Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.
Banjarmasin pukul 02.00 dini hari. Suara jangkrik di sela-sela dinding kayu kos "Muslimah Shaliha" terdengar seperti ejekan bagi Eva Putri Mylin. Di saat empat sahabatnya sudah berkelana di alam mimpi—dengan Dina yang sesekali mengigau menyebut istilah "geraham bungsu"—Eva masih terduduk tegak. Wajahnya diterangi cahaya biru yang kontras dari layar laptop merk lokal miliknya.
Di layar itu, ribuan baris kode bahasa C++ menari-nari. Bagi orang awam, itu hanyalah tulisan acak. Bagi Eva, itu adalah penentu apakah ia bisa lulus mata kuliah Algoritma dan Pemrograman esok pagi.
"Kenapa error lagi?" bisik Eva frustrasi. Jemarinya yang lincah menari di atas keyboard yang beberapa hurufnya sudah pudar.
Ia mengecek satu per satu baris kode. Sebuah tanda titik koma (;) yang hilang seringkali menjadi biang keladi tangis mahasiswa IT, dan Eva sedang berada di titik nadir kesabarannya. Matanya perih, efek dari paparan radiasi layar dan kurangnya asupan kafein.
Ketika Logika Bertemu dengan Doa
Tiba-tiba, sebuah tangan lembut mendarat di bahunya. Eva tersentak. Rupanya Abdalia Ulfah terbangun untuk melaksanakan shalat Tahajud.
"Belum selesai juga, Va?" tanya Abdalia lembut. Ia melihat tumpukan bungkus kacang jaruk—oleh-oleh dari Barabai yang sudah kosong di samping laptop Eva.
"Sedikit lagi, Lia. Tapi logika kodenya tidak jalan. Aku sudah hitung pakai cara apa pun, hasilnya tetap 'Syntax Error'. Rasanya mau aku banting saja laptop ini ke sungai Martapura," keluh Eva dengan mata berkaca-kaca.
Abdalia tersenyum, lalu berjongkok di samping sahabatnya itu. "Ingat tidak apa yang sering dikatakan guru mengaji kita? Inna ma’al ‘usri yusra. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Mungkin otakmu cuma butuh istirahat sejenak. Berwudulah, shalatlah bersamaku. Siapa tahu Allah beri petunjuk di antara sujudmu."
Eva terdiam. Selama lima jam terakhir, ia terlalu mengandalkan logika otaknya sendiri hingga lupa meminta pertolongan pada Sang Pemilik Ilmu. Ia menutup layar laptopnya, mengikuti saran Abdalia.
Keajaiban di Sepertiga Malam
Setelah menyelesaikan shalat dan bersujud cukup lama, Eva merasa pikirannya jauh lebih tenang. Beban yang tadi menghimpit dadanya seolah terangkat. Ia kembali duduk di depan laptopnya dengan perasaan yang lebih stabil.
Ia membaca kembali baris kode ke-452. Matanya membelalak.
"Ya Allah... ternyata cuma salah tulis nama variabel! Di atas 'Hasil', di bawah malah 'Hasli'!" seru Eva tertahan agar tidak membangunkan yang lain.
Dengan cepat ia memperbaiki kesalahan konyol itu. Jari telunjuknya menekan tombol 'Run'. Sebuah keajaiban kecil di tahun 2013 terjadi: layar hitam muncul dengan tulisan putih bersih: "Program Executed Successfully."
Eva hampir saja berteriak kegirangan jika tidak melihat Rina yang bergerak gelisah dalam tidurnya. Ia segera menyimpan pekerjaannya ke dalam flashdisk (benda yang sangat berharga di tahun itu) dan mematikan laptop.
Solidaritas Tanpa Batas
Pagi harinya, saat matahari mulai mengintip dari ufuk timur Banjarmasin, Eva terbangun dengan aroma nasi kuning yang menggoda. Di meja kecil, sudah ada bungkusan nasi kuning berlauk telur masak habang.
"Makan dulu, Va. Tadi kami patungan belikan ini buat kamu," ujar Fatimah sambil merapikan jilbabnya untuk berangkat ke kampus Bahasa Indonesia. "Kami tahu kamu begadang semalaman buat 'berperang' dengan komputer."
Eva tertegun. Di perantauan ini, ia belajar bahwa ilmu pengetahuan memang penting, namun persaudaraan adalah sistem operasi yang menjalankan hidup mereka. Kesuksesan satu orang adalah kebahagiaan bagi mereka berlima.
"Terima kasih, ya," ucap Eva tulus.
Rina Rufida yang sudah siap dengan kamus tebalnya tertawa. "Cepat makan! Habis itu ajari aku bagaimana caranya memasukkan foto ke Microsoft Word buat tugasku. Kamunya pintar komputer, masa sahabatmu ini masih gaptek!"
Eva tertawa lebar. Lelahnya menguap seketika. Semester satu memang berat, tugas pemrograman memang kejam, tapi memiliki sahabat yang peduli adalah "perangkat lunak" terbaik yang pernah ia miliki dalam hidupnya.
Insight untuk Pembaca(Edisi 2026):
Perkembangan IT di Banjarmasin: Sejak 2013 hingga kini tahun 2026, jurusan Ilmu Komputer di berbagai kampus Banjarmasin terus berkembang pesat mengikuti tren kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber.
Kacang Jaruk: Camilan khas Barabai yang menjadi teman setia mahasiswa saat begadang. Cek oleh-oleh khas Barabai lainnya.
Pesan Moral: Kerja keras harus dibarengi dengan ibadah. Dalam Islam, menuntut ilmu dinilai sebagai jihad, dan Allah akan memudahkan jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Lanjut ke Bab 7: Puisi Cinta atau Skripsi? Galau Fatimah di Tepi Sungai Martapura...
Bagaimana Fatimah menghadapi kegalauan antara mengejar cita-cita sastra atau tuntutan realistis dunia kerja? Simak di bab selanjutnya!
