Bab 8: Ketika Mertua Datang Mengunjungi: Momen Canggung dan Berkah

Bab 8: Ketika Mertua Datang Mengunjungi: Momen Canggung dan Berkah

Lev
0

Hari Rabu sore, suasana di rumah Hifni dan Rina sedikit berbeda dari biasanya. Ada nuansa tegang yang samar, bercampur dengan antusiasme. Pasalnya, sore ini, orang tua Rina—Abah Usman dan Ummi Salamah—akan datang dari Banjarmasin untuk menginap beberapa hari.

Abah Usman adalah pensiunan kepala sekolah SD yang sangat disiplin dan berwibawa, sementara Ummi Salamah adalah tipikal ibu mertua Banjar yang ramah tapi juga sangat detail dalam urusan rumah tangga dan agama.

Rina sudah sibuk sejak pagi, memastikan rumah dinasnya bersih mengkilap. Karpet disapu ulang, dapur diinspeksi, dan baju-baju Hifni yang masih tergantung di jemuran belakang segera diangkat. Hifni sendiri juga terlihat sedikit gugup. Meskipun sudah bertahun-tahun menikah, Hifni masih merasa segan dengan mertuanya yang terhormat itu.

"Abi, ini handuk tamu warna biru ndak ada di lemari?" tanya Rina panik, memeriksa lemari linen.

"Ada, Ummi. Tadi Abi cuci, masih dijemur di belakang. Kering kok, panas Barabai kan luar biasa," jawab Hifni sambil merapikan koran-koran bekas di meja tamu.

Khalisa, si kecil, malah terlihat paling santai. Dia sudah excited akan kedatangan Kai (kakek) dan Nini (nenek)-nya yang selalu membawakannya oleh-oleh.

Tepat pukul 16.00 WITA, sebuah mobil Kijang Innova hitam berhenti di depan rumah mereka. Rina dan Hifni segera keluar menyambut.

"Assalamualaikum!" sapa Abah Usman dan Ummi Salamah dari dalam mobil.

"Wa'alaikumussalam Warahmatullah," balas Hifni dan Rina serempak.

Khalisa langsung berlari memeluk Nini Salamah yang turun lebih dulu. "Nini! Kai!" pekiknya riang.

Abah Usman, dengan peci putih khasnya dan kemeja batik rapi, turun dari mobil dengan senyum berwibawa. Hifni segera menyalami tangan mertuanya dengan takzim, mencium punggung tangannya.

"Apa kabar, Nak Hifni?" tanya Abah Usman.

"Alhamdulillah baik, Abah. Sehat selalu," jawab Hifni.

Mereka masuk ke dalam rumah. Ummi Salamah langsung melakukan "inspeksi" mata ke sekeliling ruangan, sementara Rina mempersilakan duduk dan menawarkan minuman.

"Rumahmu rapi sekali, Nak Rina," puji Ummi Salamah, membuat Rina sedikit lega.

"Alhamdulillah, Ummi. Biasa aja kok," Rina tersenyum.
Obrolan santai pun dimulai di ruang tamu. Abah Usman mulai menanyakan kabar pekerjaan Hifni di Dinas Tata Ruang.

"Jadi, proyek perumahan subsidi itu bagaimana, Hifni? Kabarnya ada sedikit masalah perizinan?" tanya Abah Usman. Sebagai pensiunan yang aktif di berbagai organisasi masyarakat di Banjarmasin, Abah Usman cukup update dengan isu-isu lokal, termasuk drama Pak Herman dan amplop coklatnya.

Hifni sedikit terkejut topiknya langsung to the point begitu. Ia melirik Rina, yang hanya mengangkat bahu.

"Alhamdulillah sudah beres, Abah. Kami jalankan sesuai prosedur yang berlaku. Prinsip kami di kantor, integritas nomor satu," jawab Hifni mantap, sedikit bangga dengan dirinya sendiri karena berhasil menolak suap.

Abah Usman tersenyum, matanya memancarkan kebanggaan. "Bagus itu, Nak. Abah senang dengarnya. Jadi PNS itu amanah. Gaji sedikit ndak masalah, asal berkah. Jangan sampai termakan godaan duniawi yang mencabut keberkahan."

Rina yang mendengar itu tersenyum simpul. Ternyata Abah Usman sudah tahu ceritanya dari Rina via telepon sebelumnya. Rina memang selalu curhat pada ibunya soal dilema yang dihadapi suaminya.

Malam harinya, suasana makan malam terasa sedikit canggung. Hifni merasa setiap kunyahannya diawasi oleh Abah Usman yang duduk di sebelahnya.

"Nak Hifni, katanya di Barabai ini terkenal dengan apamnya yang manis?" tanya Ummi Salamah, mencoba mencairkan suasana.

"Iya, Ummi. Tadi sore kami lupa beli. Besok pagi Hifni belikan yang paling enak di pasar subuh," janji Hifni.

"Jangan repot-repot, Nak. Ummi cuma nanya aja," balas Ummi Salamah.

Setelah makan malam, Abah Usman meminta Hifni untuk menjadi imam salat Isya berjamaah di ruang tengah. Momen ini selalu menjadi ujian bagi Hifni. Menjadi imam di depan mertua yang alim, rasanya deg-degan melebihi saat presentasi di depan Kepala Dinas.

Hifni memimpin salat dengan suara yang sedikit bergetar di takbir pertama, tapi perlahan menjadi lebih tenang dan khusyuk. Bacaannya tartil dan fasih.

Setelah salat, Abah Usman menepuk pundak Hifni. "Bagus bacaanmu, Nak Hifni. Abah suka. Teruskan jadi imam di musala komplek ya."

Pujian itu membuat Hifni merasa lega luar biasa. Ketegangan yang menyelimutinya sejak sore tadi lenyap. Mertuanya ternyata sangat suportif dan baik hati.

Malam itu, sebelum tidur, Rina dan Hifni berdiskusi di kamar mereka.

"Abi lihat kan, Abah sama Ummi itu baik banget," kata Rina.
"Iya, Ummi. Abi tadi nervous banget, takut salah ngomong atau salah jadi imam," aku Hifni jujur.

"Mereka itu cuma pengen lihat kita hidup rukun, berkah, dan istiqomah di jalan Allah, Bi," Rina menjelaskan. "Mereka ndak peduli kita punya jabatan apa di kantor, yang penting kita jadi orang baik."

Kunjungan mertua yang awalnya terasa canggung berubah menjadi momen yang penuh berkah dan nasihat bijak. Kehadiran Abah Usman dan Ummi Salamah seolah menjadi pengingat bagi Hifni dan Rina akan nilai-nilai luhur dalam berkeluarga dan bermasyarakat, menguatkan kembali fondasi Islami yang mereka bangun bersama di rumah sederhana mereka di Barabai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default