Bab 6: Tanah Martapura – Amin dan Mimpi Swasembada Pangan di Pertanian

Bab 6: Tanah Martapura – Amin dan Mimpi Swasembada Pangan di Pertanian

Lev
0
Simak kisah inspiratif 5 sahabat perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga kisah cinta Islami

Tahun 2013 – Lahan Praktikum Gambut

Jika keempat sahabat lainnya lebih banyak berurusan dengan kertas, pulpen, dan layar monitor, maka Amin adalah satu-satunya penghuni Kos Nomor 13 yang telapak tangannya sering berlumuran tanah. Pemuda asli Martapura ini adalah mahasiswa Jurusan Pertanian. Baginya, kuliah bukan hanya soal duduk di ruang kelas yang sejuk, melainkan tentang bagaimana menaklukkan lahan gambut Kalimantan yang asam agar bisa menghasilkan bulir-bulir padi yang bernas.

Amin adalah sosok yang paling "membumi"—secara harfiah. Di teras kos-kosan yang sempit, ia menyulap pojok pagar menjadi laboratorium mini. Ada deretan botol bekas yang ia jadikan media tanam hidroponik sederhana, sesuatu yang mulai populer di tahun 2013.

"Amin, itu tanaman apa lagi? Jangan sampai nanti kos kita berubah jadi hutan rimbun, ya," canda Hifni saat melihat Amin sedang sibuk mencampur tanah dengan pupuk kompos di sore hari.

Amin menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Ini bibit padi varietas unggul, Hif. Aku lagi uji coba ketahanannya sama air pasang Banjarmasin. Kalau ini berhasil, petani di Martapura nggak perlu takut lagi kalau sawahnya kerendam air."

Sebagai putra daerah Martapura—kota yang dikenal dengan julukan Kota Serambi Mekkah sekaligus pusat intan—Amin memiliki etos kerja yang keras. Ia terbiasa melihat orang tuanya bekerja di sawah, namun ia sedih melihat hasil panen yang seringkali tidak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan. Itulah yang membawanya mengambil jurusan pertanian.

Sisi komedi dari kehidupan Amin muncul dari "bau khas" yang ia bawa pulang setelah praktikum di lapangan. "Min, kamu habis praktikum atau habis mandi lumpur?" tanya Nazib sambil menutup hidung saat Amin baru saja kembali dari Banjarbaru, tempat kampus pertanian sering mengadakan praktik lapangan.

"Ini aroma masa depan, Zib! Bau tanah ini yang bakal kasih kalian makan nasi," sahut Amin dengan santai sambil mencopot sepatu botnya yang penuh lumpur kering.

Meskipun Amin adalah orang yang paling diam dibandingkan Nazib yang cerewet atau Hifni yang vokal, ia memiliki kepedulian yang besar. Dialah yang paling mengerti urusan urusan dapur kos. Jika teman-temannya sudah kehabisan uang dan hanya makan mie instan, Amin akan "memanen" sawi atau cabai dari pot-pot di teras untuk ditambahkan ke dalam mangkuk mereka agar tetap bergizi.

"Kita ini orang Kalimantan," ujar Amin suatu malam saat mereka sedang duduk di bawah sinar rembulan di balkon kos. "Tanah kita luas, air kita melimpah. Tapi kenapa kita masih sering datangkan sayur dari luar pulau? Aku ingin suatu saat nanti, Martapura bukan cuma dikenal karena intannya, tapi karena lumbung pangannya."

Semangat Amin menjadi pengingat bagi sahabat-sahabatnya bahwa setiap bidang ilmu yang mereka ambil punya tanggung jawab moral masing-masing. Amin tidak ingin menjadi sarjana yang hanya duduk di balik meja dinas; ia ingin menjadi sarjana yang kakinya tetap menginjak lumpur, tangannya tetap memegang cangkul, namun otaknya penuh dengan inovasi untuk kedaulatan pangan banua.

Malam itu, di bawah langit Banjarmasin tahun 2013, Amin kembali ke barisan pot-potnya. Baginya, setiap tunas yang tumbuh adalah satu langkah kecil menuju mimpi besar yang ia bawa dari tanah kelahirannya, Martapura.

Lanjut ke Bab 7: Kos Keramat Nomor 13 – Suka Duka Hidup Satu Atap dengan Budget Pas-pasan

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default