Bab 6: Zaid, Proyek "Masjid Hijau", dan Misteri Kucing di Dalam Maket

Bab 6: Zaid, Proyek "Masjid Hijau", dan Misteri Kucing di Dalam Maket

Lev
0
Temukan keajaiban dalam keseharian Keluarga Aisyah Humaira. Novel Islami penuh komedi dan inspirasi tentang cinta, tantangan era digital, dan cara menemukan kebahagiaan sejati


Pagi di penghujung tahun 2025 ini terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, namun suasana di ruang kerja Umar justru sedang memanas—dalam arti yang paling produktif. Sebagai seorang arsitek yang beraliran Sustainable Architecture (Arsitektur Berkelanjutan), Umar sedang menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya: merancang sebuah rumah ibadah yang ia beri nama "Masjid Cahaya Hijau".

Proyek ini bukan sekadar bangunan beton biasa. Umar bermaksud mengintegrasikan teknologi panel surya transparan, sistem pemanenan air hujan ( rainwater harvesting ), dan ventilasi alami yang mengikuti pola aliran udara pegunungan. Di meja kerjanya yang luas, sebuah maket (model miniatur) masjid berskala 1:50 sudah berdiri megah. Terbuat dari bahan daur ulang yang halus, maket itu tampak sangat detail, lengkap dengan miniatur pohon kurma dan taman hidroponik di area halamannya.

Aisyah Humaira masuk ke ruangan sambil membawa nampan berisi wedang jahe hangat. Pipinya merona merah terkena uap jahe yang pedas-manis. "Mas Umar, istirahatlah sebentar. Sejak subuh kamu sudah menatap maket itu seolah-olah sedang mencari kunci surga di antara pilar-pilarnya."

Umar mendongak, matanya yang sedikit lelah langsung berbinar melihat istrinya. "Humaira, ini bukan sekadar bangunan. Dalam Islam, menjaga bumi adalah bagian dari iman. Masjid ini harus menjadi contoh bahwa spiritualitas dan ekologi bisa berjalan beriringan. Aku ingin setiap orang yang sujud di sini merasa sejuk tanpa perlu banyak energi listrik."

Namun, kekhusyukan Umar terganggu oleh sebuah gerakan mencurigakan di kolong meja kerjanya. Zaid dan Maryam tiba-tiba muncul dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu yang berbahaya.

"Ayah, apakah aku boleh membantu memasang lampu di dalam maket ini?" tanya Zaid dengan mata berbinar. "Aku baru saja belajar tentang rangkaian listrik paralel di sekolah. Aku janji tidak akan membuatnya meledak seperti panci presto Umi!"

Aisyah tertawa kecil mendengar sindiran halus putranya. "Zaid, Ayah sedang bekerja untuk proyek serius. Jangan sampai 'sentuhan kreatifmu' justru membuat kubahnya jadi mirip markas Avengers."

Umar, dengan kesabaran seorang ayah yang juga seorang guru, mengizinkan Zaid membantu memasang miniatur panel surya kecil di bagian atap maket. Sementara itu, Maryam yang masih berusia enam tahun, sibuk menata "jamaah" di halaman masjid menggunakan koleksi figurin hewan kecil miliknya.

"Ayah, lihat! Di masjid Maryam, semua hewan boleh ikut shalat. Ada jerapah yang sedang ruku' dan gajah yang sedang dzikir," ucap Maryam dengan polos.

"Tentu, Maryam. Islam adalah Rahmatan lil 'Alamin, rahmat bagi seluruh alam, termasuk gajah dan jerapahmu," jawab Umar sambil tersenyum lebar.

Komedi dimulai ketika mereka semua meninggalkan ruangan sejenak untuk makan siang. Tanpa mereka sadari, Muezza, kucing Angora putih kesayangan keluarga, masuk ke ruang kerja dengan gaya elegan. Muezza melihat maket masjid tersebut sebagai sebuah apartemen mewah yang sangat nyaman. Dengan sekali lompat, Muezza masuk ke dalam area aula utama maket yang atapnya sengaja dibuka oleh Umar.

Ketika keluarga Humaira kembali ke ruangan, mereka terperanjat. Maket masjid yang tadi tampak sangat suci dan rapi, kini "dikuasai" oleh monster raksasa putih yang sedang tidur melingkar di tengah mihrab.

"Ya Allah! Ada macan putih di dalam masjid!" teriak Zaid histeris.

Umar memegang kepalanya. "Muezza! Itu bukan tempat tidurmu, itu adalah area suci bagi para jamaah miniatur!"

Muezza hanya membuka satu matanya, menguap lebar, dan kembali mendengkur. Usaha mengeluarkan Muezza menjadi drama tersendiri. Aisyah harus memancingnya dengan aroma ikan sarden, sementara Umar menjaga agar struktur maket tidak roboh karena berat badan Muezza yang kian hari kian "makmur".

Di balik kejadian lucu itu, Umar mendapatkan sebuah inspirasi. Ia menyadari bahwa desain ventilasinya di bagian bawah ternyata terlalu lebar sehingga kucing pun bisa masuk dengan mudah. Ia segera mengubah desainnya menjadi pola kisi-kisi geometris Islami yang lebih rapat namun tetap estetik.

"Lihat, Humaira," ucap Umar sambil merevisi gambarnya. "Bahkan lewat kenakalan Muezza, Allah memberiku petunjuk untuk memperbaiki desain ini. Hidup ini memang penuh dengan tanda-tanda, asalkan kita mau membacanya dengan hati yang tenang—dan sedikit selera humor."

Aisyah tersenyum bangga. Ia menyadari bahwa di rumah ini, setiap proyek besar selalu melibatkan doa, tawa, dan sedikit kekacauan dari penghuni rumah lainnya. Inilah yang membuat karya Umar bukan sekadar arsitektur, tapi sebuah bangunan yang memiliki jiwa.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default