Setting: Perjalanan darat dari Bukittinggi menuju Palembang, dan area sekitar Jembatan Ampera di Palembang.
Perjalanan menuju Palembang dari Bukittinggi adalah salah satu etape terpanjang di Sumatera. Mereka menghabiskan hampir satu hari penuh di dalam mobil, melintasi perbatasan provinsi dan merasakan perubahan lanskap dari dataran tinggi yang sejuk ke dataran rendah yang lebih panas dan padat.
"Ya Allah, pantatku sampai tepos duduk terus," keluh Zahra dari kursi belakang, mencoba meregangkan kakinya.
"Sabar, Ra. Sebentar lagi kita nyampe Palembang. Hadiahnya pempek sepuasnya," hibur Faris, yang juga sudah terlihat lelah.
Aisyah, si navigator andal, fokus pada Google Maps. "Kita sudah mau masuk kota. Sebentar lagi kita lihat ikonnya."
Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, sebuah struktur megah membentang di atas sungai besar terlihat di kejauhan. Jembatan Ampera. Jembatan ikonik yang menghubungkan dua wilayah penting di Palembang, Seberang Ulu dan Seberang Ilir, di atas Sungai Musi.
Melihat jembatan yang gagah itu, kelelahan mereka seolah terbayar lunas. Lev memperlambat laju mobil, membiarkan teman-temannya menikmati pemandangan.
"Akhirnya! Jembatan Ampera! Di TV kelihatan gede, aslinya gede banget!" seru Zahra, langsung mengeluarkan ponselnya.
Mereka mencari penginapan yang lokasinya tidak jauh dari Sungai Musi. Setelah check-in dan bersih-bersih, meskipun hari sudah malam, semangat mereka untuk melihat jembatan lebih dekat dan mencari makan malam tak terbendung.
Lev, Aisyah, Faris, dan Zahra berjalan kaki menuju area Benteng Kuto Besak di tepi sungai. Di malam hari, Jembatan Ampera diterangi lampu warna-warni yang indah, memantulkan cahayanya di permukaan Sungai Musi yang tenang.
Suasana di area BKB (Benteng Kuto Besak) sangat hidup. Banyak pedagang kaki lima, kafe terapung, dan keluarga yang menikmati malam. Kehidupan bermasyarakat di Palembang terasa santai dan hangat.
"Lapar banget, Ris. Mana pempek yang kamu janjikan?" tagih Lev.
Mereka memilih salah satu warung pempek yang paling ramai di pinggir sungai. Aneka pempek, dari lenjer, kapal selam, adaan, kulit, hingga tekwan, tersedia lengkap. Aroma cuka (saus pempek) yang khas langsung tercium.
"Empat kapal selam, empat lenjer, empat adaan, empat kulit, dan empat tekwan. Semuanya porsi jumbo!" pesan Faris dengan semangat membara.
Aisyah mencubit lengan Faris. "Ris, ingat porsi! Kita bukan kuli bangunan!"
Faris hanya nyengir. Mereka pun menikmati pesta pempek di bawah cahaya rembulan dan lampu Jembatan Ampera. Rasanya gurih, kenyal, dan cukanya pedas manis asam yang pas di lidah.
Di tengah makan, Lev memimpin obrolan. "Palembang ini kota yang unik. Dulu pusat kerajaan maritim Buddha Sriwijaya, sekarang kota besar dengan mayoritas muslim yang kuat budayanya. Ini transisi yang menarik."
"Bener, Lev. Dan mereka sangat menjaga kuliner lokalnya. Ini bukti kalau identitas budaya bisa bertahan lintas zaman," tambah Faris sambil melahap pempek kapal selamnya.
Zahra, seperti biasa, memberikan celetukan komedi. "Aisyah, awas kepedasan cukanya! Wajahmu udah merah kayak udang rebus."
Aisyah, yang memang kepedasan tapi gengsi mengaku, hanya mendengus. Momen slice of life ini penuh tawa dan kebersamaan.
Setelah makan malam, mereka berjalan santai di pinggir sungai. Mereka melihat perahu-perahu ketek (perahu tradisional) yang menawarkan jasa keliling sungai.
"Naik itu yuk!" ajak Zahra.
Mereka pun naik perahu dan menikmati pemandangan kota dari Sungai Musi. Angin malam menerpa wajah mereka. Suasana romantis dan damai menyelimuti.
"Besok kita sudah mau menyeberang ke Pulau Jawa. Ini malam terakhir kita di Sumatera," ujar Lev, menatap jembatan yang berdiri kokoh.
Sumatera telah memberikan mereka banyak pelajaran: ketabahan Aceh, toleransi Danau Toba, kearifan adat Minang, dan keramahan Palembang. Mereka membawa oleh-oleh pengalaman yang tak ternilai.
Keesokan paginya, setelah sarapan pempek lagi (atas permintaan Faris), mereka check-out dan melanjutkan perjalanan darat menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung, siap untuk menyeberang selat dan memasuki babak baru petualangan mereka di Pulau Jawa, pulau terpadat dan pusat metropolitan Indonesia.
