Suara azan Subuh baru saja selesai berkumandang dari Masjid Agung Al-Abrar ketika Muhammad Hifni menatap layar ponselnya dengan mata melotot. Pria berusia 31 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabalong itu mendadak lupa cara berkedip. Di tangannya, sebuah email resmi dari komite penyelenggara FIFA menyatakan bahwa ia memenangkan undian paket tiket VIP Piala Dunia 2026, lengkap dengan akomodasi melintasi Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
"Astaghfirullah... Ibu! Sini pang bergosok dulu, lihat ini!" panggil Hifni dengan logat Banjar yang kental, suaranya bergetar antara tidak percaya dan setengah sadar.
Rina Rufida, yang baru saja melipat mukena setelah shalat berjamaah, berjalan mendekat. Wajahnya yang teduh tampak berkerut heran melihat suaminya yang biasanya tenang menghadapi urusan birokrasi, kini berkeringat dingin di depan gawai.
"Ada apa, Abahnya? Subuh-subuh sudah heboh. Urusan dinas kah?" tanya Rina sambil memperbaiki letak kacamata minusnya. Sebagai guru Bahasa Inggris, Rina terbiasa membaca dokumen dengan teliti. Begitu matanya menangkap kata “Congratulations”, “VIP Pass”, dan “FIFA World Cup 2026 Host Cities”, tangannya langsung menutup mulut.
"Ini bujurkah, Abahnya? Kita ke Amerika?" pekik Rina, membuat suasana rumah mereka di kawasan Murung Pudak, Tanjung, mendadak berenergi.
"Bujur, Uminya! Ini resmi dari sponsor utama tempat dulu ulun ikut seminar IT pemerintahan. Kita berangkat sekeluarga!" Hifni langsung berdiri, membayangkan dirinya duduk di tribun megah menyaksikan megabintang sepak bola dunia.
Namun, euforia subuh itu tidak bertahan lama. Dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit, muncul sesosok anak kecil perempuan berusia enam tahun dengan rambut sebahu yang berantakan. Khalisah Salsabilla, si cantik bermata bulat, berdiri sambil mengucek matanya yang masih sembap. Di pelukannya, ada seekor kucing persia abu-abu gemuk bernama "Miko" yang mengeong malas.
"Abah, Umi, berisik sekali. Khalisah terbangun," protes si kecil dengan suara serak khas anak baru bangun tidur.
Rina langsung berlutut, menyamakan tingginya dengan sang putri. Dengan senyum lebar, ia mencoba membagikan kabar gembira tersebut. "Khalisah, anak manis, kita mau jalan-jalan naik pesawat besar. Jauuuuh sekali. Kita mau ke tempat paman-paman main bola di TV. Ke Amerika!"
Mendengar kata 'Amerika', Khalisah tidak melompat kegirangan. Ia justru mempererat pelukannya pada Miko. Dahinya berkerut dalam. "Terus, Miko ikut juga?"
Hifni ikut mendekat, mencoba memberikan pengertian secara logis. "Eh, anak Abah yang pintar. Kucing tidak boleh naik pesawat lintas negara, sayang. Nanti Miko kita titipkan di tempat Om di sebelah, ya? Di sana Miko banyak temannya."
Mendengar kalimat itu, wajah Khalisah langsung berubah drastis. Matanya berkaca-kaca, dan dalam hitungan detik, tangisnya pecah memenuhi ruang tengah.
"Ngga mau! Khalisah ngga mau pergi kalau Miko ditinggal! Nanti Miko nangis, ngga ada yang kasih makan biskuit ikan! Lebih baik Khalisah di Tanjung saja!" jerit Khalisah histeris, air matanya mulai membasahi bulu abu-abu si Miko yang tampak bingung.
Hifni langsung memegangi kepalanya yang mendadak pening. Mengurus surat izin cuti PNS dari atasan langsungnya di Pemkab Tabalong ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan bernegosiasi dengan seorang bocah pecinta kucing berusia enam tahun yang sedang mogok kerja. Perjalanan impian menuju Piala Dunia 2026 baru saja dimulai dengan sebuah drama domestik di jantung kota Tanjung.
