Healing di Gili Air Lombok: Wisata Halal NTB, Snorkeling Tenang, dan Kehidupan Lokal Sasak | Destinasi Indonesia
Empat sahabat menyeberang ke Gili Air, Lombok, untuk mencari ketenangan setelah hiruk pikuk Jawa. Bab ini menyajikan suasana santai tanpa kendaraan bermotor, pesona pantai yang damai, dan refleksi Islami tentang kesederhanaan hidup.
Dari hiruk pikuk daratan Jawa, empat sahabat kita kembali menyeberang lautan, kali ini menuju Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya ke Gili Air. Salah satu dari tiga Gili (Trawangan, Meno, Air), Gili Air dipilih karena suasananya yang paling tenang, menawarkan keseimbangan sempurna antara keramaian santai Gili Trawangan dan kesunyian Gili Meno.
Sesampainya di pelabuhan Bangsal, mereka menaiki perahu umum menuju Gili Air. Aturan utama di Gili adalah tidak ada kendaraan bermotor; transportasi utama adalah sepeda atau cidomo (kereta kuda). Suasana ini langsung menciptakan ritme hidup yang lebih lambat dan damai.
"Ah, akhirnya bisa menghirup udara tanpa polusi knalpot lagi," ujar Candra lega, sambil mengamati sepeda sewaan yang akan mereka gunakan selama di sana.
"Gue sewa cidomo aja deh, biar kayak bangsawan liburan," celetuk Bashir. Namun, setelah tahu harga sewanya, ia langsung beralih ke sepeda. "Ya sudahlah, sehat itu murah, sepeda aja."
Gili Air menawarkan pesona pantai yang berbeda. Pasirnya putih bersih, airnya sangat jernih, dan ombaknya tenang karena terlindung oleh Pulau Lombok. Suasana di sini didominasi oleh kafe tepi pantai, penginapan mungil, dan pohon kelapa yang melambai.
Hari itu dihabiskan dengan santai. Aziz, untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, memilih untuk tidak terlalu serius memotret. Ia hanya berjalan santai di pinggir pantai, menikmati momen.
Dani dan Candra mencoba stand-up paddleboarding di laut yang tenang, sementara Bashir mencoba snorkeling di area turtle point, berharap bisa bertemu penyu lagi.
"Dapat penyu nggak, Bash?" tanya Aziz saat Bashir naik dari air.
"Dapat! Tadi aku sapa 'Assalamualaikum, Bro Penyu', dia balas 'Waalaikumsalam, Bro Bashir' sambil dadah-dadah," cerita Bashir, membuat Aziz dan Candra tertawa.
Malam harinya, mereka makan malam di sebuah restoran halal yang menyajikan hidangan khas Sasak, ayam taliwang. Sambil makan, mereka berdiskusi tentang kehidupan di Gili Air.
Mayoritas penduduk di sini adalah Suku Sasak, dan sebagian besar beragama Islam. Suasana Islami terasa kental. Suara azan dari masjid lokal terdengar merdu, mengingatkan mereka akan kewajiban ibadah di tengah healing yang santai.
"Di sini, kita bisa lihat Islam yang santai, membaur sama pariwisata, tapi tetap kuat," ujar Dani. "Mereka bisa menyediakan suasana yang nyaman untuk semua turis, tapi identitas keislaman mereka tetap terjaga."
Mereka juga belajar tentang manajemen sampah di Gili Air, sebuah tantangan besar bagi pulau kecil yang ramai turis. Warga lokal memiliki inisiatif mandiri untuk mengelola sampah plastik, sebuah contoh kehidupan bermasyarakat yang peduli lingkungan.
"Ini terkait dengan iman lagi, Can," kata Dani kepada Candra. "Menjaga kebersihan lingkungan kita, baik di darat maupun di laut, adalah tanggung jawab kolektif. Allahumma inni a'udzu bika minal khubutsi wal khaba'its (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan), doa ini tidak hanya soal kebersihan diri, tapi juga lingkungan sekitar."
Bashir yang sudah kenyang ayam taliwang, menyela, "Setan di sini paling cuma setan yang goda kita makan seafood kebanyakan."
Tawa kembali pecah. Gili Air memang memberikan suasana yang ringan dan menyenangkan.
Keesokan paginya, sebelum check out, mereka menyempatkan diri salat Subuh berjamaah di masjid lokal. Berbaur dengan warga setempat yang ramah dan khusyuk beribadah memberikan ketenangan tersendiri.
Gili Air mengajarkan mereka tentang keseimbangan hidup: bekerja keras, beribadah dengan khusyuk, berinteraksi sosial dengan baik, dan beristirahat menikmati alam ciptaan Allah. Mereka meninggalkan Gili Air dengan hati yang lebih ringan, siap untuk destinasi selanjutnya di ujung barat Indonesia.
