Bab 22: Jodoh yang Diridai

Bab 22: Jodoh yang Diridai

Lev
0

Empat bulan berlalu sejak kepulangan Anindya. Hubungannya dengan ibunya semakin membaik. Ibunya mulai sering bertanya tentang shalat, tentang puasa, dan tentang hal-hal kecil lainnya yang berhubungan dengan agama Islam. Anindya dengan sabar menjawab semua pertanyaan ibunya, memancarkan ketenangan yang membuat hati ibunya semakin luluh. Ayahnya, meskipun masih menjaga jarak, tidak lagi menunjukkan sikap permusuhan. Ia lebih sering mengamati dari jauh, melihat perubahan putrinya yang semakin memancarkan kebahagiaan.

Suatu sore, saat Anindya sedang membaca buku di ruang keluarga, ponselnya berdering. Nama Adam muncul di layar. Anindya mengangkatnya dengan hati berdebar.

"Assalamualaikum, Anin," sapa Adam dari seberang.

"Waalaikumsalam, Adam," jawab Anindya, senyumnya tak bisa ia tahan.

"Anin, aku sudah selesai di Manchester. Aku sudah pulang ke Indonesia," kata Adam.

"Alhamdulillah! Kapan sampai?" tanya Anindya antusias.

"Tadi pagi," jawab Adam. "Anin, ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Ini tentang... orang tuamu."

Jantung Anindya berdebar kencang. Ia tahu, Adam tidak akan membicarakan hal ini jika tidak serius. "Ada apa, Adam?"

"Aku... sudah bertemu dengan orang tuaku. Aku sudah cerita tentang kamu. Dan mereka... mereka setuju. Aku ingin melamarmu, Anin," kata Adam, suaranya terdengar gugup.

Anindya terdiam, tidak bisa berkata-kata. Lamaran itu terasa seperti mimpi. Ia tidak pernah menyangka, hubungan mereka yang berawal dari pertemanan dan pembimbingan spiritual akan berakhir di sini.

"Adam... kamu serius?" tanya Anindya, suaranya bergetar.

"Sangat serius, Anin. Aku tahu, kita tidak pacaran. Tapi aku yakin, kamu adalah jodoh yang Allah kirimkan untukku. Kamu yang membantuku menjadi pribadi yang lebih baik, dan aku yakin, bersamamu, aku bisa menjadi imam yang baik untukmu," kata Adam tulus.

Air mata Anindya menetes. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Aku... aku harus bicara dengan orang tuaku dulu, Adam."

"Tentu," jawab Adam. "Aku akan tunggu. Tapi aku harap, kamu beri aku kesempatan untuk melamar secara resmi, Anin."

Setelah mengakhiri panggilan, Anindya merasa dunianya berputar. Ia bahagia, tetapi juga cemas. Ia tahu, ayahnya masih keberatan dengan Adam. Namun, ia juga tahu, ini adalah jalannya.

Malam itu, Anindya duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya. Ia menceritakan semuanya, tentang panggilan dari Adam, tentang niatnya yang tulus. Ayahnya mendengarkan dengan wajah datar, tetapi ibunya mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ayah, Ibu... Anin tahu Ayah masih keberatan dengan Adam. Tapi, percayalah, Adam adalah laki-laki yang baik. Dia yang membantu Anin menemukan jalan ini. Dia yang selalu ada untuk Anin saat Anin jatuh," kata Anindya, suaranya penuh keyakinan.

Ayahnya terdiam, lalu menatap ibunya. Ibunya mengangguk pelan, memberikan sebuah isyarat. Ayahnya akhirnya menghela napas.

"Anin, Ayah hanya ingin kamu bahagia," kata ayahnya. "Ayah sudah melihat perubahanmu. Kamu terlihat lebih tenang, lebih bahagia. Kalau memang laki-laki itu yang membuatmu bahagia, Ayah akan mencoba. Tapi Ayah mau ketemu langsung dengan dia. Ayah mau lihat, apakah dia benar-benar tulus."

Anindya tersenyum, air matanya menetes. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu."

Seminggu kemudian, Adam datang ke rumah Anindya, ditemani orang tuanya. Pertemuan itu berlangsung dengan haru. Adam menjelaskan niatnya dengan tulus, dan orang tua Adam meyakinkan orang tua Anindya bahwa mereka akan merawat Anindya dengan baik.

Di akhir pertemuan, ayah Anindya mengangguk. "Saya restui. Saya percaya, ini adalah jalan yang terbaik untuk anak saya."
Anindya menatap Adam, dan Adam tersenyum. Di tengah restu kedua orang tua, mereka tahu, ini adalah awal dari sebuah babak baru. Babak di mana mereka akan merajut masa depan yang berlandaskan cinta dan iman.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default