Minggu pagi di Tanjung biasanya tenang, namun tidak di kediaman drg. Dina Yulianti. Hari itu adalah hari ulang tahun Snowee yang ketiga. Bagi Dina dan Naura Salsabilla, ini bukan sekadar ulang tahun kucing, melainkan acara sosial kecil-kecil yang melibatkan dekorasi balon warna pastel dan cat cake khusus yang dipesan dari Banjarmasin.
"Abah, kita tidak bisa datang ke pesta Snowee kalau Jagau tidak pakai baju!" seru Khalisah Salsabilla di ruang tamu rumah dinas mereka di Murung Pudak.
Muhammad Hifni yang sedang asyik membaca koran Minggu hampir menjatuhkan kopinya. "Baju? Khalisah, Jagau itu kucing pejuang. Kalau dia dipakaikan baju, martabatnya sebagai penguasa pasar Mabu'un bisa jatuh."
"Tapi Naura bilang pestanya pakai tema Kingdom, Bah. Snowee jadi ratu, dan Jagau harus jadi pangeran," sahut Khalisah sambil memperlihatkan sebuah kain perca berwarna kuning emas yang sudah dipotong-potong paksa olehnya menggunakan gunting sekolah.
Rina Rufida muncul dari kamar dengan gaya modis, mengenakan kerudung senada dengan baju gamisnya. Sebagai PNS Pendidikan, Rina tahu cara tampil prima. "Sudahlah Bah, sekali-sekali. Lagipula, Dokter Dina sudah menyiapkan katering Sate Itik khusus untuk para tamu manusia. It’s a win-win solution, isn't it?"
Akhirnya, dengan penuh perjuangan yang melibatkan beberapa bekas cakar di lengan Hifni, si Jagau berhasil "dibungkus" dengan kain kuning emas yang lebih mirip jubah pahlawan super amatir. Keluarga Hifni berangkat menuju rumah Dina dengan perasaan campur aduk—Hifni yang cemas akan bertemu rekan kantornya di sana, Rina yang siap dengan pengamatan tajamnya, dan Khalisah yang sangat antusias.
Sesampainya di sana, rumah mewah itu sudah berubah. Ada karpet merah kecil dari pintu pagar menuju taman belakang. Naura Salsabilla tampak cantik dengan gaun tulle merah muda, menggendong Snowee yang memakai mahkota kecil berkilauan di kepalanya.
"Wah, Pangeran Jagau datang!" seru Naura kegirangan saat melihat Khalisah menggendong kucing orennya.
Namun, suasana "kerajaan" yang tenang itu tidak bertahan lama. Masalah muncul saat aroma cat cake yang terbuat dari campuran tuna dan hati ayam mulai memenuhi udara. Aroma itu rupanya tidak hanya menarik perhatian Snowee dan Jagau, tetapi juga "intelijen" kucing liar di sekitar komplek elit tersebut.
Baru saja drg. Dina hendak memotong kue kucing secara simbolis, tiba-tiba dari atas pagar beton, muncul tiga ekor kucing kampung berbadan besar—teman-teman sejawat Jagau dari dunia luar. Mereka rupanya "mengendus" adanya pesta besar.
"Gawat! Pasukan liar!" teriak salah seorang tamu anak-anak.
Kekacauan terjadi. Snowee yang penakut langsung melompat ke atas kepala Hifni, membuat kacamata sang PNS itu miring sebelah. Naura berteriak panik melihat kucing-kucing liar itu mencoba merebut kue ulang tahun Snowee. Dina pun tampak kewalahan mencoba mengusir mereka dengan kain lap.
Di tengah kepanikan, Khalisah menunjukkan bakat kepemimpinannya. Ia menurunkan Jagau ke tanah. "Jagau! Do something! Beritahu mereka ini pestanya Snowee!"
Jagau, yang merasa jubah kuning emasnya memberikan kekuatan tambahan, mengeluarkan suara "Mrrrraaaaawww" yang sangat berat dan panjang. Ia berdiri di depan meja kue, membusungkan dada, dan menatap tajam ketiga kucing liar itu. Entah karena kharisma Jagau atau karena mereka silau melihat baju emasnya, ketiga kucing liar itu mendadak berhenti. Mereka mendengkur pelan, lalu duduk rapi di depan Jagau seperti anak buah yang sedang menghadap komandannya.
"Lihat! Jagau jadi guru mereka!" seru Khalisah bangga.
Suasana kembali kondusif. Akhirnya, atas saran Khalisah, pesta tetap dilanjutkan dengan membagi sebagian kue untuk "pasukan liar" tersebut di pojokan taman, sementara Snowee menikmati bagian utamanya di atas meja.
Di sudut taman, di bawah pohon mangga, Hifni dan Dina kembali terlibat percakapan kecil sementara Rina sedang asyik memotret momen lucu anak-anak untuk diunggah ke media sosial.
"Anakmu punya bakat diplomasi yang hebat, Hif. Persis seperti kamu waktu memimpin demo mahasiswa dulu," ucap Dina dengan senyum tulus.
Hifni membenarkan kacamatanya. "Dia belajar dari ibunya, Din. Rina yang mengajari dia berani bicara. Aku hanya bagian memberikan perlindungan finansial dan moral," jawab Hifni dengan nada yang lebih santai kali ini.
Dina mengangguk. "Tahu tidak, Hif? Naura sangat senang punya teman seperti Khalisah. Dia jadi lebih berani, bahkan dia sudah mau makan sayur karena Khalisah bilang 'kucing saja makan rumput agar sehat'."
Tiba-tiba, Rina menghampiri mereka sambil memegang ponselnya. "Dokter Dina, Pak Hifni, coba lihat foto ini. Di foto ini, profil wajah Khalisah dan Naura saat sedang tertawa itu benar-benar mirip. Seperti... saudara jauh."
Hifni terbatuk keras. "Mungkin karena mereka sama-sama makan nasi dari sawah di Tabalong, Bun!"
Pesta ulang tahun Snowee berakhir dengan tawa dan perut kenyang. Meski baju emas Jagau akhirnya robek karena dipakai bermain kejar-kejaran, bagi Khalisah dan Naura, hari itu adalah bukti bahwa di Bumi Saraba Kawa, kebahagiaan bisa datang dari hal sesederhana kucing yang akur.
Pelajaran Menarik Bab 6:
Merayakan momen bersama hewan peliharaan bisa meningkatkan kecerdasan emosional anak. Bagi Anda yang ingin mengadakan acara serupa, pastikan makanan kucing yang digunakan aman dan tidak mengandung cokelat atau bawang. Cari berbagai perlengkapan pesta anabul di Shopee.
Jangan lupa kunjungi Taman Giat Tanjung jika Anda berada di Tabalong untuk melihat suasana kota yang ramah keluarga seperti yang dirasakan keluarga Salsabilla!
