Banjarbaru, 20 Juli 2026
Bulan Juli di Banjarbaru tahun 2026 ini terasa sangat panas. Lev Ryley duduk di teras rumahnya sambil memegang sebuah kacamata dengan bingkai hitam tipis—kacamata milik Vania yang masih ia simpan dengan rapi. Ia teringat tanggal ini sebelas tahun yang lalu, saat dunia Vania perlahan-lahan mulai menjadi gelap, bukan karena malam telah tiba, tapi karena sel-sel jahat itu telah mencapai saraf penglihatannya.
"Kamu selalu bilang ingin melihat wajahku di saat terakhirmu, Van," bisik Lev lirih. Air mata yang coba ia bendung akhirnya jatuh juga, membasahi lensa kacamata yang tak akan pernah lagi dipakai oleh pemiliknya. Di tahun 2026, Lev menyadari bahwa penderitaan fisik yang dialami Vania saat itu adalah bentuk pembersihan dosa yang paling agung, meski saat itu ia hampir menyerah pada rasa sakitnya sendiri.
Banjarbaru, Juli 2015
Kegembiraan di Hutan Pinus Mentaos sebulan lalu seolah-olah terjadi di kehidupan yang berbeda. Kini, realitas di RSUD Idaman Banjarbaru terasa sepuluh kali lebih kejam. Kondisi Vania Larasati merosot tajam hanya dalam hitungan hari. Sel leukemia yang sangat agresif itu dikabarkan telah melakukan metastasis—penyebaran—hingga ke sistem saraf pusat.
Vania kini lebih banyak terdiam. Bukan karena ia tidak ingin bicara, tapi karena rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang belakang membuatnya kehilangan tenaga bahkan hanya untuk sekadar menggerakkan bibir.
Sore itu, Lev duduk di samping tempat tidur Vania, membacakan beberapa bait puisi Islami yang dulu sangat Vania sukai. Namun, Lev menyadari ada yang aneh. Mata Vania yang biasanya mengikuti arah gerakannya, kini tampak kosong dan menatap lurus ke atas.
"Vania? Kamu dengar aku, kan?" tanya Lev lembut, sambil melambaikan tangan di depan wajah kekasihnya.
Vania tidak berkedip. Ia mengedipkan matanya perlahan, lalu dengan suara yang sangat parau, ia bertanya, "Lev... kenapa lampunya dimatikan? Ini sudah malam ya? Tolong nyalakan lampunya, aku ingin lihat wajahmu sebentar saja."
Deg. Jantung Lev seolah berhenti berdetak. Padahal saat itu jam baru menunjukkan pukul empat sore, dan cahaya matahari Banjarbaru sedang terang-terangnya masuk melalui celah jendela kamar rumah sakit.
"Van... lampunya menyala. Matahari masih ada di luar," jawab Lev dengan suara yang bergetar hebat. Ia mencoba menahan isak tangis yang mulai menyeruak di tenggorokannya.
Vania terdiam lama. Tangannya meraba-raba ke arah suara Lev. Dengan cepat, Lev menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat. Vania mulai terisak, air mata mengalir dari sudut matanya yang kini tampak kuyu.
"Berarti... mataku sudah tidak berfungsi ya, Lev? Aku sudah gelap?" isak Vania pilu. "Ya Allah... hamba rida jika harus kehilangan raga, tapi hamba mohon, izinkan hamba tetap bisa mengingat wajah orang-orang yang hamba cintai..."
Lev merengkuh kepala Vania, memeluknya dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu selang-selang yang menempel di tubuh gadis itu. "Vania, dengar aku. Meski matamu tidak bisa melihat, hatimu tetap bisa merasakan kehadiranku. Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana. Kamu bisa melihatku melalui doa-doa yang aku bisikkan di telingamu."
Hari-hari berikutnya menjadi ujian mental yang luar biasa bagi Lev. Vania mulai sering mengalami kejang ringan karena tekanan di otaknya. Kadang ia mengigau, memanggil-manggil ibunya atau menyebut nama Lev berkali-kali seolah ia tersesat di sebuah lorong yang gelap.
Setiap kali Vania mengigau, Lev akan membisikkan asmaul husna ke telinganya. Ajaibnya, setiap kali mendengar asma Allah, tubuh Vania yang tegang perlahan-lahan akan merelaksasi. Seolah-olah nama Tuhan adalah satu-satunya navigasi yang tersisa bagi jiwanya yang sedang terombang-ambing.
Di usia 20 tahun, di saat teman-teman kuliah mereka sedang sibuk memikirkan judul skripsi atau liburan semester, Lev Ryley sedang belajar tentang "Kematian Indrawi". Ia belajar bahwa cinta sejati tetap mampu berkomunikasi meski melalui kesunyian dan kegelapan.
Malam itu, di bawah langit Banjarbaru yang bertabur bintang namun terasa kelabu bagi Lev, ia menuliskan sesuatu di jurnalnya: “Jika Allah mengambil cahaya dari matamu, semoga Dia meletakkan cahaya yang lebih terang di dalam kalbumu, Vania. Aku akan menjadi matamu, aku akan menjadi telingamu, sampai kita sampai di garis finish yang telah Allah tentukan.”
Vonis demi vonis terus berjatuhan dari mulut dokter, namun Lev tetap berdiri tegak di samping ranjang Vania. Ia tahu, babak akhir dari kisah ini kian mendekat. Dan di bulan Juli yang menyakitkan ini, ia mulai belajar melepaskan egonya untuk memiliki Vania selamanya di dunia.
