Pagi itu di Puruk Cahu, cuaca sedang cerah-cerahnya. Cahaya matahari masuk menembus jendela ruang tamu keluarga Muhammad Hifni, menciptakan pendaran pelangi kecil di air akuarium Khalisah. Namun, kedamaian itu hanya bertahan sampai Rina Rufida membuka pintu belakang untuk menjemur pakaian.
Si Belang, kucing oranye milik Pak RT yang sepertinya memiliki gelar "Sarjana Pencurian Ikan", melihat sebuah celah. Dengan kelenturan tubuh yang menipu berat badannya, ia menyelinap masuk lewat pintu yang hanya terbuka sedikit. Targetnya jelas: Bubbles, si Ikan Mas Koki yang sedang asyik memakan lumut di sudut akuarium.
"Ayah! Bunda! Emergency! Danger! Code Red!" teriak Khalisah yang baru saja keluar dari kamar dengan baju tidur motif ikan.
Hifni yang sedang merapikan sepatu dinasnya langsung berlari ke ruang tengah. Ia mendapati pemandangan yang mendebarkan: Si Belang sudah berada di atas bufet jati. Kaki depannya yang berbulu tebal sedang mencoba mengais celah di antara tutup kawat ram yang baru saja dipasang Hifni kemarin.
"Belang! Turun! Itu bukan prasmanan!" seru Hifni sambil mencoba menangkap kucing itu.
Namun, Si Belang adalah kucing yang lihai. Alih-alih turun, ia justru melompat ke atas penutup kawat. Suara kriet... kriet... dari kawat yang tertekan beban kucing oranye itu membuat jantung Khalisah hampir copot. Bubbles di dalam air mulai berenang panik, menabrak dinding kaca berkali-kali.
"Bunda, the cat is on the tank! Lakukan sesuatu!" tangis Khalisah mulai pecah.
Rina Rufida datang membawa senjata andalannya: botol semprotan air berisi sedikit campuran cuka apel yang aromanya tidak disukai kucing. "Belang, don't you dare! Ini adalah pelanggaran hak asasi hewan!"
Sreet! Sreet! Rina menyemprotkan air ke arah Si Belang.
Kaget karena terkena air, Si Belang melakukan gerakan refleks yang berbahaya. Ia terpeleset, namun bukannya jatuh ke lantai, salah satu cakarnya justru tersangkut di lubang kawat ram. Akuarium itu sedikit bergeser ke arah pinggir bufet.
"Yah, pegang akuariumnya! Nanti pecah!" jerit Rina.
Hifni dengan sigap menahan sisi kaca akuarium dengan dadanya. Ini adalah momen paling heroik dalam karier Hifni sebagai PNS—menyelamatkan nyawa seekor ikan Mas Koki dari ancaman predator domestik. Dengan tangan satunya, ia mencoba melepaskan cakar Si Belang yang tersangkut.
"Meong! Hiss!" Si Belang meronta.
"Sabar, Belang. Ayah tahu kamu lapar, tapi ini teman Khalisah, bukan makanan," ucap Hifni dengan nada menenangkan, meski pelipisnya mulai berkeringat.
Setelah drama selama dua menit yang terasa seperti dua jam, cakar Si Belang berhasil dilepaskan. Kucing itu langsung melesat keluar pintu belakang dengan kecepatan cahaya, menyisakan bau bulu kucing dan beberapa tetes air di lantai.
Khalisah langsung menghambur ke arah akuarium. "Bubbles? Kamu tidak apa-apa? Are you okay?"
Bubbles tampak diam di dasar akuarium, napasnya (insangnya) bergerak cepat. Ia tampak syok. Rina segera mengambil obat antistres ikan dari laci. "Tenang, Khalisah. Bunda kasih medicine ya. Kita harus pastikan airnya tetap jernih dan tenang."
Hifni terduduk di lantai, mengelap keringat. "Sepertinya penutup kawat saja tidak cukup, Bunda. Kita harus buatkan dudukan yang lebih tinggi atau memindahkan bufet ini ke area yang tidak bisa dilompati kucing."
"Benar, Yah. Keamanan itu nomor satu," ujar Rina sambil membelai kepala Khalisah. "Dalam Islam, kita diperintahkan untuk melindungi hewan yang kita pelihara. Menjaga Bubbles dari Si Belang adalah bagian dari amanah."
Khalisah menyeka air matanya. "Aku mau telepon Tiara. Aku mau tanya, bagaimana cara dia menjaga Satria dari kucing Pujangga yang besar itu. Tiara pasti punya strategi yang lebih puitis."
Hifni dan Rina saling pandang. Pertemuan hari Sabtu di rumah Nadira Asfia kini terasa semakin mendesak. Bukan hanya soal kontes kecantikan ikan, tapi soal "pertukaran intelijen keamanan" terhadap serangan kucing. Hifni menyadari, kehidupan sebagai bapak-bapak di Puruk Cahu ternyata jauh lebih dinamis daripada sekadar mengurus berkas di kantor pemerintahan.
Tips Mengatasi Ikan Stres Setelah Gangguan Predator (SEO Optimized):
Seperti yang dialami Bubbles, ikan bisa mengalami syok setelah diganggu kucing. Gunakan Obat Antistres Ikan yang mengandung vitamin B kompleks atau ekstrak lidah buaya. Pastikan lampu akuarium dimatikan selama beberapa jam agar ikan bisa beristirahat di kegelapan yang menenangkan. Bagi Anda pemilik kucing, berikan Catnip di sudut ruangan yang jauh dari akuarium agar perhatian kucing teralih dan mereka tetap rileks tanpa harus mengganggu penghuni air.
Judul Bab Selanjutnya:
Bab 8: Muhammad Hifni dan Strategi "Anggaran Ikan" di Kantor Pemerintahan.
