Tariq tidak pernah melupakan mimpinya menjadi agen olahraga syariah. Setelah insiden Subuh (Bab 4), dia semakin terdorong untuk membuktikan bahwa iman dan sepak bola bisa berjalan beriringan. Dia mengidolakan agen-agen top dunia yang mengurus kontrak miliaran dolar untuk pemain seperti Kylian Mbappé atau Erling Haaland, dan dia yakin dia bisa melakukannya dengan cara yang halal dan etis.
Masalahnya, dia baru 16 tahun dan klien pertamanya adalah klub sepak bola sekolahnya, "Les Lions de Paris" (Singa Paris), yang sedang berjuang mendapatkan sponsor seragam baru.
Saat jam makan siang di sekolah, Tariq mengadakan pertemuan rahasia dengan kapten tim, Ahmed, dan beberapa pemain kunci di sudut kantin. Di atas meja ada kontrak sponsor dari sebuah perusahaan minuman energi besar.
"Ini adalah kontraknya," kata Ahmed, nada suaranya putus asa. "Mereka menawarkan seragam baru, sepatu, dan dana transportasi untuk musim ini. Tapi ada klausul yang aneh."
Tariq, dengan kacamata bacanya yang dibelinya agar terlihat lebih profesional (ala agen top), memeriksa dokumen itu dengan saksama.
"Klausul 'Promosi Ekstrem'," gumam Tariq, matanya menyapu teks kecil itu. "Perusahaan ini ingin kalian minum minuman energi mereka di setiap jeda pertandingan, dan mempostingnya di media sosial dengan tagar tertentu. Juga, mereka meminta kehadiran di acara promosi di bar olahraga lokal."
Para pemain saling pandang. Mereka semua Muslim dan tahu minuman energi itu mengandung bahan-bahan yang tidak jelas kehalalannya, dan tentu saja, bar olahraga bukan tempat yang cocok untuk mereka.
"Kita tidak bisa menerima ini, Tariq," kata Ahmed. "Tapi kita butuh seragamnya. Kita tidak punya pilihan."
Di sinilah Agen Syariah Tariq bersinar. Dia tersenyum penuh tekad.
"Kalian punya pilihan," kata Tariq. "Kalian punya agen sekarang. Tinggalkan ini padaku. Kita akan cari sponsor yang lebih baik, yang menghargai nilai-nilai kita."
Tariq menghabiskan minggu itu dengan riset. Dia mempelajari pasar apparel olahraga halal, menemukan beberapa perusahaan kecil yang sedang berkembang, dan menyusun presentasi bisnis yang rapi menggunakan laptop Ayahnya. Dia menggunakan semua jargon agen top yang pernah dia dengar.
Dia menelepon sebuah perusahaan pakaian olahraga Muslim yang berbasis di Lyon. Dia berbicara dengan manajer pemasaran, seorang pria muda yang terkesan dengan semangat Tariq.
"Saya jamin, 'Les Lions de Paris' adalah tim dengan potensi besar," jelas Tariq melalui telepon, suaranya sedikit pecah karena pubertas, tapi penuh keyakinan. "Kami memiliki etos kerja yang terinspirasi dari pemain top dunia seperti Messi, tapi kami juga disiplin dalam latihan dan ibadah. Nilai-nilai kami sejalan dengan merek Anda."
Manajer pemasaran itu setuju untuk bertemu di Paris.
Imran mengantar Tariq ke pertemuan itu di sebuah kafe di pusat kota. Imran duduk di meja terpisah, diam-diam mengamati putranya yang mencoba bernegosiasi seperti agen profesional. Tariq tampak gugup, tapi dia memegang teguh prinsipnya.
"Kami tidak hanya mencari sponsor," kata Tariq kepada manajer itu. "Kami mencari mitra yang bisa tumbuh bersama kami. Kami tidak butuh uang tunai instan. Kami butuh dukungan jangka panjang yang etis."
Negosiasi berlangsung alot selama satu jam. Manajer itu menawarkan diskon besar, tapi belum bisa memberikan seragam gratis penuh.
Saat Tariq hampir menyerah, dia melihat Ayahnya di meja seberang. Imran memberi isyarat padanya, menunjuk ke dadanya, lalu mengepalkan tangannya—pose "Disiplin The Rock". Tariq mengerti pesannya: teguh pendirian, kuat, dan jangan goyah.
Tariq kembali fokus. "Baiklah, Monsieur," katanya, "Jika Anda tidak bisa memberikan seragam gratis, bagaimana jika Anda menyediakan bahan berkualitas tinggi yang tahan lama? Kami bisa menggunakan jaringan ibu saya untuk penjahit lokal yang bisa membuatnya dengan harga terjangkau."
Manajer itu berpikir sejenak. "Itu ide yang bagus. Kami bisa sediakan bahan dry-fit premium dengan logo kami, dan kami juga akan memberikan 15 pasang sepatu sepak bola kami yang terbaru. Deal?"
Tariq tersenyum lebar. "Deal syariah!"
Beberapa minggu kemudian, tim "Les Lions de Paris" turun ke lapangan dengan seragam baru mereka yang stylish dan sepatu baru yang mengkilap. Mereka tampak profesional dan percaya diri.
Imran dan Aisha datang menonton pertandingan pertama mereka. Tariq, meskipun bukan pemain terbaik di lapangan, adalah agen paling bahagia di tribun.
Mereka memenangkan pertandingan 3-0.
Setelah pertandingan, Ahmed, kapten tim, mendatangi Tariq. "Kerja bagus, Agen Tariq. Seragam ini luar biasa. Kita tidak perlu minuman energi itu. Semangat kita sudah cukup."
Tariq tersenyum bangga. Dia berhasil menyeimbangkan kecintaannya pada sepak bola global dengan prinsip-prinsip agamanya. Dia telah belajar dari keteguhan The Rock, strategi permainan Messi, dan etika Islam.
Di Paris, di mana industri olahraga seringkali didominasi oleh uang dan glamour berlebihan, Tariq Al-Fikri menanamkan benih baru: bisnis olahraga yang halal, etis, dan tetap penuh gairah. Mimpinya menjadi agen olahraga syariah terasa semakin nyata.
