BAB 5: Teror Senyap: Ketika Motor Listrik Mengguncang Gang Rukun Roda

BAB 5: Teror Senyap: Ketika Motor Listrik Mengguncang Gang Rukun Roda

Lev
0

Tahun 2025 membawa angin perubahan yang cukup kencang ke pelosok Kalimantan Selatan, tidak terkecuali di Paringin. Kota yang biasanya hanya diramaikan oleh adu suara knalpot antara kubu Honda dan Yamaha ini tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah fenomena baru yang disebut-sebut sebagai masa depan transportasi. Di Gang Rukun Roda, suasana pagi yang biasanya diwarnai oleh ritual memanaskan mesin motor—yang menurut Abah Zaki adalah "musik bagi jiwa"—mendadak terusik oleh sebuah kehadiran yang sangat... sunyi.

Pagi itu, Haji Luqman sedang asyik memeriksa tekanan ban Honda Vario-nya, sementara di sebelah pagar, Abah Zaki sedang sibuk menyemprotkan cairan pengkilap pada bodi Yamaha N-Max-nya yang makin hari makin tampak seperti pesawat tempur darat. Namun, keasyikan mereka terhenti ketika seorang pemuda necis dengan kemeja slim-fit dan tas selempang modern berhenti di depan rumah mereka. Pemuda itu mengendarai sebuah motor listrik berwarna futuristik yang tidak mengeluarkan suara sama sekali. Ia berhenti dengan kehalusan yang hampir terasa mistis.

"Assalammualaikum, Bapak-Bapak sekalian yang saya hormati," sapa pemuda itu dengan senyum selebar diler pusat. "Perkenalkan, saya Rian, konsultan mobilitas masa depan. Saya melihat Bapak-Bapak di sini sangat mencintai kendaraan dua roda. Apakah Bapak-Bapak tidak bosan dengan suara bising, asap knalpot, dan antrean di SPBU Paringin yang kadang mengular sampai ke Jembatan?"

Abah Zaki meletakkan kain lapnya dengan dahi berkerut. "Waalaikumussalam. Mobilitas masa depan? Antrean SPBU itu seni, Mas Rian! Di sanalah kami para lelaki bersosialisasi. Lagi pula, kalau tidak ada suaranya begitu, bagaimana orang tahu kalau saya sedang lewat? Nanti dikira saya hantu yang sedang melayang!"

Haji Luqman hanya tersenyum tipis, meski ia pun merasa terusik dengan klaim pemuda tersebut. "Mas Rian, Islam mengajarkan kita untuk menghargai apa yang sudah kita miliki selama itu masih bermanfaat. Motor Honda saya ini sudah menemani saya ke masjid selama bertahun-tahun tanpa sekalipun mogok. Kenapa saya harus berpindah ke motor yang suaranya saja tidak punya?"

Mas Rian tidak menyerah. Ia mulai mengeluarkan jurus "dakwah teknologi" versinya. "Begini, Pak Haji, Pak Zaki. Di tahun 2025 ini, kita harus berpikir tentang ekologi. Motor listrik ini tidak butuh ganti oli, tidak butuh servis mesin yang rumit, dan yang paling penting, biayanya jauh lebih murah daripada bensin paling irit sekalipun. Bayangkan, cukup charge di rumah sambil tidur, pagi-pagi motor sudah penuh energinya seperti habis makan sahur!"

Mendengar kata "lebih irit daripada bensin paling irit", telinga Haji Luqman sedikit berdenging. Ini adalah serangan langsung ke jantung harga diri Honda miliknya. Sementara itu, Abah Zaki mulai tertarik pada fitur konektivitas layar sentuh di motor listrik tersebut yang bisa menampilkan peta navigasi langsung ke Masjid Al-Akbar.

"Tunggu dulu," potong Abah Zaki sambil mendekati motor listrik itu. "Ini kalau saya pakai buat nanjak ke arah Pegunungan Meratus, apa tidak pingsan motornya di tengah jalan? Jangan-jangan baru sampai separuh jalan, baterainya sudah minta pensiun dini?"

Mas Rian tertawa dengan penuh percaya diri. "Oh, jangan salah, Pak Zaki. Torsinya instan! Begitu Bapak gas, motor ini langsung melesat tanpa jeda. Tidak perlu tunggu putaran mesin naik. Ini 'Semakin di Depan' yang sesungguhnya tanpa perlu membakar bensin!"

Diskusi itu berlangsung panjang hingga melibatkan para istri. Hj. Siti dan Acil Imas keluar karena penasaran. Bukannya tertarik pada mesin, mereka malah tertarik pada bagasi motor listrik itu yang ternyata sangat luas karena tidak ada tangki bensin.

"Wah, kalau bagasinya begini, kerupuk satu karung pun masuk, Bah!" seru Acil Imas kepada Abah Zaki.

Selama hampir dua jam, Mas Rian membedah fitur-fitur motor listrik tersebut. Ia menjelaskan tentang subsidi pemerintah tahun 2025, biaya per kilometer yang hanya seratus rupiah, hingga keramahan lingkungan yang selaras dengan prinsip Khalifah fil Ardh (pemimpin di bumi) untuk menjaga alam. Haji Luqman dan Abah Zaki yang tadinya skeptis mulai goyah. Iman otomotif mereka yang selama ini terbelah antara sayap mengepak dan garpu tala kini menghadapi cobaan berat dari "setruman" teknologi baru.

Namun, di tengah presentasi yang memukau itu, terjadilah sebuah insiden kecil yang mengembalikan kesadaran mereka. Tiba-tiba listrik di kawasan Gang Rukun Roda padam. Pet! Suasana menjadi hening.

Haji Luqman melihat ke arah Mas Rian yang terdiam. "Mas Rian, kalau listrik mati seperti ini, dan baterai motor saya habis tepat saat waktu shalat berjamaah tiba, saya harus bagaimana? Apa saya harus menunggu PLN menyala baru bisa berangkat ke rumah Allah?"

Mas Rian tergapit. "Ya... eh, biasanya kan ada baterai cadangan, Pak Haji. Atau bisa pakai power bank raksasa..."

Abah Zaki tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak pemuda itu. "Nah, itulah dia, Mas Rian. Teknologi secanggih apa pun di tahun 2025 ini, tetap punya keterbatasan. Motor saya memang bising dan butuh bensin, tapi selama ada penjual bensin eceran di pinggir jalan Paringin, saya bisa melaju kapan saja tanpa takut mati lampu."

Haji Luqman menyambung dengan nada yang lebih bijak. "Mas, masa depan itu bagus, dan menjaga alam itu wajib. Tapi bagi kami yang sudah berumur ini, motor bukan sekadar alat transportasi. Honda dan Yamaha kami ini adalah saksi sejarah. Mereka punya suara, punya getaran, dan punya cerita. Menukar mereka dengan motor tanpa suara itu rasanya seperti kehilangan sahabat lama."

Akhirnya, Mas Rian pun berpamitan dengan sopan setelah memberikan kartu namanya. Setelah pemuda itu pergi dengan kesunyian motornya, Haji Luqman dan Abah Zaki kembali ke motor masing-masing. Ada rasa lega yang luar biasa ketika mereka menyalakan mesin motor konvensional mereka kembali.

"Ji," panggil Abah Zaki sambil mendengarkan deru mesin N-Max-nya. "Ternyata suara mesin ini merdu sekali ya kalau didengar setelah dua jam dengerin ceramah motor listrik?"

"Betul, Ki," jawab Haji Luqman sambil memanaskan Vario-nya. "Suara ini mengingatkan saya bahwa untuk sampai ke tujuan, memang butuh proses dan sedikit pengorbanan, bukan cuma soal colok kabel dan beres. Tapi jujur saja, tadi saya sempat naksir sedikit sama layarnya yang bisa buat nonton ceramah itu."

"Hahaha! Saya juga, Ji. Tapi sudahlah, selama Honda dan Yamaha masih bisa membawa kita ke surga lewat jalan silaturahmi, kita tetap bersaudara di atas aspal Paringin!"

Maka, "teror senyap" motor listrik pun berakhir dengan kemenangan sementara bagi dua raksasa Jepang di Gang Rukun Roda. Kehidupan kembali normal, diisi oleh perdebatan akrab tentang merk motor yang sebenarnya hanyalah cara mereka untuk terus mengikat tali persaudaraan di bawah lindungan Allah SWT.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default