Bab 11: Kultur Syok di Elbe

Bab 11: Kultur Syok di Elbe

Lev
0

Dinginnya udara Dresden menyambut Lev dan Cindy begitu mereka melangkah keluar dari Bandara Internasional Dresden. Berbeda jauh dengan kelembapan Banjarmasin, udara di sini terasa kering dan menusuk. Lev menarik kerah jaketnya, berusaha menghangatkan diri. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan udara sedingin ini, dan ia sedikit kaget.

"Selamat datang di Dresden," sapa Cindy, sambil tersenyum lebar. Ia sendiri tampak begitu nyaman dengan cuaca dingin, mengenakan coat tebal dan syal yang melingkari lehernya. "Bagaimana? Sejuk, kan?"

"Sejuk sekali sampai tulangku terasa beku," jawab Lev sambil menggigil.

Cindy tertawa. "Tenang saja, sebentar lagi kamu akan terbiasa. Ayo, kita naik taksi ke apartemenku. Setelah ini, aku akan buatkan kamu cokelat panas."

Perjalanan ke apartemen Cindy terasa seperti memasuki dunia lain bagi Lev. Ia menatap pemandangan di luar jendela taksi, melihat arsitektur kuno dan teratur yang begitu berbeda dengan Banjarmasin. Jalanan bersih, trotoar rapi, dan pejalan kaki tampak buru-buru. Tidak ada suara klakson yang riuh seperti di Indonesia, hanya suara mobil yang melaju pelan.

"Di sini, orang-orang terlihat serius sekali," komentar Lev.

"Orang Jerman memang seperti itu," kata Cindy. "Mereka fokus dengan apa yang mereka lakukan. Tapi percayalah, di balik wajah serius mereka, ada hati yang hangat."

Mereka tiba di apartemen Cindy. Apartemen itu bersih, rapi, dan minimalis, dengan pemandangan langsung ke Gereja Frauenkirche. Lev langsung terpana. Ia membayangkan Vania, yang dulu selalu ingin melihat pemandangan ini. Air matanya hampir menetes, namun ia menahannya.

Cindy meletakkan koper mereka di sudut ruangan. "Lev, kamu bisa mandi dulu, aku akan siapkan cokelat panas. Atau kamu mau teh?"

"Cokelat panas saja," jawab Lev.

Sambil menunggu cokelat panasnya, Lev melihat-lihat apartemen Cindy. Ada beberapa buku psikologi di rak, beberapa foto keluarga di meja samping, dan sebuah rak besar berisi piringan hitam. Lev mengambil salah satu piringan hitam, melihat gambar di depannya. Itu adalah The Beatles. Cindy datang dengan dua cangkir cokelat panas.

"Kamu suka The Beatles?" tanya Lev.

"Aku suka musik klasik, tapi aku juga suka The Beatles," jawab Cindy. "Kadang, musik itu bisa jadi terapi paling bagus."

Lev meminum cokelat panasnya. Rasa cokelatnya pekat dan manis, membuat tubuhnya terasa lebih hangat. "Ini enak sekali."

"Aku tahu," kata Cindy, tersenyum. "Sekarang, karena kamu sudah hangat, aku akan ajak kamu keliling apartemen. Aku punya ruangan khusus untuk kamu."

Cindy mengajak Lev ke sebuah ruangan yang kecil tapi nyaman. Di dalamnya ada kasur, meja belajar, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang. "Ini ruangan kamu selama di sini," kata Cindy. "Kamu bisa pakai sepuasnya."

"Terima kasih, Cindy," kata Lev, suaranya tulus. "Kamu sudah terlalu banyak membantuku."

"Sama-sama," jawab Cindy. "Tapi jangan anggap ini bantuan. Ini persahabatan."

Malam itu, Lev tidur dengan nyenyak. Ia merasa berada di rumah, meskipun jauh dari rumah. Ia tahu, perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang panjang, tapi ia juga tahu, ia tidak akan sendirian. Ada Cindy, yang selalu ada untuknya, dengan segala kekonyolan dan ketulusannya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default