Bab 7: Amukan Samudra dan Goyangan Ulekan Penyelamat8

Bab 7: Amukan Samudra dan Goyangan Ulekan Penyelamat8

Lev
0
"Ikuti perjalanan seru dan mengharukan Muhammad Hifni dan Rina Rufida dalam Novel Islami 'Bahtera Rindu'. Kisah perjalanan haji dari Martapura tahun 1795 melintasi samudera. Perpaduan sejarah, religi, dan komedi kehidupan keluarga yang menginspirasi."

Samudra Hindia, Juli 1795 Masehi

Terima kasih telah setia mengikuti perjalanan keluarga Hifni. Memasuki Bab 7, kita akan meninggalkan hiruk-pikuk pasar Malaka dan memasuki ujian yang sesungguhnya: Samudra Hindia. Di sinilah iman, ulekan batu, dan kesabaran seorang PNS Martapura diuji oleh alam yang perkasa.

Kapal Bintang Samudera kini seperti selembar daun kering yang terombang-ambing di tengah hamparan air raksasa. Tidak ada lagi daratan yang terlihat. Di bulan Juli, angin muson bertiup kencang, membawa awan hitam yang menggantung rendah seolah hendak menyentuh tiang kapal yang tinggi.

Muhammad Hifni duduk bersandar pada dinding kayu dek bawah yang lembap. Di tangannya, pena bulu dan tinta hitam tetap terjaga. Ia sedang menulis surat wasiat darurat, berjaga-jaga jika kapal kayu ini menyerah pada ombak.

"Hifni, kenapa wajahmu lebih gelap daripada kopi pahit?" tanya Rina Rufida. Ia sedang berusaha menyeimbangkan diri sambil memegangi Khalisa yang mulai merasa pusing.

"Rina, kau lihat ombak di luar? Tingginya lebih besar dari rumah dinas pimpinanku di Martapura," bisik Hifni cemas. "Aku sedang menghitung peluang kita selamat berdasarkan arah angin dan berat muatan kapal. Secara matematis, kita sedang dalam posisi... not good."

Rina, meski perutnya bergejolak, mencoba tersenyum. "Abah, kau ini PNS atau peramal cuaca? Sejak kapan matematika bisa mengalahkan doa? Have faith, Abah. God is with us."

Tiba-tiba, sebuah dentuman keras terdengar. Kapal miring ke kiri hingga mencapai sudut 45 derajat! Barang-barang di dek bawah berhamburan. Peti kayu, karung beras, dan peralatan masak meluncur bebas mengikuti gravitasi.

"Ulekanku! My stone!" teriak Rina histeris.

Ulekan batu seberat lima kilogram itu terlepas dari ikatannya dan meluncur cepat menuju lubang pembuangan air di sisi kapal. Jika benda itu jatuh, tamatlah harapan Rina untuk makan sambal di tanah suci. Namun yang lebih berbahaya, ulekan itu meluncur ke arah kaki seorang jemaah tua yang sedang tertidur.

"Awas!" Hifni melompat dengan gerakan yang tidak pernah ia bayangkan bisa dilakukan oleh seorang pegawai kantor yang jarang olahraga. Ia menangkap ulekan itu tepat sebelum menghantam kaki sang jemaah, namun akibatnya, tubuh Hifni ikut meluncur dan tertahan di pojok dek dengan posisi memeluk batu tersebut.

"Abah! Are you okay?" teriak Rina panik.

Hifni meringis kesakitan, tapi ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi. "Batu ini... lebih berat daripada dosa-dosaku, Rina!" ujarnya dengan nada komedi di tengah situasi tegang.

Badai berlangsung selama tiga hari tiga malam. Di saat semua orang ketakutan, Khalisa justru menunjukkan keberanian yang aneh. Ia duduk di pangkuan ibunya sambil memandang lubang kecil di dinding kapal.

"Ummi, lihat! Air lautnya menari-nari," kata Khalisa polos. "Naga lautnya sedang mandi ya?"

Rina memeluk Khalisa erat. "Iya, Sayang. Naganya sedang mandi, dan kita sedang dibersihkan dari sombong dan riya. Pray, Khalisa, pray."

Selama badai itu, Hifni tidak berhenti berzikir, namun ia juga tidak berhenti bekerja. Ia membantu para pelaut mengikat kembali barang-barang yang lepas. Kecakapannya dalam administrasi ternyata berguna; ia membuat daftar barang yang rusak dan memastikan pembagian air bersih tetap adil bagi seluruh penumpang yang ketakutan.

Pada hari keempat, matahari akhirnya menampakkan diri. Samudra Hindia kembali tenang, meski menyisakan kelelahan yang luar biasa pada wajah-wajah jemaah.

Hifni duduk di dek atas, menghirup udara segar yang bebas dari bau pengap dek bawah. Ia membuka catatan hariannya dan menulis:

“Hari ini aku belajar bahwa ulekan batu Rina bukan sekadar alat masak. Ia adalah jangkar mental kami. Saat kapal bergoyang, memeluk sesuatu yang berat dan nyata membuatku merasa tetap berpijak di bumi. Tuhan menjaga kami lewat cara-cara yang lucu.”

July 2026

Zain menghela napas panjang setelah membaca Bab 7. Ia bisa merasakan ketegangan yang dialami kakek buyutnya. Di tangannya, ia memegang ulekan batu yang sama—benda yang kini menjadi pusaka keluarga.

"Ternyata kamu hampir tenggelam di Samudra Hindia ya?" gumam Zain pada batu itu.

Zain segera memposting bagian cerita ini di blognya dengan judul: "Action-Movie ala PNS Martapura: Menyelamatkan Ulekan di Tengah Badai 1795".

Ia menambahkan catatan SEO:

Banyak orang mengira perjalanan haji zaman dulu hanya tentang doa. Padahal, ada aksi heroik menyelamatkan peralatan dapur di tengah badai Samudra Hindia. Inilah bukti bahwa fisik dan mental kakek-nenek kita sangat luar biasa.

Salah satu pembaca berkomentar: "Zain, aku tidak sabar menunggu Bab 8. Apakah setelah badai ini mereka akan sampai di Aceh?"

Zain membalas: "Bab 8 akan bercerita tentang persinggahan di Aceh—Serambi Mekah. Di sana, Rina Rufida akan bertemu dengan seorang ulama besar yang menguji kemampuan bahasa Inggrisnya. Stay tuned!"

Intip Bab 8 (Agustus 2026):

Wangi Tanah Aceh: Kegembiraan keluarga Hifni saat melihat menara masjid di daratan Sumatra.

Debat Bahasa: Rina Rufida berdiskusi tentang istilah 'Coffee' dengan pedagang Gayo yang ternyata juga punya wawasan luas.

Khalisa sang Penjelajah: Khalisa tersesat sebentar di pasar Aceh karena mengejar seekor kucing hias.

Pertanyaan untuk Pembaca: "Pernahkah kalian mengalami momen 'hidup dan mati' dalam perjalanan? Apa yang kalian lakukan untuk tetap tenang?"

Sampai jumpa di Bab 8 pada bulan Agustus 2026!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default