Sore menjelang malam adalah waktu yang paling dinanti-nantikan oleh keluarga Imran. Ini adalah waktu ketika kesibukan harian mereda, dan mereka berkumpul kembali di rumah, di area Bayfront yang mulai diterangi lampu-lampu kota. Pemandangan dari apartemen mereka tidak pernah gagal memukau, terutama saat lampu-lampu di Gardens by the Bay mulai menyala.
Malam ini ada agenda penting: musyawarah keluarga. Topik utamanya adalah rencana liburan sekolah yang akan datang. Di keluarga Imran, keputusan besar maupun kecil selalu dibahas bersama secara musyawarah, menanamkan prinsip syura (musyawarah) dalam kehidupan sehari-hari mereka.
"Oke, agenda malam ini, guys," buka Pak Imran setelah makan malam, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga. "Liburan sekolah tinggal dua minggu lagi. Abi dan Umi sepakat, kita butuh refreshing. Ada ide mau ke mana?"
Hawa langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, penuh semangat. "Ke Universal Studios Singapore di Sentosa Island, Bi! Hawa mau naik wahana roller coaster yang gede itu!"
"Wahana itu thrill-nya tinggi, Wa. Kamu yakin?" tanya Bu Aisyah sambil tersenyum.
"Yakin dong, Umi! Adam aja berani, masa Hawa nggak," tantang Hawa, melirik kakaknya.
Adam, yang sedang asyik dengan ponselnya, langsung tersentak. "Eh, tentu saja Abi! Roller coaster itu cuma pemanasan buat thrill kehidupan nyata," ujarnya dengan gaya sok jagoan, padahal terakhir kali naik wahana serupa di USS, dia turun dengan wajah pucat pasi.
Tawa meledak di ruang keluarga. Zahra, yang lebih kalem, mengusulkan ide lain. "Gimana kalau kita staycation aja di kota, tapi kita jelajahi tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi? Misalnya, kita bisa explore lebih dalam area kolonial di sekitar Fort Canning Park atau nikmatin suasana santai di East Coast Park?"
"Ide bagus, Kak. Tapi Hawa tetap mau yang ada wahana mainnya!" sela Hawa.
Pak Imran tersenyum melihat antusiasme anak-anaknya. "Semua ide bagus. Tapi kita harus cari satu titik temu yang bikin semua senang. Ini esensi musyawarah kita."
"Abi punya usul," lanjut Imran, "Bagaimana kalau kita gabungkan ide Hawa dan Zahra? Kita habiskan satu hari penuh di Pulau Sentosa untuk Hawa dan Adam, tapi kita juga sediakan waktu untuk wisata edukasi dan santai untuk Umi dan Zahra."
Bu Aisyah mengangguk setuju. "Dan untuk lokasi santainya, Umi usul kita piknik sore di Gardens by the Bay, di bawah Supertree Grove yang lampunya cantik itu. Kita bisa gelar tikar, bawa bekal, salat Maghrib di sana, dan nikmatin Garden Rhapsody (pertunjukan cahaya dan musik)."
Ide Bu Aisyah disambut meriah. Piknik di bawah pohon raksasa futuristik yang menyala adalah salah satu pengalaman khas Singapura yang selalu menyenangkan.
"Setuju! Piknik di bawah Supertree itu vibes-nya keren banget, Mi," kata Adam, akhirnya meletakkan ponselnya. "Bisa buat foto Instastory yang aesthetic."
"Nah, kalau sudah begini, semua senang kan?" kata Imran, melihat anak-anaknya sepakat. "Kita bagi tugas. Adam bantu Umi buat bekal, Zahra bantu Abi cek jadwal dan tiket wahana di Sentosa."
Semua anggota keluarga mengangguk, menandakan keputusan telah diambil bersama. Keharmonisan keluarga mereka terpancar jelas dalam momen musyawarah kecil ini. Mereka tidak hanya merencanakan liburan, tetapi juga mempraktikkan cara hidup Islami yang inklusif dan adil.
Saat malam semakin larut, keluarga Imran berdiri sejenak di balkon apartemen mereka. Lampu-lampu kota berkelap-kelip indah, dari kejauhan terlihat pancaran lampu warna-warni dari Singapore Flyer yang berputar perlahan. Di bawah sana, Supertree Grove sudah bermandikan cahaya, seolah menunggu kedatangan mereka di akhir pekan nanti.
Di tengah denyut nadi Kota Singa, keluarga ini menemukan kebahagiaan mereka dalam kebersamaan, dalam musyawarah yang santai namun bermakna, dan dalam kemampuan mereka untuk menikmati setiap sudut kota—baik yang modern gemerlap maupun yang hijau asri. Babak baru kehidupan mereka di Harmoni Bayfront siap menyambut petualangan selanjutnya.
