Bab 9: Keheningan Pantai Pagatan: Mengenang Sejarah dan Nelayan Setempat

Bab 9: Keheningan Pantai Pagatan: Mengenang Sejarah dan Nelayan Setempat

Lev
0
Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Tanah Bumbu, area yang lebih jauh ke arah tenggara Kalimantan Selatan. Tujuan berikutnya adalah Pantai Pagatan, sebuah pantai legendaris yang terkenal dengan pesta adat tahunannya, Mappanretasi (pesta laut).

Jalanan menuju Pagatan terasa lebih mulus dan modern, menunjukkan geliat ekonomi di wilayah ini. Suasana di mobil kembali ceria, Zahra memutar lagu-lagu Islami yang upbeat, membuat suasana perjalanan semakin menyenangkan.

Mereka tiba di Pagatan saat sore hari. Pantai ini berbeda lagi. Hamparan pasir putih kecokelatan yang panjang, deretan pohon cemara udang, dan puluhan perahu nelayan yang bersandar rapi di tepi pantai menciptakan panorama khas kehidupan pesisir.

"Wah, ini baru namanya pantai nelayan sejati," kata Faris, matanya langsung fokus pada perahu-perahu dengan warna cerah yang berjejer. "Bagus banget buat foto human interest."

Meskipun bukan saat festival Mappanretasi, suasana pantai tetap hidup. Puluhan nelayan terlihat sibuk memperbaiki jaring, menambal perahu, atau sekadar berkumpul di lapak-lapak sederhana.

Lev, yang semakin terbuka dengan interaksi sosial, mengajak Faris untuk mendekati salah satu kelompok nelayan yang sedang sibuk. Aisyah dan Zahra memilih untuk duduk di gazebo yang tersedia, mengamati kehidupan sekitar.

"Assalamualaikum, Pak," sapa Lev ramah kepada seorang nelayan paruh baya yang sedang serius menambal jaringnya.
"Waalaikumsalam, Nak. Dari mana?" jawab bapak itu, ramah, dengan logat Banjar yang kental.

Lev menjelaskan tujuan mereka, dan si bapak nelayan yang bernama Pak Saleh itu pun tersenyum. Dia dengan senang hati berbagi cerita tentang kehidupan nelayan di Pagatan, tentang tradisi Mappanretasi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas hasil laut, dan tantangan yang mereka hadapi setiap harinya.

"Hidup di laut ini keras, Nak. Tapi kita selalu bersyukur. Rezeki itu Allah yang atur. Yang penting kita usaha maksimal, salat jangan ditinggal, biar hidup berkah," tutur Pak Saleh dengan bijak.

Kata-kata sederhana dari seorang nelayan itu menohok hati Lev. Dia yang selama ini merasa hidupnya penuh masalah, tersadar betapa tulusnya rasa syukur Pak Saleh yang hidupnya jauh lebih sederhana darinya.

Sementara itu, di gazebo, Aisyah dan Zahra melihat banyak sampah berserakan di sekitar tempat duduk mereka. Tanpa dikomando, mereka mengeluarkan kantong plastik dan mulai membersihkan area tersebut. Beberapa anak lokal yang sedang bermain di dekat situ penasaran dan ikut membantu.

"Kita belajar dari Muara Kintap, Aisyah. Kebersihan itu sebagian dari iman!" seru Zahra ceria, mengajari anak-anak kecil itu untuk membuang sampah pada tempatnya.

Faris, yang kembali dari memotret, terkesan dengan inisiatif Aisyah dan Zahra. Dia mengabadikan momen kebersamaan mereka dengan anak-anak lokal yang sedang membersihkan pantai.

Saat sore mulai berganti malam, mereka berkumpul kembali. Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal di Pagatan memberikan pelajaran berharga tentang kearifan lokal yang bernuansa Islami. Mereka belajar menghargai kehidupan sederhana, kerja keras, dan pentingnya bersyukur dalam setiap keadaan.

"Waktu kita sempit di dunia, manfaatkan untuk hal yang bermanfaat, kayak Pak Saleh tadi," kata Lev, matanya penuh inspirasi.

Mereka memutuskan untuk menginap di penginapan terdekat di Pagatan untuk melanjutkan perjalanan esok harinya. Pantai Pagatan, dengan sejarah panjangnya dan kehidupan nelayan yang bersahaja, telah menorehkan hikmah baru dalam perjalanan spiritual mereka.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default