Udara di Interlaken benar-benar berbeda dari Manchester maupun Banjarmasin. Kering, sejuk, dan sangat bersih. Pemandangan pegunungan Alpen yang menjulang tinggi di kejauhan membuat keluarga Ryley seolah masuk ke dalam kartu pos.
"Yah, ini beneran ada sapinya, ada rumputnya! Kayak di TV!" seru Rayyan, masih takjub.
Mereka telah tiba di stasiun Interlaken Ost. Tujuan mereka selanjutnya adalah chalet kayu tradisional Swiss yang telah disewa Lev melalui online booking. Penginapan ini sengaja dipilih agar mereka bisa merasakan suasana otentik Swiss dan memiliki dapur untuk memasak makanan halal sendiri.
Mereka naik taksi menuju chalet yang letaknya agak di pinggiran kota Interlaken, menghadap langsung ke pegunungan. Begitu tiba, semua anggota keluarga langsung jatuh cinta. Chalet kayu dengan jendela besar, balkon, dan dekorasi bunga geranium di pot-pot kecil.
"Masya Allah, cantik sekali rumahnya!" Anindya langsung live Instagram lagi. "Halo followers! Ini chalet impian Ibu di Swiss! Masya Allah, pemandangannya langsung gunung salju! Siapa yang mau ikutan nginep di sini?"
Lev tersenyum melihat antusiasme istrinya. "Ayo masuk dulu, Bu. Kuncinya sudah diambil dari kotak kunci otomatis."
Di dalam chalet, suasananya hangat dan nyaman. Perabotan kayu, dapur lengkap, dan kamar tidur yang cozy. Maryam langsung memilih kamar dengan pemandangan gunung terbaik untuknya. Aisyah sibuk membantu Anindya menata barang dan mengecek dapur.
"Ayah, di sini kita masak sendiri ya? Kan dapurnya lengkap," usul Aisyah.
"Iya, Nak. Lebih hemat dan terjamin halalnya," jawab Lev.
Namun, di tengah kehebohan menata barang, Rayyan, si bungsu, mulai menunjukkan gejala aneh. Wajahnya mulai pucat, dan ia terlihat lesu.
"Rayyan kenapa, Nak?" tanya Anindya cemas.
"Nggak tahu, Bu. Pusing, perutnya mual," jawab Rayyan lirih.
Lev langsung sigap. "Jangan-jangan Rayyan mabuk ketinggian? Interlaken kan sudah lebih tinggi dari Banjarmasin."
Mereka panik sebentar. Lev dan Anindya mencoba menenangkan Rayyan. Lev memberinya minum air putih hangat dan menyuruhnya istirahat di kamar. Ghina dan Maryam ikut prihatin melihat adiknya sakit.
Setelah beberapa jam istirahat, dan meminum obat anti mabuk dari kotak P3K Anindya, kondisi Rayyan mulai membaik. Wajahnya kembali ceria.
"Sudah enakan, Rayyan?" tanya Lev lega.
"Sudah, Yah. Rayyan mau lihat gunung dari balkon," katanya, berlari kecil ke balkon kamar.
Pemandangan dari balkon luar biasa indah. Matahari mulai terbenam di balik gunung es. Cahaya keemasan menyelimuti puncak-puncak gunung, menciptakan pemandangan surealis yang tak bisa diabadikan kamera mana pun.
Maryam, dengan sketchbook-nya, langsung terinspirasi dan mulai membuat sketsa sunset Alpen. Aisyah dan Ghina duduk di kursi balkon, menikmati ketenangan.
Anindya dan Lev saling pandang di balik pintu kaca balkon. "Alhamdulillah, Rayyan sudah sehat, Yah."
"Iya, Bu. Untung kita bawa obat lengkap," kata Lev.
Malam itu, mereka memasak makan malam pertama mereka di chalet: pasta dengan saus tomat dan tuna kalengan, menu paling gampang yang bisa mereka temukan di toko terdekat. Meski sederhana, rasanya luar biasa karena dimakan bersama di tengah hawa dingin Swiss.
Sebelum tidur, mereka berkumpul di ruang tamu chalet dengan pemanas ruangan menyala. Lev memimpin doa, mengucap syukur karena telah tiba di Swiss dengan selamat dan Rayyan sudah sehat.
Interlaken, gerbang Alpen, telah menyambut mereka dengan keindahan alam yang memukau dan sedikit drama mabuk ketinggian. Keluarga Ryley tahu, petualangan di negeri salju ini akan penuh dengan momen tak terduga, tawa, dan hikmah tentang kebesaran Allah yang tiada tara.
