Senin kembali tiba. Rutinitas kantor Hifni di Dinas Tata Ruang berjalan seperti biasa, namun kali ini ada sedikit riak yang menguji integritasnya sebagai seorang PNS yang memegang teguh prinsip Islami.
Pagi itu, Hifni sedang sibuk meninjau dokumen proposal pembangunan perumahan subsidi di pingggiran Barabai. Proyek ini cukup besar dan melibatkan banyak birokrasi perizinan.
Sekitar pukul 10.00 WITA, seorang kontraktor lokal bernama Pak Herman datang ke ruangan Hifni. Pak Herman ini terkenal sebagai pengusaha sukses di Barabai, tapi juga lihai dalam urusan "pelicin" birokrasi.
"Assalamualaikum, Pak Hifni," sapa Pak Herman dengan senyum ramah, duduk di kursi depan meja Hifni tanpa diminta.
"Wa'alaikumussalam, Pak Herman. Ada yang bisa dibantu?" tanya Hifni, mencoba bersikap profesional.
"Ini, Pak. Soal proposal perumahan saya. Sudah sejauh mana ya prosesnya?" tanya Pak Herman, suaranya sedikit direndahkan.
"Masih kami tinjau, Pak Herman. Ada beberapa aspek tata ruang yang harus disesuaikan lagi dengan regulasi perda terbaru," jelas Hifni, menunjuk beberapa poin di dokumen.
Pak Herman mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba meletakkan sebuah amplop coklat tebal di atas meja Hifni, tepat di samping tumpukan dokumen. Amplop itu terlihat penuh.
"Begini, Pak Hifni. Saya tahu bapak orang baik, orang lurus. Tapi kan, namanya kerja di pemerintahan, kadang ada proses yang bisa dipercepat, ya kan?" Pak Herman tersenyum penuh arti.
Jantung Hifni berdebar kencang. Ini adalah godaan nyata pertama yang ia hadapi sejak menjabat di posisinya sekarang. Gaji PNS-nya pas-pasan, sementara isi amplop itu mungkin setara dengan beberapa bulan gajinya. Setan di bahu kirinya berbisik, "Ambil saja, Hifni. Buat beli susu Khalisa, buat bantu ekonomi keluarga."
Namun, prinsip Islami yang ditanamkan kuat dalam dirinya sejak dulu, didikan orang tua, dan nasihat Rina istrinya, langsung membentengi hatinya. Integritas adalah harga mati. Rezeki haram, sekecil apapun, akan mencabut keberkahan dari rumah tangganya.
Hifni mendorong amplop itu kembali ke arah Pak Herman, pelan tapi tegas.
"Maaf, Pak Herman. Saya ndak bisa menerima ini," ujar Hifni, suaranya mantap. "Proses perizinan di sini sudah ada SOP-nya, Pak. Cepat atau lambatnya tergantung kelengkapan berkas Bapak. Saya bekerja sesuai aturan."
Wajah Pak Herman sedikit berubah, senyumnya memudar. "Ah, Bapak ini kaku sekali. Sedikit rezeki tambahan ndak masalah kali, Pak. Semua juga tahu kalau PNS juga manusia, butuh duit lebih."
"Justru karena saya manusia, saya punya tanggung jawab moral dan agama, Pak Herman," balas Hifni, kali ini nadanya lebih serius. "Saya disumpah untuk melayani masyarakat, bukan untuk memperkaya diri. Mohon maaf sekali lagi, saya tolak. Silakan perbaiki dulu dokumen Bapak."
Pak Herman akhirnya menghela napas, mengambil kembali amplopnya dengan sedikit kesal. "Baiklah, kalau begitu. Saya permisi dulu, Pak Hifni."
Ia meninggalkan ruangan Hifni dengan langkah gontai. Hifni menyandarkan punggungnya di kursi, mengusap dadanya yang terasa sedikit sesak. Ujian itu sudah lewat. Ia berhasil melewatinya.
Siang harinya, saat makan siang bekal dari Rina, Hifni merenungkan kejadian tadi pagi. Ia merasa lega, tapi juga sedikit takut. Dunia birokrasi memang keras. Godaan seperti itu mungkin akan datang lagi.
Sepulang kantor, Hifni singgah di toko buku lagi. Kali ini ia mencari buku tentang etika birokrasi Islami. Ia merasa butuh penguat iman dan pengetahuan hukum Islam yang lebih dalam untuk menghadapi tantangan di kantornya.
Saat tiba di rumah, Rina menyambutnya dengan wajah sedikit khawatir.
"Abi kenapa? Kok mukanya lesu begitu?" tanya Rina sambil menerima tas kerja Hifni.
Hifni menceritakan kejadian amplop coklat dari Pak Herman secara jujur dan detail. Rina mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk.
"Terus Abi tolak?" tanya Rina setelah Hifni selesai bercerita.
"Iya, Ummi. Abi tolak," jawab Hifni.
Rina tersenyum, senyum bangga yang menenangkan hati Hifni. "Alhamdulillah, Abi. Ummi bangga sama Abi."
"Tapi, Mi, Abi jadi kepikiran. Gaji kita kan pas-pasan. Apa keputusan Abi sudah benar ya?" Hifni melontarkan keraguannya. "Mungkin uangnya bisa buat beli laptop baru buat Ummi mengajar, atau susu Khalisa yang lebih bagus."
Rina memegang tangan Hifni erat. Matanya menatap suaminya lembut. "Abi, dengar baik-baik. Rezeki itu bukan cuma soal uang yang banyak di rekening. Rezeki itu rasa cukup, kesehatan kita, tawa Khalisa, dan keberkahan dalam setiap suapan nasi yang kita makan."
"Lebih baik kita makan nasi goreng kampung setiap hari dengan hati tenang dan berkah, daripada makan daging mahal dari uang haram yang bikin hati gelisah dan hidup ndak tenang. Allah itu Maha Kaya, Bi. Dia tahu kebutuhan kita."
Kata-kata Rina bagai air penyejuk di hati Hifni yang gundah. Keraguannya lenyap seketika. Ia memeluk istrinya erat. Rina adalah madrasah pertamanya, penguat imannya, dan partner terbaiknya dalam menjalani hidup Islami di tengah kerasnya duniawi.
Malam itu, setelah salat Isya berjamaah, Hifni memanjatkan doa panjang. Ia berdoa agar selalu diberikan kekuatan iman untuk menjaga integritasnya sebagai abdi negara dan hamba Allah.
Kejadian hari ini menjadi pengingat bagi mereka berdua: menjadi PNS di Barabai bukan sekadar soal status sosial atau gaji bulanan, tapi soal amanah dan pengabdian. Godaan materi mungkin datang silih berganti, tapi prinsip hidup yang lurus akan selalu menuntun mereka kembali ke jalan yang benar, jalan yang penuh keberkahan dan kebahagiaan hakiki.
