BAB 4: Filosofi Taksi Kuning dan Luka yang Belum Kering

BAB 4: Filosofi Taksi Kuning dan Luka yang Belum Kering

Lev
0
"Sebuah Novel Islami bertema Slice of Life yang menguras air mata. Mengisahkan Hamzah, mahasiswa di Teheran, Iran, yang terpaksa melepaskan tunangannya karena merasa belum mampu membahagiakan dirinya sendiri. Ikuti perjalanan sad & komedi Hamzah menemukan arti self-love sebelum menjemput kembali cintanya.



Teheran adalah kota di mana garis antara kemewahan dan kemiskinan dipisahkan oleh satu tanjakan jalan. Hamzah berjalan menyusuri trotoar yang miring di area Darband, tempat di mana udara pegunungan mulai terasa lebih murni, namun tetap saja paru-parunya terasa berat. Bukan karena polusi, melainkan karena bayangan Zahra dan pria dokter itu yang terus menari di pelupuk matanya sejak kejadian di Bazar Tajrish kemarin.

Komedi di Dalam Taksi Kuning (Shared Taxi)

Untuk menghemat energi, Hamzah memutuskan naik Taxi Khate—taksi kuning berbagi rute yang sangat umum di Iran. Di dalamnya sudah ada tiga orang penumpang: seorang ibu-ibu paruh baya dengan chador yang sibuk mengupas jeruk, seorang pemuda yang mendengarkan musik rap Parsi dengan volume kencang, dan sang supir yang wajahnya tampak lebih stres daripada mahasiswa tingkat akhir.

"Agha, ke arah Metro Gholhak?" tanya Hamzah.

Supir itu hanya mengangguk singkat. Di tengah kemacetan yang luar biasa, si ibu tiba-tiba menyodorkan sepotong jeruk kepada Hamzah.

"Makanlah, Nak. Wajahmu pucat sekali. Kamu seperti orang yang belum makan tiga hari atau baru diputuskan tunangan," ujar ibu itu tanpa dosa.

Hamzah tersedak ludahnya sendiri. Apakah wajah patah hati memang memiliki pola yang seragam secara universal? batinnya.

"Terima kasih, Khanum (Nyonya). Saya hanya... sedang kurang tidur," jawab Hamzah mencoba sopan.

"Jangan bohong," timpal si supir taksi tiba-tiba sambil membunyikan klakson dengan beringas. "Dulu saat aku muda, aku juga kehilangan kekasihku karena aku tidak punya uang untuk membeli rumah di Teheran Utara. Sekarang lihat aku? Aku punya taksi, punya istri yang galak, dan punya asam lambung. Hidup akan berlanjut, Nak! Jangan biarkan hatimu menghalangi jalan orang lain."

Hamzah hanya bisa tertegun. Di Teheran, supir taksi adalah filsuf jalanan yang tidak butuh gelar doktor untuk mendiagnosa masalah hidup seseorang.

Melepaskan: Antara Sadar dan Lupa

Turun dari taksi, Hamzah berjalan menuju perpustakaan kampus. Ia mencoba fokus pada tesisnya tentang "Sejarah Pemikiran Islam di Persia", namun setiap kali ia membaca kata 'cinta' atau 'pengabdian' dalam teks-teks klasik, ingatannya terlempar pada Zahra.

Ia seringkali melupakan bahwa ia telah melepaskan Zahra. Secara fisik, mereka sudah tidak terikat, namun secara mental, Hamzah masih sering ingin mengirimkan foto kucing lucu atau mengeluhkan cuaca dingin pada gadis itu.

Aku melupakan bahwa aku telah melepaskanmu karena aku sendiri belum bisa membahagiakan kehidupanku sendiri, tulis Hamzah secara tidak sadar di pinggir buku catatannya.

Ia menyadari sebuah kebenaran pahit: Banyak orang melepaskan orang lain karena faktor eksternal, tapi Hamzah melepaskan Zahra karena faktor internal. Ia merasa dirinya adalah "beban" bagi dirinya sendiri. Jika ia tetap bersama Zahra, ia takut akan menjadikan Zahra sebagai pelampiasan atas ketidakmampuannya mengelola emosi dan finansial.

Pertemuan Canggung yang Tak Terhindarkan
Saat hendak keluar dari area kampus, takdir kembali memainkan leluconnya. Di depan gerbang utama, sebuah mobil sedan putih bersih berhenti. Dari pintu kemudi, keluarlah pria jangkung yang ia lihat kemarin—si dokter muda. Dan dari kursi penumpang, Zahra turun.

Hamzah membeku di balik pilar gerbang. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah tertanam di beton.

Zahra tampak sedang mencari sesuatu di tasnya, sementara si pria itu tersenyum dengan sangat tulus—tipe senyum orang yang tidak punya tanggungan utang dan memiliki masa depan cerah. Pria itu menyentuh pundak Zahra pelan, mengingatkan sesuatu, lalu berpamitan.

Dari jarak sepuluh meter, Hamzah bisa melihat perbedaan yang mencolok. Jika Zahra bersamanya, mereka biasanya berjalan kaki atau berdesakan di bus, dengan Hamzah yang terus mengeluh tentang harga roti yang naik. Namun bersama pria itu, Zahra tampak... tenang. Tidak ada kekhawatiran yang terpancar dari wajahnya.

Maaf, Zahra. Semoga kau benar-benar bahagia dengan dia, bisik Hamzah dalam hati.

Komedi Getir di Akhir Hari

Malamnya, Hamzah kembali ke asrama dengan perasaan yang sedikit lebih hancur dari pagi tadi. Ali, teman sekamarnya, sedang sibuk memakai masker wajah dari lumpur Laut Mati yang ia beli secara diskon.

"Li, kamu tahu apa yang lebih sakit daripada melihat mantan tunangan diantar pria lain?" tanya Hamzah sambil merebahkan diri.

Ali menoleh, wajahnya yang penuh lumpur hijau tampak mengerikan. "Apa?"

"Melihat pria itu lebih tampan, lebih kaya, dan punya mobil yang AC-nya pasti dingin."

Ali tertawa sampai maskernya retak. "Itu namanya kenyataan, Hamzah! Makanya, berhentilah menjadi filsuf galau. Besok aku akan membawamu ke pasar malam di Ab-o-Atash Park. Kita cari makan gratis di pembukaan restoran baru milik sepupuku. Siapa tahu ada janda kaya yang tertarik pada mahasiswa melankolis sepertimu."

Hamzah melemparkan bantal ke arah Ali. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tertawa sedikit lebih lepas. Melepaskan itu sakit, tapi melihat dirinya sendiri mencoba bangkit di tengah kekonyolan hidup di Teheran ternyata memberikan harapan kecil.

Ia akan belajar membahagiakan dirinya sendiri—dimulai dengan berhenti membandingkan motor bututnya dengan mobil sedan pria itu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default