Sinar matahari pagi di pertengahan Januari 2026 menyelinap masuk melalui celah gorden yang tak rapat, membentuk garis cahaya yang membelah kegelapan kamar Elena. Elena duduk bersandar pada tumpukan bantal di lantai, sebuah posisi yang sedikit mengurangi rasa sesak di dadanya. Di pangkuannya terdapat sebuah buku catatan bersampul kulit kusam—satu-satunya benda yang kini mendengarkan seluruh rahasianya.
Tangannya yang gemetar memegang pena dengan susah payah. Ujung penanya sempat ragu di atas kertas putih, sebelum akhirnya mulai menari, meninggalkan jejak tinta yang menjadi saksi bisu sisa-sisa nafasnya.
“Ya Allah,” tulisnya mengawali surat itu. “Hari ini aku menulis untuk-Mu, bukan karena aku merasa suci, tapi karena aku merasa begitu kecil hingga aku takut aku akan menghilang ditelan bumi tanpa sempat menyapa-Mu dengan benar.”
Elena berhenti sejenak, menghirup nafas panjang yang terasa tajam seperti menghirup serpihan kaca. Ia teringat masa lalunya di Sofia, saat ia masih menjadi arsitek yang ambisius, yang mengira kebahagiaan dibangun di atas beton dan kaca. Kini, ia menyadari bahwa satu-satunya bangunan yang benar-benar kokoh adalah iman yang dibangun di atas reruntuhan ego.
“Dulu aku ingin membangun gedung yang menjulang ke langit agar orang-orang di Sofia mengingat namaku,” lanjut tulisannya. “Tapi sekarang, aku hanya ingin satu hal: agar nama yang Kau berikan padaku—Layla—disebut oleh para malaikat saat aku melewati pintu-Mu. Aku tak butuh monumen di dunia ini. Aku hanya ingin sebuah sudut kecil di sisi-Mu.”
Air mata Elena jatuh, membasahi kata "Layla" di atas kertas, membuat tintanya sedikit melebar. Ia tersenyum getir. Betapa lucu manusia, pikirnya. Kita menghabiskan seluruh hidup kita untuk membuat orang lain terkesan, padahal orang-orang itu akan tetap makan dengan lahap di hari pemakaman kita. Dunia benar-benar tidak akan peduli.
“Tuhan, jika aku mati besok, biarlah dunia tetap berputar. Biarlah orang-orang di jalanan Vitosha Boulevard tetap tertawa. Aku tidak cemburu. Aku hanya ingin Kau tahu, bahwa meski aku hanya manusia biasa yang tak punya jasa besar, aku mencintai-Mu dengan seluruh sisa paruku yang sakit ini.”
Elena menutup buku itu dengan perlahan. Ia merasa kelelahan yang luar biasa, seolah-olah menulis beberapa paragraf tadi telah menguras seluruh sisa energinya untuk satu tahun. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, menatap langit-langit kamar yang mulai retak.
Ia merasa seolah-olah ia sedang berdiri di peron stasiun kereta api yang sangat sepi. Keretanya akan segera datang, dan ia tidak membawa bagasi apa pun. Tidak ada koper berisi pujian manusia, tidak ada tas berisi jabatan. Ia hanya membawa selembar tiket bernama iman, yang ia jaga dengan taruhan air mata dan pengusiran.
"Aku siap," bisiknya pada keheningan. "Aku hanya debu, dan debu ini ingin pulang kepada Pemiliknya."
Di luar, suara lonceng gereja di kejauhan bersahut-sahutan dengan deru mobil yang melintas. Dunia tetap bising, tetap sibuk, dan tetap tidak tahu bahwa seorang wanita sedang menuliskan surat cinta paling tulus di abad ini untuk Sang Pencipta.
Navigasi & Informasi untuk Pembaca:
Bab ini mengeksplorasi konsep Mahabbah (Cinta kepada Allah) dalam kesendirian. Untuk memahami lebih dalam tentang sastra sufi dan surat-surat kerinduan kepada Tuhan, Anda dapat membaca karya-karya Rabia Al-Adawiyya atau melihat artikel di The Matheson Trust.
Pantau terus kisah mengharukan ini di Bab 8: Dunia yang Terus Berjalan Tanpa Menoleh, di mana Elena melihat kenyataan bahwa hidup orang-orang di sekitarnya tidak terpengaruh sedikit pun oleh kondisinya yang kian kritis. Temukan dukungan spiritual bagi mualaf di New Muslim Care.
