beberapa turis lain yang juga berada di puncak tebing ikut tersenyum melihat perjuangan Rabiatun melawan angin. Suasana kehidupan bermasyarakat di sini santai, dengan turis dari berbagai negara menikmati pemandangan alam yang dramatis ini.
Setelah puas menikmati pemandangan dan menertawakan insiden jilbab terbang, mereka turun dan berjalan-jalan di desa Étretat. Mereka menemukan sebuah toko roti kecil yang menjual baguette dan croissant halal (tanpa lemak babi dan alkohol). Aroma roti yang baru matang sangat menggoda.
Mereka juga menyempatkan diri untuk mengunjungi area dekat pantai yang merupakan lokasi pendaratan Normandia (D-Day) saat Perang Dunia II. Meskipun lokasi utama pendaratan ada di pantai lain di Normandia, Étretat memiliki monumen peringatan dan bunker tua yang masih tersisa.
Khalisah dan Rabiatun mengambil hikmah dari sejarah tersebut. Mereka merenungkan tentang perjuangan, pengorbanan, dan betapa berharganya perdamaian. Suasana pantai yang kini damai menjadi kontras dengan sejarah kelam peperangan di masa lalu.
"Sejarah mengajarkan kita banyak hal ya, Khal. Pentingnya menjaga perdamaian dan bersyukur atas nikmat keamanan yang kita punya sekarang," ujar Rabiatun dengan nada serius, tidak seperti biasanya.
Khalisah mengangguk setuju. "Betul, Bun. Setiap tempat punya cerita sejarahnya masing-masing. Dan kita bisa belajar banyak dari situ."
Menjelang sore, mereka kembali ke pantai dan menikmati suasana tenang. Air lautnya yang berwarna abu-abu kehijauan memberikan nuansa melankolis yang indah.
Khalisah mencatat pengalaman mereka di buku agendanya:
Catatan Perjalanan Étretat:
*Pemandangan tebing dan lengkungan alami sangat ikonik dan worth the visit.
*Angin di puncak tebing sangat kencang, siapkan jilbab atau penutup kepala yang kuat.
*Pantai kerikil, bukan pasir, siapkan alas kaki yang sesuai.
*Pelajaran sejarah D-Day memberikan wawasan mendalam.
Roti halal mudah ditemukan di toko roti lokal.
Étretat memberikan mereka pengalaman yang berbeda: keindahan alam yang dramatis berpadu dengan sejarah yang mendalam. Mereka meninggalkan Prancis utara dengan rasa syukur dan wawasan baru, siap untuk kembali ke Italia, kali ini ke pantai urban Rimini yang terkenal.
