Bab 3: Ngidam English Breakfast dan Sinyal Masa Lalu

Bab 3: Ngidam English Breakfast dan Sinyal Masa Lalu

Lev
0
Ikuti perjalanan keluarga mereka dalam menyambut kehadiran anak kembar setelah perjalanan umrah. Sebuah kisah slice of life Islami tentang persaudaraan Khalisah dan Naura, hobi memelihara kucing, dan bumbu komedi kehidupan bertetangga.

Memasuki minggu kedelapan kehamilan, hormon Rina Rufida mulai menunjukkan taringnya. Sebagai guru Bahasa Inggris, "efek samping" kehamilannya tergolong unik. Jika ibu hamil lain biasanya mengidam mangga muda atau bakso gerobak, Rina justru mendadak sangat British.

"Bi, I need a proper English breakfast," gumam Rina suatu Sabtu pagi dengan lemas. "Lengkap dengan baked beans, sosis, dan telur mata sapi yang kuningnya masih goyang."

Hifni, yang sedang asyik mencuci mobil dinas di halaman, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mi, di kantin kantor Abi cuma ada nasi uduk sama gorengan. Kalau mau kacang merah, adanya di es kacang merah dekat pasar."

Rina cemberut. "Pokoknya mau itu, Bi. Demi calon adik Khalisah."

Melihat istrinya yang mulai mual-mual lagi, Hifni akhirnya mengalah. Ia segera mencari kafe yang menyediakan menu tersebut. Namun, sebelum mereka sempat berangkat, masalah lain muncul. Khalisah Salsabilla berlari dari arah taman sambil menangis sesenggukan.

"Abi! Umi! Giginya Kiko goyang!" teriak Khalisah sambil menggendong kucingnya yang tampak pasrah.

"Kak, kucing memang ada fase ganti gigi," hibur Hifni. Namun, tangisan Khalisah justru makin kencang. Ia mengadu bahwa bukan hanya Kiko, tapi giginya sendiri juga terasa sakit karena ikut-ikutan menggigit mainan kucingnya.

"Ya sudah, kita ke dokter gigi dulu. Sekalian Abi cari sarapan pesanan Umi," putus Hifni.

Mereka akhirnya sampai di sebuah klinik gigi yang tampak asri di sudut komplek perumahan. Papan namanya tertulis jelas: Klinik Gigi drg. Dina Yulianti. Begitu masuk, aroma sterilisasi khas medis menyeruak.

"Eh, Hifni?" sebuah suara lembut memanggil dari arah meja resepsionis.

Hifni mematung. Wanita itu mengenakan snelli (jas dokter) yang sangat rapi. Itu adalah Dina, teman masa kuliah Hifni—atau lebih tepatnya, seseorang yang pernah mengisi bab khusus di buku harian masa muda Hifni sebelum ia bertemu Rina.

"Dina? Eh, Dokter Dina," sapa Hifni kaku, mendadak sifat "PNS teladan"-nya yang formal keluar secara otomatis.

Rina yang berada di samping Hifni langsung menyipitkan mata. Insting seorang istri sekaligus guru bahasa Inggrisnya mendeteksi adanya past tense yang belum sepenuhnya terkubur dalam nada bicara suaminya.

"Wah, Rina ya? Apa kabar?" Dina menyapa ramah, mencoba mencairkan suasana. "Iya, aku buka klinik di sini. Oh, ini Khalisah? Cantik sekali."

"Nama aku Khalisah Salsabilla, Dokter," sahut Khalisah sambil menunjukkan kucingnya. "Gigi aku sakit gara-gara Kiko."

Dina tertawa renyah. "Lucu sekali. Eh, Naura! Sini sayang, ada teman seumuran kamu."

Dari ruang dalam, muncul seorang anak perempuan yang sangat mirip dengan Dina. "Halo, aku Naura Salsabilla," ucap anak itu sopan.

Hening sejenak.

"Salsabilla?" ulang Rina dengan nada yang naik satu oktaf. Ia menoleh ke arah Hifni yang tiba-tiba sangat tertarik memperhatikan poster cara menyikat gigi di dinding. "Bi, kok bisa ya nama belakangnya sama persis? What a coincidence, right?"

Hifni berdehem keras. "Iya, Mi. Salsabilla kan artinya mata air di surga. Semua orang tua pasti mau anaknya sejuk seperti air."

"Oh, tentu saja," balas Rina sambil tersenyum manis yang membuat bulu kuduk Hifni meremang. "Sangat sejuk sampai-sampai Abi juga memberikan nama itu untuk anak kita."

Dina, yang menyadari situasi mulai sedikit canggung, segera mengalihkan pembicaraan. "Ayo Khalisah, kita periksa dulu giginya. Naura, ajak temannya main dulu ya."

Selama Khalisah diperiksa, Hifni duduk di ruang tunggu dengan keringat dingin, sementara Rina terus memperhatikannya sambil mengelus perutnya yang mulai buncit. Di satu sisi, ada kebahagiaan tentang kehamilan ganda yang belum mereka ketahui (karena baru akan ketahuan di USG bab depan), di sisi lain ada drama "masa lalu" yang mendadak muncul di depan mata.

"Bi," bisik Rina pelan.

"Iya, Mi?"

"Besok-besok, kalau kita punya anak lagi, namanya jangan ada unsur 'Salsabilla' lagi ya. Biar nggak ketuker sama anak mantan."

Hifni hanya bisa mengangguk pasrah. Di pojok ruangan, Naura dan Khalisah justru asyik bermain dengan kucing mainan, tidak sadar bahwa nama mereka akan menjadi legenda perdebatan di rumah tangga Hifni selama beberapa hari ke depan.

Lanjut ke Bab 4: Rahasia Perut Besar dan USG yang Mengejutkan? Di bab selanjutnya, mereka akan tahu kalau ada "dua penumpang" di rahim Rina!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default