Bab 8: Malam Minggu di Tugu Juang

Bab 8: Malam Minggu di Tugu Juang

Lev
0
Di Puruk Cahu, malam Minggu bukanlah tentang mal mewah atau kafe-kafe hipster yang penuh sesak. Malam Minggu adalah tentang kebersamaan lokal di pusat kota, tepatnya di sekitar Tugu Juang, sebuah monumen kebanggaan warga Murung Raya.

Setelah makan malam, Hifni, Rina, dan Khalisa bersiap. Nisa sudah request ingin naik odong-odong yang dihias lampu warna-warni yang biasa mangkal di area tugu.

"Ayah, Nisa mau naik kereta Thomas yang ada lampunya ya!" pinta Nisa, matanya berbinar.

"Siap, Putri Ayah!" balas Hifni, mengunci pintu rumah.

Mereka berjalan kaki santai menuju area tugu, menikmati udara malam Puruk Cahu yang sejuk. Jalanan tidak macet, tapi cukup ramai oleh keluarga-keluarga lain yang juga menikmati malam Minggu. Suasana Islami terasa kental; tidak ada hingar bingar musik diskotik, yang ada hanya tawa riang anak-anak dan obrolan santai orang tua.

Setibanya di area Tugu Juang, suasana makin hidup. Pedagang kaki lima menjajakan pentol bakar, sate taichan, dan minuman segar. Lampu-lampu hias dari berbagai wahana mainan anak menyala terang, menciptakan suasana pasar malam yang meriah.

Hifni segera menggendong Nisa dan mengantarnya naik ke odong-odong kereta Thomas. Rina duduk di kursi plastik di pinggir arena, mengawasi Nisa sambil tersenyum.

"Masya Allah, anak kita bahagia sekali ya, Mas," ujar Rina sambil tersenyum ke arah Hifni yang berdiri di sampingnya.

"Iya, Bun. Kebahagiaan itu ternyata bisa semurah dan sesederhana ini ya," jawab Hifni, hatinya penuh rasa syukur. Dia teringat kembali drama kantor yang sempat menguras emosinya. Semua masalah birokrasi itu terasa kecil jika dibandingkan dengan momen berharga ini.

Saat Nisa asyik berputar dengan kereta Thomas, Hifni dan Rina menikmati pentol bakar sambil mengobrol santai. Mereka membicarakan rencana masa depan, pendidikan Nisa, dan proyek inovasi pendidikan yang sedang digagas Rina di kampus STIA.

"Proyek aplikasi belajar Bahasa Inggris untuk PNS itu sepertinya bagus, Bun. Bisa bantu teman-teman di kantor Mas juga yang masih kaku banget bahasa Inggrisnya," usul Hifni.

"Iya, Mas. Rina lagi susun proposalnya. Doakan lancar ya, biar bisa jadi program unggulan kampus," jawab Rina penuh harap.

Tak lama, Toni si Lurah muda dan Mbak Sarah istrinya lewat di depan mereka, juga sedang jalan-jalan santai tanpa anak—karena anak mereka masih bayi.

"Wah, quality time nih Pak Hifni, Bu Rina!" sapa Toni.

"Kalah dong kita, Mas Toni. Kita malah jalan berdua kayak ABG pacaran," timpal Mbak Sarah sambil terkikik.

Mereka pun mengobrol sebentar, bertukar cerita ringan tentang tetangga baru, Pak Rahman, dan keunikan-keunikan kecil kehidupan di Puruk Cahu. Interaksi sosial yang hangat dan spontan seperti ini adalah esensi dari kehidupan bermasyarakat di sana.

Setelah Nisa puas naik odong-odong, Hifni membelikannya gulali bentuk bunga. Wajah Nisa belepotan gula, tapi dia terlihat sangat bahagia.

"Ayah, Bunda, lihat! Bunga pink besar!" seru Nisa, bangga dengan gulalinya.

Mereka pun berjalan pulang, perlahan meninggalkan keramaian Tugu Juang. Di perjalanan pulang, Hifni menggenggam tangan Rina, sementara Nisa berjalan di tengah mereka sambil memakan gulalinya.

Bintang-bintang di langit Puruk Cahu malam itu terasa lebih terang. Bagi Hifni dan Rina, malam Minggu di Tugu Juang ini adalah refleksi kebahagiaan mereka saat ini.

Mereka telah menemukan ritme hidup yang seimbang. Pagi hingga sore berdedikasi sebagai abdi negara, berkutat dengan angka, birokrasi, dan pendidikan. Malam dan akhir pekan didedikasikan sepenuhnya untuk keluarga dan kehidupan sosial yang Islami.

Mereka bahagia. Kebahagiaan yang tidak diukur dari seberapa cepat mereka mendapat promosi atau seberapa besar gaji yang masuk rekening, tetapi dari ketenangan hati, kebersamaan keluarga, dan kemampuan untuk bersyukur atas setiap nikmat kecil di "Kota Emas" ini.

Babak pertama kehidupan mereka di Puruk Cahu berakhir malam itu, ditutup dengan senyum tulus dan rasa damai yang mendalam. Babak baru yang akan membawa mereka kembali ke kenangan masa lalu, ke awal mula kisah cinta mereka di Banjarmasin dan KKN di Pelaihari, siap untuk dimulai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default