Listen Before I Go menceritakan puisi-puisi puncak keikhlasan Lev Ryley melepas Vania Larasati di Banjarbaru.
Sinar matahari pagi menembus celah-celah pohon trambesi di sepanjang Jalan Ahmad Yani. Lev Ryley berjalan kaki dengan langkah yang masih terasa berat, meski hatinya sedikit lebih ringan setelah menumpahkan duka ke dalam tulisan semalam. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan fisik—tempat di mana draf asli "Listen Before I Go" bersemayam.
Ia memutuskan untuk mengunjungi sebuah kafe kecil di dekat kawasan Minggu Raya. Kafe itu dulu adalah tempat favorit Vania Larasati untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Lev memilih meja di pojok, tempat yang sama di mana setahun lalu ia sering melihat Vania bergelut dengan buku Manajemen pendidikan sambil sesekali mengeluh tentang pusing kepala yang hebat—yang saat itu mereka kira hanya karena kelelahan belajar.
Saat Lev baru saja membuka bukunya, seorang pelayan muda mendekat. Bukannya menanyakan pesanan, gadis itu justru menatap Lev dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf... apakah Anda Bang Lev Ryley?" tanyanya ragu.
Lev mendongak, sedikit terkejut. "Iya, benar."
"Saya membaca puisi Anda semalam. Bagian ketiga, yang tentang sepertiga malam," suara gadis itu bergetar. "Adik saya sedang berjuang melawan leukemia di RSUD Idaman. Membaca tulisan Abang tentang Kak Vania... membuat saya merasa tidak sendirian. Terima kasih telah menulis itu."
Lev tertegun. Ia tidak menyangka bahwa kata-kata yang ia tulis dengan air mata di kesunyian kamar, bisa menjadi sandaran bagi orang asing di tengah hiruk-pikuk kota. Ia menyadari bahwa di Banjarbaru ini, ada ribuan "Vania" lain yang sedang berjuang, dan ribuan "Lev" lain yang sedang ketakutan akan kehilangan.
Setelah pelayan itu pergi, Lev menarik napas panjang. Ia mengambil pena dan mulai menulis bab lanjutan dari pesannya. Kali ini, tulisannya bukan lagi sekadar ratapan, melainkan sebuah seruan untuk bertindak.
Puisi: Listen Before I Go (Bagian IV – Tangan yang Terulur)
Dengarkanlah, sebelum aku pergi dari meja kenangan ini,
Dunia ini terlalu bising dengan keluhan yang tak berujung.
Kita sering menangis karena kehilangan hal-hal kecil,
Padahal di luar sana, ada jiwa yang sedang menawar waktu pada malaikat maut.
Listen before I go...
Dengarlah suara mereka yang berbisik di bangsal-bangsal putih.
Vania tidak mati agar aku menjadi pendiam dan pengurung diri,
Ia pergi agar aku menjadi penyambung lidah bagi mereka yang tak sanggup lagi bicara.
Kanker mungkin mencuri masa muda, tapi ia tak boleh mencuri harapan.
Dengarlah, sebelum tinta ini mengering di atas kertas kusam,
Jika kau masih punya nafas, gunakanlah untuk membasuh luka sesamamu.
Sebab pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang akan ditanya,
Tapi seberapa banyak cahaya yang kita tinggalkan sebelum kita pun ikut berpulang.
Lev berhenti menulis dan menatap layar ponselnya. Ia mulai memikirkan target artikel ini untuk semua orang dengan teknik SEO yang lebih kuat. Ia ingin pesan ini muncul saat seseorang mencari "motivasi bagi keluarga pasien kanker" atau "cara bangkit dari depresi kehilangan".
Ia menambahkan catatan di bawah puisinya:
"Kehilangan Vania Larasati setahun lalu di usia 20 tahun adalah guru terbaikku. Ia mengajarkan bahwa sebelum kita 'pergi'—meninggalkan dunia atau meninggalkan sebuah masa lalu—kita harus memastikan bahwa kita telah meninggalkan manfaat. Banjarbaru bukan lagi sekadar kota kenangan bagiku, tapi kota di mana aku akan memulai perjuangan baru untuk membantu mereka yang sedang berada di posisi Vania dulu."
Dalam hitungan jam, unggahan tersebut mendapatkan ribuan share. Lev menyadari bahwa duka yang dikelola dengan iman dan kreativitas adalah senjata yang luar biasa. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai korban takdir, melainkan sebagai prajurit literasi yang membawa misi dari kekasih yang telah tiada.
Matahari Banjarbaru semakin tinggi. Lev menutup bukunya, membayar kopinya yang bahkan belum sempat ia minum, dan melangkah keluar dengan tujuan baru: mengunjungi bangsal onkologi di rumah sakit tempat Vania dulu dirawat. Ia ingin mendengar lebih banyak, sebelum ia menuliskan bab selanjutnya.
