Bab 19: Detak Jantung dan Doa di Tengah Badai

Bab 19: Detak Jantung dan Doa di Tengah Badai

Lev
0
Kabar itu menghantam Maimunah seperti pukulan telak. Kata-kata Zainab tentang kecelakaan Adam bergema di telinganya, seolah mematikan segala suara lain. Kaki Maimunah lemas. Yumi dan Zainab segera menyangganya, membawanya ke sofa.

"Zai, ini nggak bener kan?" bisik Maimunah, matanya kosong. "Kamu bohong kan?"

Zainab menggenggam tangan Maimunah erat, air mata membasahi pipinya. "Adam... Adam kecelakaan di jalan menuju bandara, Mun."

Dunia Maimunah terasa berputar. Baru saja ia merasakan kehangatan dari kehadiran Adam, kini ia harus dihadapkan pada kenyataan pahit ini. Ia teringat kembali pada masa-masa duka setelah kepergian Naufal. Namun, kali ini terasa lebih menyakitkan. Luka yang belum sembuh, kini ditimpa luka baru yang lebih dalam.

"Kita harus ke rumah sakit," kata Maimunah, suaranya parau.

Zainab menggeleng. "Ayahnya Adam bilang, dia udah ditangani, Mun. Kita di sini aja, kita doain Adam."

Maimunah bangkit, matanya memancarkan tekad. "Nggak, aku harus ke sana. Aku harus lihat Adam."

Yumi menenangkan Maimunah. "Mun, tenang. Kita nggak bisa ke sana. Ayah Adam udah ngurus semuanya. Kita cuma bisa berdoa."

Maimunah terdiam. Ia duduk kembali, air matanya tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya, melampiaskan semua kesedihan yang ia rasakan.

Zainab dan Yumi memeluk Maimunah. Mereka berempat berpelukan, saling menguatkan. Mereka tahu, mereka harus kuat. Demi Adam.

Malam itu, mereka berempat sholat tahajjud bersama. Mereka berdoa untuk kesembuhan Adam. Mereka berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk Adam. Maimunah merasa, ia tidak sendirian. Ada Yumi, ada Zainab, dan ada Allah.

Keesokan harinya, Zainab menerima telepon dari ayah Adam. "Adam... udah sadar," katanya, dengan suara bergetar.

Maimunah, Yumi, dan Zainab langsung bersorak kegirangan. Mereka merasa, doa mereka telah terkabul.

"Tapi... dia belum bisa ngomong," tambah Zainab.

Maimunah merasa lega. Setidaknya, Adam masih hidup.
"Kita harus ke sana," kata Maimunah.

Zainab mengangguk. "Aku akan atur semuanya."

Beberapa hari kemudian, mereka bertiga terbang ke Indonesia. Di sana, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Adam dirawat. Mereka melihat Adam terbaring lemah di ranjang, dengan banyak selang di tubuhnya. Maimunah mendekat, air matanya tumpah.

"Adam," panggil Maimunah, suaranya parau.

Adam menoleh, matanya menatap Maimunah. Ia tersenyum, tetapi senyumnya terlihat lemah.

Maimunah memegang tangan Adam erat-erat. "Dam, kamu harus sembuh. Kita masih punya banyak misi yang harus kita lakuin."

Adam mengangguk. Ia mencoba berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Aku janji," kata Maimunah, "aku akan selalu ada di sisimu. Aku nggak akan ninggalin kamu."

Adam tersenyum. Ia mencoba membalas genggaman tangan Maimunah.

Maimunah, Yumi, dan Zainab bergantian menjaga Adam. Mereka merawat Adam dengan penuh kasih sayang. Maimunah merasa, ia telah menemukan keluarganya. Keluarga yang tidak pernah ia sangka-sangka.
Di tengah-tengah kesibukan mereka, tiba-tiba Naufal datang. Naufal membawa sebuah buket bunga.

"Aku... aku mau jenguk Adam," kata Naufal.

Maimunah menatap Naufal, lalu bunga itu. Ia merasa, ia tidak bisa memaafkan Naufal.

"Nggak usah, Naufal," kata Maimunah, "kamu udah terlalu banyak bikin masalah."

Naufal terdiam. Ia menatap Maimunah, lalu Adam. Ia merasa, ia telah kehilangan segalanya.

"Aku... aku cuma mau minta maaf," kata Naufal.

"Maaf kamu nggak cukup," kata Maimunah, "kamu udah nyakitin banyak orang."

Naufal pergi, dengan wajah sedih. Maimunah menatap kepergian Naufal, lalu tersenyum. Ia merasa, ia telah membuat keputusan yang benar.

Beberapa minggu kemudian, kondisi Adam mulai membaik. Ia sudah bisa berbicara, meskipun masih terbata-bata. Maimunah, Yumi, dan Zainab merasa lega.

"Mun, kamu... kamu... kenapa nggak balik ke Rusia?" tanya Adam, suaranya pelan.

"Aku mau jagain kamu, Dam," jawab Maimunah, "aku nggak bisa ninggalin kamu."

Adam tersenyum. "Kamu... kamu... wanita yang baik, Mun."

Maimunah tersipu. Ia merasa, ia telah menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak pernah ia sangka-sangka.

To be continued...

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default