Zayn Al-Fassi adalah seorang dermawan besar di Casablanca. Namanya sering muncul di berita terkait sumbangan amal, meskipun ia lebih suka menyumbang secara anonim. Kali ini, ia memutuskan untuk terlibat langsung dalam proyek renovasi masjid tua di lingkungan yang lebih sederhana di luar Anfa.
Proyek ini dipimpin oleh sebuah komite masjid lokal yang antusias, tetapi terbatas dananya. Ketika Zayn menawarkan diri untuk mendanai renovasi penuh, komite tersebut hampir tidak percaya. Mereka mengadakan pertemuan di lokasi masjid yang akan direnovasi—sebuah bangunan tua namun bersejarah yang membutuhkan perombakan total.
Zayn tiba di sana dengan Maybach S 680-nya, kontras mencolok dengan lingkungan sekitar yang lebih padat dan sederhana. Dia disambut oleh kepala komite, Haji Abdullah, seorang pria paruh baya yang rendah hati dengan janggut putih dan senyum ramah.
"Tuan Zayn, jazakallah khairan atas bantuan Anda. Kami sangat bersyukur," ujar Haji Abdullah tulus.
"Sama-sama, Haji Abdullah. Ini kewajiban saya sebagai Muslim yang diberi rezeki lebih," jawab Zayn.
Mereka berkeliling masjid. Dindingnya retak, karpetnya usang, dan sistem pencahayaannya redup. Zayn mendengarkan rencana renovasi mereka: perbaikan atap, pengecatan ulang, dan karpet baru. Semuanya sangat fungsional dan sederhana.
Zayn tersenyum. "Haji Abdullah, izinkan saya mengambil alih desain interiornya. Saya ingin masjid ini menjadi tempat yang nyaman dan indah bagi jamaah."
Haji Abdullah setuju dengan senang hati, tidak tahu apa yang ada di pikiran Zayn.
Zayn menghubungi arsitek interior terbaiknya yang biasanya menangani hotel bintang tujuh. "Saya ingin masjid ini didesain dengan kualitas terbaik," instruksi Zayn. "Lantai marmer Crema Marfil Spanyol, sistem pendingin udara terpusat, dan karpet Persia custom-made yang lembut."
Namun, puncak dari ide Zayn adalah lampu gantung utama di ruang salat.
"Masjid ini butuh focal point," kata Zayn kepada Laila malam itu saat makan malam. "Tempat di mana jamaah bisa mengangkat kepala mereka dan terinspirasi oleh keindahan arsitektur."
"Kamu mau pasang lampu gantung apa, Abi?" tanya Laila, sudah menduga arah pembicaraan suaminya.
"Aku mau pasang lampu gantung kristal Swarovski raksasa," kata Zayn mantap. "Bukan Baccarat seperti di rumah, tapi Swarovski yang didesain khusus untuk masjid. Warna emas dan kristal bening, dengan kaligrafi Asmaul Husna di lingkarannya."
Laila terbelalak. "Zayn, itu akan menelan biaya puluhan ribu dolar! Mungkin lebih."
"Tidak masalah, Umi. Allah itu indah, dan Dia menyukai keindahan. Masjid adalah rumah-Nya. Kita harus memberikan yang terbaik dari yang terbaik," argumen Zayn, mengutip lagi filosofi hidupnya.
Amira, Tariq, dan Sofia mendengarkan perdebatan orang tua mereka dengan geli.
"Ide yang keren, Abi," dukung Tariq. "Bayangkan vibe-nya, salat di bawah lampu gantung kristal raksasa."
"Sangat chic, Abi," tambah Amira. "Itu akan menjadi masjid yang paling banyak difoto di Maroko, aku jamin."
Beberapa minggu kemudian, renovasi berjalan lancar. Ketika saatnya memasang lampu gantung Swarovski raksasa, Zayn dan Haji Abdullah mengawasi prosesnya.
Haji Abdullah menatap lampu gantung besar yang berkilauan. "Masya Allah, Tuan Zayn. Ini... sangat megah. Jamaah pasti akan sangat terkejut."
"Semoga mereka senang dan merasa nyaman beribadah di sini, Haji Abdullah," ujar Zayn, tersenyum puas.
Pada hari peresmian, masjid itu dipenuhi jamaah. Mereka semua terpesona oleh transformasi masjid, terutama lampu gantung kristal Swarovski yang memancarkan cahaya hangat dan indah ke seluruh ruangan, membuat karpet Persia dan lantai marmer berkilau.
Saat salat Isya dimulai, dan jamaah bersujud, Zayn Al-Fassi ikut bersujud di barisan depan. Dia merasa sangat tenang dan bersyukur. Dia berhasil menyatukan dua sisi hidupnya: mencintai kemewahan dan mencintai agamanya. Di bawah cahaya kristal Swarovski yang mahal itu, Zayn menemukan kedamaian, yakin bahwa niat baik dan kemewahan bisa berjalan beriringan jika digunakan di jalan yang benar.
