Keputusan untuk berlibur di Singapura sendiri, dengan fokus pada pengalaman lokal, ternyata membawa berkah tersendiri. Beberapa hari setelah musyawarah keluarga, sebuah undangan tak terduga datang ke unit apartemen keluarga Imran.
Bu Siti, tetangga sebelah unit mereka yang berasal dari komunitas India Muslim, datang bertamu sambil membawa sepiring murukku renyah, camilan khas Deepavali. Bu Siti adalah sosok yang ceria dan ramah, sering bertukar cerita dengan Bu Aisyah tentang masakan dan kehidupan bermasyarakat di sana. Namun, undangan ini datang dari keluarga seberang unit mereka, keluarga Tan.
Keluarga Tan adalah tetangga Tionghoa-Singapura yang ramah. Mr. Tan bekerja sebagai manajer logistik, dan istrinya, Mrs. Tan, adalah guru taman kanak-kanak. Mereka berdua Tionghoa beragama Buddha yang sangat menghargai kerukunan bertetangga.
"Assalamualaikum, Bu Aisyah. Ini ada undangan dari Mrs. Tan. Katanya mereka mau adakan perayaan open house untuk perayaan Deepavali," ujar Bu Siti, menyerahkan kartu undangan berwarna cerah.
Bu Aisyah menerima undangan itu dengan senyum hangat. "Waalaikumussalam, Bu Siti. Wah, Alhamdulillah. Tentu saja kami akan datang. Senang sekali rasanya bisa merayakan kebahagiaan bersama."
Malam harinya, saat keluarga berkumpul lagi, undangan tersebut menjadi topik utama. Bu Aisyah menunjukkan kartu undangan itu kepada Imran dan anak-anaknya.
"Kita diundang ke open house keluarga Tan untuk Deepavali," umum Bu Aisyah.
Adam, dengan insting remajanya yang cepat tanggap soal makanan, langsung bertanya, "Umi, makanannya halal nggak ya?" Pertanyaan klise yang selalu muncul setiap kali ada acara kumpul-kumpul berbeda agama.
Imran tersenyum bijak. "Adam, kita ini hidup di Singapura. Etika bertamu dan menghormati keyakinan orang lain sangat penting. Nanti kita pastikan saja dengan Mrs. Tan tentang makanannya, atau kita bisa bawa bekal tambahan untuk jaga-jaga. Yang penting niat baik untuk hadir dan menjaga silaturahim."
"Abi benar," timpal Zahra. "Bulan lalu di kampus juga ada perayaan Mid-Autumn Festival, panitianya memastikan ada sudut makanan halal dan vegetarian. Orang sini sangat peka soal ini, Adam."
Malam perayaan Deepavali pun tiba. Keluarga Imran, mengenakan pakaian rapi khas Melayu yang serasi, berjalan menyeberangi koridor menuju unit keluarga Tan. Mereka disambut dengan hangat oleh Mr. dan Mrs. Tan yang mengenakan pakaian tradisional India yang cerah, karena di Singapura, perayaan Deepavali adalah festival bersama yang dirayakan lintas etnis.
Rumah keluarga Tan dipenuhi dengan dekorasi warna-warni dan aroma harum dupa serta masakan India. Musik Bollywood mengalun pelan, menciptakan suasana meriah. Tetangga lain, dari berbagai etnis dan agama, juga hadir, membaur dalam obrolan santai.
"Assalamualaikum, Mrs. Tan, Mr. Tan. Selamat Deepavali! Terima kasih undangannya," sapa Imran ramah sambil menyalami Mr. Tan.
"Waalaikumussalam! Selamat datang, keluarga Imran! Senang sekali kalian bisa datang," sambut Mrs. Tan dengan riang. "Ayo masuk, masuk! Makanannya sudah siap. Kami sudah siapkan menu khusus halal di meja pojok sana. Mr. Imran, jangan khawatir, semua aman!"
Adam, yang diam-diam lega mendengar kata 'aman' dan 'halal', langsung melesat ke meja makanan yang dimaksud. Di sana tersedia berbagai hidangan lezat seperti paneer kari, nasi biryani vegetarian, dan berbagai macam kudapan ringan.
Sanjay, teman sekolah Adam, ternyata juga ada di sana bersama keluarganya. Mereka tertawa-tawa saat Adam mulai memenuhi piringnya dengan briyani.
"Tuh kan, Dam. Confirm aman! Mrs. Tan sudah siap sedia buat chips halal lo!" goda Sanjay.
Mrs. Tan, yang mendengar candaan itu, menghampiri mereka. "Tentu saja! Di Singapura ini, kalau mau undang teman-teman beda agama, urusan makanan nomor satu. Saling jaga perasaan, saling menghormati."
Bu Aisyah dan Zahra ikut bergabung dalam perbincangan dengan Mrs. Tan dan tetangga perempuan lainnya. Mereka bertukar resep, tips parenting, dan cerita tentang kehidupan di lingkungan HDB yang ramai itu. Tawa dan obrolan mengalir lancar, menunjukkan betapa mudahnya perbedaan budaya dan agama melebur dalam kehangatan persahabatan.
Hawa asyik bermain kembang api kecil (yang aman) bersama anak-anak tetangga lainnya di area koridor yang diawasi orang tua. Suasana benar-benar mencerminkan harmoni yang sesungguhnya.
Malam itu, di perayaan Deepavali keluarga Tan, keluarga Imran tidak hanya menikmati hidangan lezat dan suasana meriah, tetapi juga merasakan indahnya menjadi bagian dari masyarakat Singapura yang inklusif. Di tengah semarak cahaya Deepavali yang melambangkan kemenangan cahaya atas kegelapan, mereka menemukan kembali makna persatuan dalam keberagaman. Sebuah babak kehidupan yang penuh humor ringan dan hikmah mendalam tentang kehidupan bertetangga di Kota Singa.
