Bab 6: Rapat Zoom, Suara Meong, dan Kasta Kucing

Bab 6: Rapat Zoom, Suara Meong, dan Kasta Kucing

Lev
0
Ikuti kisah hangat keluarga PNS & Dokter Dina. Petualangan Khalisah & Naura belajar puasa, shalat tarawih, dan merawat kucing di Ramadhan 2026. Cocok untuk pecinta kucing & orang tua!



Kehidupan Muhammad Hifni sebagai PNS di kantor pemerintahan sering kali menuntut kesabaran ekstra, terutama saat bulan Ramadhan. Pagi itu, Hifni harus mengikuti rapat koordinasi penting melalui Zoom mengenai efisiensi anggaran daerah tahun 2026. Ia sudah duduk rapi dengan kemeja batik dan latar belakang rak buku agar terlihat intelektual, sementara bagian bawahnya hanya mengenakan sarung—sebuah rahasia umum para pekerja remote.

"Baik, untuk poin ketiga mengenai alokasi dana infrastruktur..." suara atasan Hifni terdengar di speaker laptop.

Tepat saat Hifni hendak memberikan interupsi teknis, pintu ruang kerjanya terbuka sedikit. Si Belang, kucing kampung penguasa rumah itu, masuk dengan langkah gontai. Bukannya duduk diam, Si Belang justru melompat ke meja kerja Hifni, tepat di depan kamera, dan memamerkan bagian belakang tubuhnya ke seluruh peserta rapat yang terdiri dari para pejabat eselon.

"Ehem, Pak Hifni, itu... ada gangguan visual di layar Anda," tegur sang atasan.

Hifni berkeringat dingin. Dengan kecepatan tangan seorang birokrat yang biasa menyusun laporan kilat, ia mencoba menggeser Si Belang. Namun, Si Belang justru mengeluarkan suara "Meong" yang sangat keras dan serak, seolah ingin ikut berpendapat soal anggaran daerah.

"Maaf Pak, ini... staf ahli baru saya sedang protes soal kesejahteraan kucing," canda Hifni berusaha menutupi malu. Ruang rapat virtual itu pun meledak dengan tawa.

Sementara itu, di rumah sebelah, drg. Dina sedang menghadapi dilema yang berbeda. Naura Salsabilla sedang merajuk di depan kandang Snowy. Masalahnya sepele namun pelik: Naura ingin Snowy memakai kerudung kecil untuk merayakan bulan suci.

"Bunda, Snowy kan kucing perempuan, masa dia nggak pakai jilbab saat kita mengaji?" protes Naura dengan logika anak kecilnya.

Dina menghela napas, mencoba menahan tawa. "Sayang, Snowy itu kucing. Aturan menutup aurat itu untuk manusia. Snowy sudah cantik dengan bulu putihnya yang bersih. Kalau dipakaikan kerudung, nanti dia malah pusing dan nggak bisa melihat jalan."

"Tapi Khalisah bilang, Si Belang saja mau pakai peci kemarin!" balas Naura tak mau kalah.

Dina pun teringat pemandangan lucu kemarin sore, saat ia melihat Khalisah mencoba memakaikan peci bayi milik Hifni ke kepala Si Belang. Tentu saja peci itu langsung jatuh dalam hitungan detik, tapi bagi Naura, itu adalah standar baru "kucing religius".

Sore harinya, saat jam kerja PNS berakhir, Hifni keluar rumah untuk mencari udara segar. Ia bertemu dengan Dina di area taman kecil yang memisahkan rumah mereka. Dina menceritakan tentang ambisi Naura memakaikan jilbab pada Snowy.

"Waduh Bu Dokter, kalau Snowy pakai jilbab dan Si Belang pakai peci, kompleks kita bisa viral di media sosial sebagai 'Kampung Kucing Syariah'," ujar Hifni sambil tertawa.

"Tapi ada benarnya juga, Pak Hifni," timpal Rina yang baru muncul membawa nampan berisi takjil untuk dibagikan ke tetangga. "Melihat anak-anak kita begitu perhatian pada kucing, itu tanda soft skill mereka terasah. They are learning about boundaries and love."

Rina kemudian memberikan tips bahasa Inggris singkat pada Naura dan Khalisah yang sedang asyik bermain. "Naura, Khalisah, listen to me. In English, we call them 'pets', but in Islam, they are our companions to Jannah if we treat them well."

Pembicaraan hangat itu terhenti saat mereka melihat Si Belang dan Snowy duduk berdampingan di bawah pohon kamboja. Si Belang yang berantakan dan Snowy yang anggun. Perbedaan "kasta" antara kucing kampung dan kucing mahal itu sirna begitu saja saat mereka berbagi sepotong kecil ikan rebus yang diberikan Khalisah.

Hifni melihat pemandangan itu dan menyadari sesuatu. Di kantor, ia sibuk membagi-bagi golongan dan jabatan. Namun di mata anak-anak dan makhluk mungil ini, semuanya sama: makhluk ciptaan Tuhan yang hanya butuh kasih sayang dan sepiring makanan saat waktu berbuka tiba.

"Yah, nanti kalau Khalisah sudah enam tahun penuh di bulan Februari, boleh ya kita buat pesta ulang tahun kecil buat Si Belang juga?" tanya Khalisah tiba-tiba.

Hifni tersenyum, melirik Rina yang hanya mengangkat bahu. "Boleh, Dek. Tapi temanya harus 'PNS': Pesta Nasi Sedekah buat kucing-kucing sekampung!"

Gelak tawa kembali pecah di antara dua keluarga Salsabilla itu, mengiringi senja yang perlahan turun menuju waktu berbuka puasa.

Informasi Bermanfaat:

Etika Kerja: Menjaga profesionalitas saat Work From Home (WFH) sangat penting. Pastikan area kerja bebas dari gangguan hewan peliharaan saat rapat penting. Tips manajemen WFH bisa dilihat di Kemnaker RI.

Perawatan Kucing: Mencukur atau memakaikan pakaian yang terlalu ketat pada kucing bisa menyebabkan stres dan gangguan regulasi suhu tubuh. Konsultasikan dengan dokter hewan di Halodoc atau klinik terdekat untuk kenyamanan hewan Anda.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default